
TULUNGAGUNG - Bagi Nina Audina, olahraga bukan sekadar aktivitas untuk menjaga kebugaran. Perempuan asal Dusun Candi, Desa Talang, Kecamatan Sendang, Tulungagung, itu menemukan kepercayaan diri dan kemandirian dari kegemarannya berlari hingga mendaki gunung.
Kegemaran terhadap aktivitas fisik sebenarnya sudah muncul sejak Nina masih kecil. Namun, kebiasaan berolahraga secara rutin mulai dijalani pada 2025, ketika berat badannya sempat naik turun dan kondisi fisiknya kurang stabil.
Lari kemudian dipilih sebagai salah satu aktivitas untuk menjaga kondisi tubuh sekaligus menjalankan program diet.
Nina juga sesekali melakukan workout di rumah untuk memperkuat tubuh agar tidak mudah lelah maupun pegal saat menjalani aktivitas.
Baca Juga: Kostum Robot Tulungagung Tembus Belgia dan AS, Dibuat dari Bahan Sandal Jepit
“Dari kecil saya memang suka kegiatan fisik seperti olahraga. Ditambah kondisi fisik saya yang terbilang gemuk. Jadi, sebagai salah satu program diet, saya rutin melakukan running,” ujarnya.
Memasuki 2026, Nina mencoba aktivitas baru dengan mendaki gunung. Ketertarikannya bermula dari ajakan teman yang kemudian mendapat dukungan keluarga.
Pengalaman tersebut membuat Nina semakin menikmati aktivitas olahraga di luar ruangan. Lari dan mendaki pun menjadi bagian dari rutinitas yang tidak hanya berkaitan dengan kebugaran, tetapi juga memberikan pengalaman baru baginya.
Menjadi perempuan yang aktif berolahraga di luar ruangan tetap memiliki tantangan tersendiri bagi Nina. Salah satunya berkaitan dengan pemilihan pakaian yang nyaman digunakan bergerak sekaligus sesuai dengan prinsip berpakaian yang dipegang sebagai seorang muslimah.
Baca Juga: Berawal dari Iseng, Naila Raih Dua Medali di Olimpiade Biologi dan LKTI
Aktivitas lari maupun mendaki membuat tubuh banyak bergerak. Karena itu, Nina perlu mempertimbangkan pakaian yang tetap mendukung aktivitas fisik tanpa mengabaikan prinsip yang diyakininya.
“Sebagai seorang muslimah memang kurang nyaman, apalagi dari segi pakaian. Karena pasti banyak pergerakan tubuh, jadi harus pintar-pintar bagaimana aurat tidak terumbar dan tetap bisa intens dalam berolahraga,” katanya.
Selain persoalan pakaian, rasa malas juga menjadi tantangan lain. Menurut Nina, menjaga konsistensi olahraga membutuhkan kemauan untuk melawan rasa mager dan tetap memulai aktivitas meski tubuh terkadang ingin beristirahat.
Kebiasaan tersebut perlahan ikut memengaruhi cara pandangnya terhadap dirinya sendiri sebagai perempuan.
Dari lari dan mendaki, Nina semakin percaya bahwa perempuan dapat memiliki kekuatan, kepercayaan diri, sekaligus kemandirian.
Baca Juga: Dua Putra Ngawi Bertemu di Dewan Profesor UNS, Obrolan Mengalir dari Koran hingga AI
Bagi Nina, aktivitas fisik juga memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar menjaga kondisi tubuh. Lari dan mendaki membuatnya memiliki pandangan bahwa perempuan tidak harus selalu bergantung pada kekuatan orang lain.
“Bagi saya, berlari dan mendaki menjadi salah satu hal yang membuat saya memiliki pola pikir bahwa perempuan juga bisa kuat seperti laki-laki, percaya diri seperti laki-laki. Bukan perempuan yang lemah dan hanya mengandalkan kekuatan laki-laki,” ungkapnya.
Keyakinan tersebut kemudian ia pegang dalam sebuah kalimat sederhana yang menggambarkan pandangannya terhadap diri sendiri.
“Saya berani, saya kuat, dan saya bisa mandiri,” tegas Nina.
Kini, lari dan mendaki tidak hanya menjadi hobi maupun bagian dari upaya menjaga kebugaran. Keduanya juga menjadi ruang bagi Nina untuk menyegarkan pikiran setelah menjalani rutinitas pekerjaan.
Aktivitas olahraga bahkan ia jadikan sebagai sarana refreshing atau healing. Ketika tubuh lelah setelah bekerja, olahraga justru dapat membantu meredakan rasa lelah sekaligus membuat pikiran lebih jernih.
“Selain sekadar hobi, lari dan mendaki saya jadikan media refreshing atau healing. Bisa menjernihkan pikiran. Bahkan ketika badan lelah karena kerja, olahraga bisa meredakan rasa lelah tersebut,” pungkasnya.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri