RADAR TULUNGAGUNG - Dunia sinden kerap identik dengan generasi senior yang telah lama berkecimpung dalam seni tradisional.
Namun, di tengah era modern ini, ada sosok muda yang menaruh hati pada kesenian Jawa tersebut.
Dia adalah Rinviananda Fatma Widiqdya, sinden muda berusia 20 tahun asal Desa Tugu, Kecamatan Sendang, Tulungagung.
Di bulan Ramadan ini, aktivitas Rinviananda (sapaan akrab Rinviananda Fatma Widiqdya, Red) lebih banyak berfokus pada pembuatan konten, menerima job make-up, dan latihan vokal untuk persiapan job setelah Lebaran.
“Saya tetap berusaha produktif meski jadwal panggung berkurang. Ramadan ini saya manfaatkan untuk meningkatkan kualitas vokal dan mengembangkan konten agar tetap bisa berbagi dengan para penikmat seni,” ujarnya.
Perjalanan Rinviananda di dunia tarik suara dimulai sejak duduk di bangku kelas 5 SD, meski kala itu ia lebih menyukai genre pop.
“Dulu saya lebih sering menyanyikan lagu-lagu pop karena lebih mudah, dan saya memang suka,” tuturnya.
Saat memasuki SMP, kecintaannya terhadap musik tetap terjaga.
Namun, ketika SMK, dia sempat vakum dan lebih menikmati dunia tari.
Hingga akhirnya, saat menginjak kelas XII SMK, keinginannya untuk kembali ke dunia vokal muncul, tetapi kali ini dengan warna yang berbeda.
“Saya merasa ada panggilan untuk kembali bernyanyi, tetapi kali ini lebih tertarik dengan campursari dan sinden,” katanya.
Tahun 2023 menjadi titik balik bagi Rinviananda untuk mendalami lagu-lagu campursari dan sinden, sebuah tantangan baru yang kemudian menjadi jalannya hingga saat ini.
Sebagai seseorang yang awalnya terbiasa dengan genre pop, berpindah ke campursari bukanlah hal mudah baginya.
Kesulitan terbesar yang dihadapinya adalah menghafal langgam Jawa, bowo, dan berbagai teknik vokal khas sinden.
“Dulu awalnya saya kesulitan karena harus mengejar semuanya dalam waktu singkat. Apalagi harus menyesuaikan dengan request dari penonton. Tapi, dengan ketekunan dan semangat, saya mampu mengatasi tantangan tersebut,” ungkapnya.
Meskipun belum pernah mengikuti lomba sinden, Rinviananda lebih memilih mengumpulkan pengalaman dan menjadikannya sebagai pekerjaan sambil menjalani perkuliahan.
Berkat dedikasi dan kerja kerasnya, dia telah manggung hingga ke luar daerah seperti Banyuwangi, Kalimantan, hingga Samarinda.
“Saya bersyukur bisa mendapatkan kesempatan tampil di berbagai daerah. Ini pengalaman yang sangat berharga,” katanya.
Untuk menjaga kualitas suaranya, dia memiliki ritual khusus yakni mengonsumsi kencur mentah sebelum tampil, memperbanyak air putih, dan rutin melakukan olahraga pernapasan.
“Kencur itu sudah seperti sahabat saya. Sebelum manggung, saya selalu makan kencur supaya suara tetap terjaga,” jelasnya.
Menjadi sinden tidak hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga berbagai tantangan.
Rinviananda merasa bersyukur karena bisa bertemu dengan banyak seniman baik, mendapatkan pengalaman baru, dan menikmati pekerjaan sambil liburan.
“Saya senang bisa bertemu dengan banyak orang hebat. Dari mereka, saya belajar banyak tentang dunia seni,” ucapnya.
Namun, di balik itu, ada juga duka yang harus dihadapi.
“Kadang pas lagi capek tetap harus profesional di atas panggung. Harus tetap senyum, energik, dan menghibur penonton. Selain itu, jam tidur yang tidak teratur juga jadi tantangan tersendiri,” ungkapnya.
Keputusan Rinviananda untuk menekuni sinden bukan tanpa alasan.
Baginya, sinden adalah profesi yang nyaman, memungkinkan dirinya untuk tampil dengan busana sopan, sekaligus mewujudkan keinginan orang tua.
“Orang tua saya sangat mendukung saya menjadi sinden. Mereka bangga karena saya bisa melestarikan budaya Jawa,” katanya.
Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika pertama kali bergabung dengan sebuah grup campursari yang tidak hanya mengajaknya tampil, tetapi juga membimbing dan mengarahkannya hingga bisa berkembang seperti sekarang.
“Saya sangat bersyukur bertemu dengan orang-orang yang mau membimbing saya. Dari mereka, saya bisa belajar lebih banyak dan berkembang,” ujarnya.
Sebagai generasi muda yang terjun ke seni tradisional, Rinviananda memiliki pesan untuk anak-anak muda yang ingin meniti jalur serupa.
“Jangan mudah menyerah, buang jauh-jauh rasa insecure, percaya diri pada potensi diri sendiri, dan terus belajar,” ungkapnya.
Dengan semangat dan kerja keras, dia yakin siapa pun bisa mencapai impian mereka di dunia seni. (yog/c1/jaz)
Editor : Vidya Sajar Fitri