Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gen Z Hustle 24 per 7, Produktif atau Cuma Capek-capekan?

Dhiyah Ayu Nur Rahmawati • Rabu, 16 April 2025 | 01:21 WIB
Produktif ala gen z, di era digital ada fenomena baru hustle 24/7
Produktif ala gen z, di era digital ada fenomena baru hustle 24/7

Radar Tulungagung - Di era serba cepat ini, fenomena Gen Z hustle 24 per 7 udah bukan hal baru. Tiap hari, media sosial dipenuhi konten soal kesibukan: dari kerja sambilan, side project, sampai kuliah sambil freelance.

Tapi yang jadi pertanyaan, apakah Gen Z hustle 24 per 7 ini benar-benar produktif atau sebenarnya cuma bikin lelah terus menerus?

Banyak dari Gen Z ngerasa harus terus gerak, harus punya banyak kesibukan, biar nggak ketinggalan.

Fenomena Gen Z hustle 24 per 7 ini muncul dari dorongan buat mandiri, pengen dapet cuan dari muda, atau sekadar biar merasa bernilai.

Tapi sering kali, di balik semangatnya, terselip juga rasa capek yang dipendem.

Nur, 25, yang sekarang udah lulus kuliah dan punya pekerjaan tetap, cerita soal pengalamannya ngejalanin Gen Z hustle 24 per 7 bahkan sejak masih ngerjain skripsi.

“Dulu saya bahkan skripsi masih bisa pegang beberapa side hustle untuk tambahan. Capek tapi senang. Tapi kalo diingat-ingat, uangnya emang nggak seberapa sih, hehe. Bahkan sekarang, meski udah punya kerjaan tetap, saya masih suka nyari side hustle di luar jam kerja.” papar Nur, 25.

Cerita Nur nunjukin bahwa buat sebagian orang, Gen Z hustle 24 per 7 bukan cuma fase, tapi udah jadi gaya hidup.

Bekerja lebih dari satu peran dianggap biasa, bahkan jadi bagian dari identitas. Tapi di sisi lain, ada harga yang harus dibayar: waktu, tenaga, dan kadang, kesehatan mental.

Hal serupa juga dialami oleh Ifzariza, Laura, Vaeln, dan Rohmah, 17, empat siswa SMA yang aktif banget menjalani Gen Z hustle 24 per 7 di sela sekolah mereka.

“Selain sekolah, kami juga nyari kerjaan sampingan ada yang jualan di kantin, ada juga yang mulai dari hobi, terus jadi penghasilan tambahan. Capek sih, apalagi kadang harus bangun jam 3 pagi, terus lanjut sekolah. Tapi jujur aja, kami enjoy. Rasanya seru bisa produktif dan punya penghasilan sendiri, meskipun harus ngorbanin waktu tidur. Bahkan diluar itu, ada jugayang jualan online buat nambah uang saku.” cerita Ifzariza, Laura, Vaeln, dan Rohmah, 17 tahun

Cerita mereka menggambarkan sisi lain dari semangat Gen Z hustle 24 per 7, ambisius, tapi juga penuh pengorbanan.

Tidur jadi barang mahal, waktu istirahat sering disunat, dan kadang waktu buat diri sendiri nyaris nggak ada.

Tapi ya, mereka tetap jalanin, karena buat banyak Gen Z, kerja keras itu udah kayak identitas.

Menurut data dari IDN Times, lebih dari 50% Gen Z sudah memiliki pekerjaan sampingan. Tapi, pertanyaannya, apakah semua ini bikin mereka lebih berkembang, atau justru makin burnout?

Karena faktanya, menurut Retizen Republika , hustle culture bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Dan jelas, Gen Z hustle 24 per 7 yang nggak terkendali bisa berujung ke stres, kecemasan, bahkan gangguan tidur.

Fenomena Gen Z hustle 24 per 7 ini jadi pengingat bahwa semangat kerja keras itu bagus, tapi tetap harus ada batasnya.

Kita perlu belajar bahwa istirahat bukan kelemahan. Tidur cukup, me time, dan quality time sama diri sendiri juga bagian dari produktivitas.

Jadi, next time kamu merasa bersalah karena nggak ngapa-ngapain, ingat: nggak harus sibuk terus buat jadi berharga.

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#Gen Z #hustle #fenomena