TULUNGAGUNG - Jalan Brigjen TNI Budi Santoso menuju pangkat jenderal tidak dimulai dari kehidupan serba berkecukupan. Putra Desa Tunggulsari, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, itu tumbuh sebagai anak petani dan pernah merasakan tidur di stadion hanya beralaskan koran bekas saat mengikuti seleksi calon taruna AKABRI.
Lahir pada 30 September 1973, Budi kehilangan ayah ketika masih duduk di kelas II SD. Sejak saat itu, dia menjalani masa kecil sebagai anak yatim bersama keluarganya.
Kondisi tersebut tidak memadamkan cita-citanya. Budi menuntaskan pendidikan di SDN Tunggulsari, SMPN 5 Tulungagung, hingga SMA Katolik Santo Thomas Aquino.
Fase berat dilalui Budi ketika duduk di kelas III SMA. Menjelang Ebtanas, dia memberanikan diri mendaftar calon taruna AKABRI melalui Komda Surabaya.
Keterbatasan biaya membuatnya harus mencari cara agar tetap bisa mengikuti seluruh tahapan seleksi. Saat berada di Surabaya, Budi pernah tidur di stadion dengan alas koran bekas. Sesekali, dia juga menumpang di rumah teman.
Baca Juga: Jalan Manding Pucanglaban Tulungagung Kini Mulus, Karya Bhakti TNI 2026 Resmi Ditutup
“Keterbatasan itu tidak memadamkan semangat saya untuk meraih cita-cita dan mengubah masa depan,” ujarnya melalui WhatsApp, kemarin (4/10).
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Budi lolos seleksi daerah dan melanjutkan tahapan seleksi tingkat pusat di Magelang.
Sekali mendaftar, dia berhasil diterima dalam pendidikan calon perwira. Tiga tahun kemudian, pada 1995, Budi dilantik menjadi perwira TNI di Istana Negara oleh Presiden Soeharto dan memilih kecabangan Infanteri.
Karier militernya kemudian ditempa di Yonif 323/Raider Kostrad. Selama sekitar satu dekade, Budi menjalani berbagai jabatan sekaligus penugasan operasi, termasuk di Papua dan Aceh.
Tiga kali dia bertugas di daerah operasi dengan masa penugasan sekitar 15 bulan. Salah satu pengalaman paling membekas terjadi ketika tsunami Aceh menerjang pada 26 Desember 2004.
“Ketika bencana itu datang, saya masih berada di wilayah operasi dan bersyukur dapat menyelamatkan diri,” terangnya.
Baca Juga: 15 Tahun Menanti, Jalan Manding Kini Mulus, Kades Tunaikan Nazar dan Apresiasi Pemkab serta TNI
Perjalanan karier Budi kemudian berkembang dari pasukan tempur ke Kodam I/Bukit Barisan hingga Seskoad. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut pada 2010, dia memasuki dunia intelijen strategis di Bais TNI.
Dalam pendidikan Sarpa Intel Angkatan 69, Budi meraih predikat kedua terbaik. Penugasan dan pengalamannya terus berkembang hingga kemudian bergabung dengan BIN pada 2018.
Di lembaga tersebut, Budi turut berada dalam penanganan pandemi Covid-19. Selama kurang lebih dua tahun, dia dipercaya sebagai Komandan Satuan Tugas Khusus Penanganan COVID-19 BIN dan mengoordinasikan berbagai unsur tenaga kesehatan serta pendukung di sejumlah wilayah Indonesia.
Di tengah perjalanan dinasnya, Budi tetap melanjutkan pendidikan. Dia meraih gelar S.I.P. dari Universitas Jenderal Ahmad Yani pada 2011, Magister Hukum dari Universitas Sumatera Utara pada 2014, dan Doktor Ilmu Ekonomi dari Universitas Merdeka Malang pada 2024.
Tonggak penting dalam karier militernya terjadi pada April 2021. Budi mendapat amanah sebagai perwira tinggi dan menyandang pangkat Brigadir Jenderal TNI.
Berbagai penugasan internasional, pendidikan P3N Lemhannas RI pada 2026, serta pengalaman panjang di TNI, Bais TNI, dan BIN kemudian mengantarkannya kembali ke TNI AD. Pada 2026, dia mengemban amanah sebagai Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad).
Baca Juga: Karya Bhakti TNI di Manding Tulungagung Rampung Sepekan Lagi, Perbaikan Jalan Masih Dibutuhkan
Meski telah melewati berbagai jenjang karier, Budi tidak melupakan sosok yang selalu mengiringi perjalanannya. Ibunya yang kini berusia sekitar 80 tahun telah puluhan tahun menjalankan puasa Senin-Kamis dan puasa weton sebagai bentuk doa untuk anak-anaknya.
“Tanpa sosok ibu, saya tidak akan menjadi apa-apa. Terima kasih, Ibu,” ungkapnya.
Dari anak petani di Tunggulsari hingga menyandang satu bintang di pundak, perjalanan Budi dipenuhi pendidikan militer, penugasan di medan operasi, dunia intelijen, hingga tugas negara.
Bagi Budi, pencapaian tersebut bukan semata soal pangkat dan jabatan. Kerja keras, disiplin, pantang menyerah, dukungan keluarga, dan doa orang tua menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
“Disiplin, pantang menyerah, dan doa orang tua yang menjadi kunci,” pungkasnya.(sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri