Menjadi peramal atau ahli tarot tak pernah ada dalam benak Dewi Mayasari. Namun memiliki kemampuan supranatural membuatnya termotivasi untuk membantu sesama. Termasuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit.
ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, ASY SYIFA, Kota, Radar Tulungagung
Semerbak harum bunga kantil dan melati langsung menusuk hidung ketika koran ini bertandang ke kediaman Dewi Mayasari di Jalan Letjen Suprapto Nomor 105A Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung. Memasuki ruang tamu yang juga difungsikan sebagai ruang kerja ini, wangi semerbak bunga melati kian terasa semakin kuat. Di salah satu sudut ruangan, terdapat sebuah meja besar lengkap dengan beberapa kartu tarot dan benda-benda lain yang digunakan untuk media meramal. “Mari silakan masuk,” sambut seorang wanita berbaju merah dengan rambut panjang dikuncir dua ketika melihat kedatangan koran ini.
Dia adalah Dewi Mayasari, seorang paranormal atau peramal asal Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung. Kepada koran ini, wanita yang terkenal dengan julukan Madam Cinta ini menceritakan awal mulanya terjun dalam dunia supranatural seperti saat ini. Ia mengaku sedari kecil telah memiliki anugerah khusus. Orang awam biasa menyebutnya sebagai anak indigo atau seorang anak yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat yang special, tidak biasa, dan berkaitan dengan supranatural. “Saya sudah dari kecil ya indigo. Semisal saya bilang kamu jangan kesana nanti kepeleset ya nanti kejadian sungguh,” jelasnya mengawali cerita.
Meskipun sedari kecil memiliki kemampuan khusus, namun wanita 44 tahun ini baru benar-benar menyadari kemampuannya itu ketika sang anak jatuh sakit. Saat itu ia sudah berusaha semaksimal mungkin membawa sang buah hati untuk menjalani pengobatan. Mulai dari pengobatan medis hingga alternatif. Namun tidak menunjukan hasil yang cukup signifikan. “Sudah dibawa ke orang pinter, ke dukun, ke orang-orang tua, belum sembuh juga. Akhirnya dikasih tahu ini yang bisa nyembuhin ibunya sendiri,” terangnya mengingat masa itu.
Ibu tiga anak ini mengaku kegiatannya ini telah berjalan sekitar dua tahun. Saat tahun pertama, ia mengaku belum berani menunjukkan kemampuan. Bahkan sempat malu ketika mantan pasiennya melakukan testimoni dan mengunggahnya pada media sosial. Namun dengan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, ia mulai berani untuk menunjukkan diri.
Bahkan kini pasien yang datang kepadanya berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat awam, artis, hingga para pejabat. Ini tak hanya berasal dari wilayah Tulungagung saja, melainkan hingga Malaysia dan Hongkong. Bertempat di kediamannya, wanita kelahiran26 Januari 1977 ini membuka praktek mulai dari pukul 09.00 hingga 24.00. Bahkan terkadang bisa sampai pukul 03.00 dini hari. Namun, khusus di bulan Ramadan, ia hanya membuka praktek mulai dari pukul 18.00 atau setelah magrib hingga pukul 24.00 malam. “Saya kan juga pengen mendekatkan diri ke Gusti,” imbuhnya seraya tersenyum.
Ia mengungkapkan, pasien yang datang ke rumahnya biasanya sudah janjian terlebih dahulu. Rata-rata para pasien ini biasa datang dengan berbagai keluhan. Mulai dari masalah cinta, ekonomi, hingga sakit keras di luar logika manusia. Tak hanya melayani pasien yang datang ke rumah, ia juga biasa datang ke rumah pasien untuk melakukan terapi pengobatan.
Disinggung mengenai tarif atau biasa disebut dengan mahar, ia mengaku tidak pernah mematoknya. Sebab sedari awal ia hanya berniat untuk membantu sesama dengan kemampuan yang ia miliki. “Nggak pernah di sini saya ngomongin mahar. Bahkan ada yang membawa nasi goreng, martabak, seikhlasnya yang penting sembuh dulu. Kalau sudah merasa enak terserah mau dikasih apa,” tandasnya.(*)
Editor : Choirurrozaq