SURAKARTA - Dua pria yang sama-sama berasal dari Ngawi bertemu di sebuah ruang pertemuan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Pertemuan itu awalnya berlangsung formal. Namun, obrolan segera mencair ketika keduanya saling menyapa dan mengetahui memiliki tanah kelahiran yang sama.
Salah satunya adalah Direktur Jawa Pos Radar Tulungagung, Aris Sudanang.
Sementara di hadapannya ada Profesor Dr Joko Nurkamto, M.Pd, Ketua Dewan Profesor UNS Periode 2025–2029.
Pertemuan berlangsung Senin (14/9/2026), dalam kunjungan jajaran manajemen Jawa Pos Radar Tulungagung ke Dewan Profesor UNS.
Direktur yang hobi nggowes itu tidak datang sendirian. Ia didampingi Manajer Keuangan Radar Tulungagung Widyaning Setya Rahayu, Manajer Digital Radar Tulungagung Anggi Septian, serta Sekretaris Perusahaan Radar Tulungagung Jesika Ajeng.
Selain Profesor Joko, hadir pula mendampingi Prof. Dr. Hanik Liskustyawati, M.Kes., AIFO, yang menjabat Sekretaris Dewan Profesor UNS.
Suasana akrab langsung terasa ketika Aris dan Profesor Joko berbincang. Perkenalan berkembang menjadi percakapan tentang daerah asal, pengalaman, hingga berbagai perubahan yang sedang terjadi di dunia masing-masing.
Dari obrolan ringan, pembahasan kemudian masuk ke pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana koran hari ini masih bisa bertahan?
Pertanyaan itu menjadi pintu masuk untuk membicarakan perubahan industri media.
Aris menjelaskan koran hari ini dapat tetap eksis karena mampu bertransformasi.
"Radar-radar di berbagai daerah yang berada di bawah Jawa Pos Group terus bergerak menuju ekosistem digital," ujar alumni Universitas Padjajaran tersebut.
Transformasi tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan perilaku masyarakat dalam memperoleh informasi.
Apalagi perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini berlangsung begitu masif.
Pembahasan tentang AI pun mendapat respons dari Profesor Joko.
Profesor Joko mengungkapkan bahwa AI juga sudah digunakan dalam aktivitasnya, termasuk secara pribadi. Menurutnya, teknologi tersebut sangat membantu.
“AI bukan masa depan, AI adalah hari ini. AI adalah keniscayaan,” ujar Presiden TEFLIN periode 2014-2021.
Dikutip dari laman teflin.org, TEFLIN (The Association for the Teaching of English as a Foreign Language in Indonesia) merupakan organisasi profesi guru, dosen, dan pengajar bahasa Inggris terbesar serta tertua di Indonesia.
Namun, kecanggihan teknologi tidak lantas membuat manusia boleh melepaskan tanggung jawab. Justru sebaliknya, penggunaan AI harus tetap disertai etika dan tanggung jawab.
Profesor Joko menekankan pentingnya kurasi manusia dalam pemanfaatan AI. Input maupun output yang dihasilkan AI tetap perlu dikurasi oleh manusia.
Pandangan tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perbincangan.
"Teknologi dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi manusia tetap menjadi pihak yang menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab," kata pria yang telah menerbitkan 81 karya berupa jurnal, seminar dan buku.
Kaget Mendengar Jejaring Digital Jawa Pos
Aris kemudian memaparkan perkembangan Jawa Pos Group di ranah digital. Saat ini, Jawa Pos memiliki delapan lima website yang berada dalam satu naungan Jawa Pos Group.
Jumlah tersebut membuat Profesor Joko memberikan respons spontan.
“Wah, ini jejaring yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Obrolan pun semakin hangat. Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam lebih itu tidak hanya menjadi kesempatan bagi Radar Tulungagung untuk bertukar pandangan mengenai dunia media.
Aris juga memperoleh wawasan baru mengenai keberadaan Dewan Profesor di perguruan tinggi. Dari perbincangan tersebut, ia mengetahui lebih jauh bahwa para guru besar memiliki perkumpulan dan wadah yang disebut Dewan Profesor atau Dewan Guru Besar.
Sebaliknya, Profesor Joko dan Prof. Hanik mendapatkan insight mengenai dunia kewartawanan dan kejurnalistikan, termasuk bagaimana media di bawah Jawa Pos Group beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan bergerak menuju digital.
Suasana semakin santai ketika rombongan disuguhi sajian dari UNS Food. Menu yang disajikan merupakan makanan sehat, mulai edamame, anggur muskat, semangka, hingga sajian yang menyerupai puding.
Percakapan pun terus berlangsung dalam suasana akrab. Tidak terasa, waktu sekitar satu jam lebih terlewati dalam pertukaran gagasan antara dunia akademik dan industri media.
Setelah mendapatkan wawasan dari kedua belah pihak, rombongan Radar Tulungagung berpamitan. Foto bersama menjadi penutup kunjungan sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke agenda berikutnya.
Pertemuan itu meninggalkan lebih dari sekadar dokumentasi kunjungan. Ada pertukaran perspektif antara dunia akademik dan media, dari memahami peran Dewan Profesor hingga membicarakan masa depan industri pers di tengah derasnya perkembangan AI.
Di Surakarta, dua putra Ngawi bertemu. Dari sebuah sapaan tentang kampung halaman, percakapan kemudian melebar menjadi diskusi tentang bagaimana manusia, media, dan teknologi harus berjalan bersama menghadapi perubahan zaman.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.