Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Fenomena Gen Z, Terlalu Oversharing dan Semua Harus Jadi Konten.

Dhiyah Ayu Nur Rahmawati • Rabu, 16 April 2025 | 01:05 WIB
Terlalu over sharing, gen z semua jadi konten
Terlalu over sharing, gen z semua jadi konten

Radar Tulungagung - Fenomena Gen Z yang suka oversharing di media sosial makin sering terlihat di timeline kita.

Kebiasaan Gen Z oversharing ini bikin banyak orang bertanya-tanya: apakah semua hal memang harus jadi konten?

Dari curhatan soal relationship, stres sekolah, sampai hal receh kayak outfit ke warung, semua bisa diunggah oleh Gen Z.

Bagi banyak Gen Z, oversharing bukan cuma soal pamer kehidupan, tapi juga bentuk ekspresi diri.

Gen Z oversharing momen pribadi sering kali bikin mereka merasa lebih lega dan didengar.

Seperti yang dirasain Delfina, 17, salah satu pelajar SMA yang aktif banget di Instagram dan TikTok.

“Kadang aku sadar sih, aku suka banget upload story walaupun cuma lagi jalan-jalan sore. Tapi anehnya, itu bikin aku seneng aja. Kayak lega. Tapi kadang juga mikir, Ini perlu banget gak sih dishare?," ungkap Delfina, 17.

Pengalaman Gen Z oversharing kayak Delfina ini relate banget buat banyak anak muda zaman sekarang.

Media sosial bagi Gen Z udah jadi tempat curhat, hiburan, dan validasi, semuanya campur jadi satu.

Tapi saat semua aspek hidup dibagikan online, oversharing Gen Z bisa bikin batas antara privasi dan publik jadi blur.

Banyak Gen Z ngerasa wajib update biar tetap “ada”, padahal gak semua momen harus dilihat orang lain.

Salah satu alasan kenapa Gen Z oversharing adalah karena tekanan sosial buat selalu tampil ok dan eksis.

Konten yang diunggah oleh Gen Z sering kali didorong oleh keinginan untuk terlihat bahagia atau produktif.

Tapi, oversharing Gen Z juga punya sisi gelap. Banyak kasus di mana Gen Z akhirnya nyesel setelah share hal-hal yang terlalu personal.

Komentar negatif atau reaksi gak sesuai ekspektasi bisa bikin Gen Z kehilangan rasa aman secara digital.

Beberapa Gen Z mulai sadar bahwa gak semua hal perlu jadi konten, dan oversharing bisa bikin capek secara emosional.

Makanya sekarang makin banyak Gen Z yang mulai selektif dan lebih mindful soal apa yang mereka post.

Daripada asal update, Gen Z mulai mikir dua kali: “Aku share ini karena pengen, atau cuma buat dapet validasi?,”

Fenomena Gen Z oversharing ini jadi cermin gimana digital life bisa ngaruh ke cara kita memandang diri sendiri.

Kalau dulu diary itu rahasia, sekarang Gen Z menjadikan media sosial sebagai diary terbuka.

Tapi penting buat inget, gak semua orang harus tahu semua hal tentang kita bahkan kalau kita Gen Z yang hidupnya digital banget.

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#Gen Z #over sharing #konten #media sosial