
TULUNGAGUNG - Pagi menjadi guru dan pelatih, sore mengantarkan hewan peliharaan, lalu malam bisa diisi dengan bermusik atau berolahraga. Rutinitas itu dijalani Muhammad Abdul Azza dengan membagi waktu di antara berbagai aktivitas yang memang disukainya.
Bagi Azza, sapaan akrabnya, menjalani banyak kegiatan bukan berarti harus mengejar beragam peran atau identitas. Dia memilih menikmati setiap aktivitas sesuai tempatnya, tanpa harus membawa sikap yang sama ketika berada di ruang yang berbeda.
“Tidak harus serius. Tidak harus terlalu kaku. Saya lebih fleksibel, menempatkan diri sesuai posisi,” ujarnya.
Sebagai guru sekaligus pelatih, Azza tetap mengutamakan tanggung jawab terhadap anak didiknya. Dia berusaha memberikan wawasan dan membangun kemampuan mereka tanpa menciptakan suasana latihan yang penuh tekanan.
Baca Juga: Sering Juara Fotografi, Guru SMAN 1 Karangrejo Tri Asri Rahmananto Ajarkan Cara Bercerita lewat Foto
Ketika meminta anak didik berlatih di luar jadwal, misalnya, Azza menjelaskan alasan di balik instruksi tersebut. Latihan tambahan bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kemampuan dan performa.
Pendekatan itu berbeda ketika anak didiknya menghadapi perlombaan. Persiapan dilakukan lebih serius, mulai dari latihan hingga berbagai kebutuhan pendukung agar mereka bisa tampil maksimal.
“Persiapan dilakukan lebih serius. Mulai latihan hingga berbagai kebutuhan lomba dipersiapkan agar anak didik saya bisa tampil maksimal,” ungkapnya.
Di luar kegiatan mengajar dan melatih, Azza juga memiliki ketertarikan pada musik dan olahraga. Kedua aktivitas tersebut memberinya ruang untuk menjalani hal-hal yang disukai di luar rutinitas sebagai guru.
Dia tidak merasa harus selalu membawa keseriusan yang sama ke setiap aktivitas. Baginya, memahami posisi dan menyesuaikan diri dengan situasi menjadi bagian penting dalam menjalani berbagai peran.
Baca Juga: Sempat Vakum, Merivo Kembali Rutin Badminton di Tengah Kesibukan Kerja
Banyaknya aktivitas membuat Azza harus pandai mengatur waktu. Selain menjadi guru, pelatih, dan menjalani kegiatan musik serta olahraga, dia juga menawarkan jasa kurir khusus pengiriman hewan peliharaan.
Pekerjaan tersebut membuat jadwal hariannya tidak selalu berjalan sesuai satu pola. Ada kalanya beberapa aktivitas harus dilakukan secara berurutan dengan waktu perpindahan yang terbatas.
Salah satu pengalaman yang menggambarkan kesibukannya terjadi ketika dia menjadi marshal dalam sebuah acara lari di Tulungagung. Kegiatan itu berlangsung sejak pagi hingga sekitar pukul 13.00.
Setelah menyelesaikan tugas tersebut, Azza langsung bertolak ke Jombang untuk mengantarkan ayam milik pelanggan. Perpindahan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain itu menjadi bagian dari kesehariannya.
Jadwal bermusik terkadang juga berbenturan dengan latihan olahraga. Dalam situasi seperti itu, Azza harus menentukan aktivitas yang bisa dijalankan dan yang perlu dikorbankan.
Dia menyadari bahwa setiap kegiatan memiliki kepentingan masing-masing, tetapi waktu yang tersedia tetap terbatas. Karena itu, menjalani berbagai passion juga berarti memahami bahwa tidak semua hal bisa dilakukan bersamaan.
Baca Juga: Brigjen TNI Budi Santoso, Anak Petani Tulungagung yang Pernah Tidur Beralas Koran
Bagi Azza, mengajar, bermusik, dan berolahraga memiliki ruang masing-masing. Dia tidak merasa perlu membatasi diri hanya pada satu bidang agar dapat menjalani aktivitas lainnya.
“Aku menjalani passion-ku saja. Alhamdulillah, semua passion-ku itu adalah yang aku jalani sekarang,” tuturnya.
Dia juga tidak menetapkan satu label yang harus melekat pada dirinya. Sebutan guru, pelatih, musisi, maupun pegiat olahraga muncul mengikuti aktivitas yang dijalaninya, bukan menjadi batasan untuk mencoba hal lain.
Menjalani passion, menurut Azza, juga bukan semata-mata tentang memperoleh kepuasan pribadi. Ada manfaat yang ingin dibagikan kepada orang lain melalui berbagai kegiatan tersebut.
Karena itu, dia memilih terus bergerak dan memberi ruang bagi hal-hal yang disukai. Baginya, beragam aktivitas bukan persoalan harus dikenal sebagai siapa, melainkan kesempatan untuk menjalani peran dengan baik sesuai tempatnya.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri