TULUNGAGUNG - Dua kali gagal menanam cabai tidak membuat Ikhwannudin Bagas Ramadhani meninggalkan sawah.
Pemuda asal Desa Kepuhrejo, Kecamatan Ngantru, itu justru semakin tertantang untuk menaklukkan dunia pertanian yang sejak kecil sudah dikenalnya.
Ikhwannudin tumbuh dari keluarga petani. Sejak kecil, sawah menjadi tempatnya membantu orang tua. Namun, ketertarikannya untuk mengelola pertanian sendiri baru muncul pada 2021.
Saat itu, dia memberanikan diri menanam cabai meski belum memiliki bekal ilmu pertanian yang memadai. Hasilnya justru menjadi pengalaman pahit pertama.
Tanaman cabainya terserang virus Gemini hingga gagal panen total. Kondisi itu terasa semakin ironis karena harga cabai saat itu sedang tinggi.
Baca Juga: Musik Gemilang Juara Pare Musik Fest Jatim, Jarak Tak Halangi Enam Pelajar Latihan
“Saya memberanikan diri menanam cabai pada 2021 tanpa bekal ilmu sama sekali. Hasilnya, saya gagal panen total karena terserang virus Gemini,” tuturnya.
Kegagalan tersebut tidak membuat Ikhwannudin berhenti. Setahun kemudian, dia kembali mencoba menanam cabai dengan harapan hasil yang lebih baik.
Namun, percobaan kedua juga berakhir gagal. Kali ini bukan serangan penyakit tanaman yang menjadi penyebab, melainkan lahan yang kebanjiran.
Untuk kedua kalinya, modal dan tenaga yang dikeluarkan tidak menghasilkan panen. Meski begitu, pengalaman tersebut justru membuatnya belajar dan mencari cara agar kesalahan serupa tidak kembali terjadi.
“Saya coba lagi di 2022, tapi kembali gagal karena lahan kebanjiran. Dua kali gagal tidak membuat saya mundur. Semangat saya justru semakin bergejolak,” ujarnya.
Baca Juga: Salwa Sauda Salsabila Manfaatkan Media Sosial untuk Hidup Sehat dan Promosi UMKM
Kesempatan berikutnya datang pada 2023. Ikhwannudin kembali menanam cabai dengan bekal pengalaman dari dua kegagalan sebelumnya.
Kali ini, usahanya membuahkan hasil. Tanaman cabai berhasil dipanen dengan hasil yang memuaskan.
Dari panen tersebut, Ikhwannudin mulai belajar mengelola keuangan usaha tani secara mandiri.
Jika sebelumnya modal bertani masih dibantu orang tua, perlahan dia mampu memutar hasil pertanian untuk menjadi modal penanaman berikutnya.
“Saya memilih menjadi petani karena peluang itu ada di depan mata. Orang tua saya juga petani. Awalnya saya hanya iseng membantu orang tua di sawah, tapi lama-lama saya tertarik,” katanya.
Baca Juga: Nina Audina Temukan Kepercayaan Diri dan Kemandirian dari Lari hingga Mendaki
Meski sudah berhasil melewati dua kegagalan, tantangan bertani tidak berhenti. Perubahan musim membawa persoalan berbeda bagi tanaman.
Saat kemarau, hama dan kutu-kutuan menjadi ancaman. Sementara ketika musim hujan, tanaman berhadapan dengan serangan jamur.
Di luar persoalan budidaya, petani juga harus menghadapi harga hasil pertanian yang sulit diprediksi. Kondisi tersebut membuat usaha tani memiliki risiko yang tidak selalu mudah dihitung.
“Awal mula saya masih dimodali orang tua. Setelah berhasil panen, baru saya bisa mengelola keuangan sendiri. Tantangan lainnya adalah cuaca,” jelasnya.
Bagi Ikhwannudin, ketidakpastian hasil menjadi salah satu alasan anak muda enggan memilih pertanian.
Baca Juga: Kostum Robot Tulungagung Tembus Belgia dan AS, Dibuat dari Bahan Sandal Jepit
Sebagian pemuda lebih memilih pekerjaan dengan pendapatan tetap karena penghasilannya dapat dipastikan setiap bulan.
“Pemuda sekarang lebih cenderung mencari kepastian. Kalau bekerja di pabrik atau kantor, hasilnya sudah pasti setiap bulan. Kalau bertani, hasilnya masih belum tentu,” katanya.
Karena itu, dia berharap kepastian harga dan pemanfaatan teknologi semakin diperkuat. Menurutnya, pertanian perlu mampu memberi ruang bagi anak muda untuk berkembang sekaligus mengurangi risiko usaha.
Pengalaman dari dua kegagalan hingga berhasil panen membuat Ikhwannudin melihat pertanian bukan sekadar aktivitas menanam dan memanen.
Ada proses panjang yang harus dilewati, termasuk menghadapi kegagalan, belajar dari kesalahan, dan berani kembali mencoba.
“Bertani tidak serta-merta hanya menanam dan memanen, tapi kita harus melewati proses yang tidak mudah,” ujarnya.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri