Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gen Z dan Validasi Digital, Hidup Demi Like Emang Sejauh Itu?

Dhiyah Ayu Nur Rahmawati • Rabu, 16 April 2025 | 16:26 WIB
Validasi gen Z hidup demi tombol like
Validasi gen Z hidup demi tombol like

Radar Tulungagung - Di tengah kemajuan teknologi dan media sosial yang pesat, Gen Z kini menjadi generasi yang tak bisa dipisahkan dari dunia digital.

Dalam era di mana validasi digital menjadi salah satu hal terpenting bagi Gen Z, tak heran jika banyak dari mereka mengukur keberhasilan atau popularitas melalui angka yang muncul di layar seperti like, komentar, hingga followers.

Namun, validasi digital bagi Gen Z bukan sekadar soal jumlah angka tersebut. Lebih dari itu, angka-angka itu merepresentasikan bagaimana mereka dipandang di dunia maya.

Validasi digital ini bisa menjadi sumber rasa diterima dan dihargai. Sayangnya, ketergantungan berlebihan pada validasi digital ini bisa menjadi pedang bermata dua yang berisiko.

Menurut Indah Ayu Wulandari, dalam sebuah jurnal dari Universitas Pendidikan Tambusai, "Media sosial memang memiliki dampak positif, media sosial dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas komunikasi remaja, serta memperluas jaringan pertemanan mereka.

Meskipun begitu, ia juga mengingatkan bahwa media sosial bisa membawa dampak negatif seperti cyberbullying, kecemasan sosial, bahkan kecanduan jika tidak digunakan secara bijaksana" dalam Jurnal Pendidikan Tambusai, 14 Juli 2024.

Maka dari itu, penting bagi Gen Z untuk bijak dalam mencari validasi digital dan tidak terjebak dalam pencarian pengakuan yang bersifat sementara dan tidak sehat.

Ayu, 25, seorang pengguna aktif media sosial, pun berbagi pandangannya tentang pentingnya like dalam dunia digital.

Menurutnya, "Mendapatkan like banyak memang penting, karena itu menunjukkan bahwa konten kita dihargai dan diterima oleh audiens." Namun, Ayu menekankan bahwa like bukanlah satu-satunya ukuran kesuksesan.

Yang lebih penting adalah menciptakan konten yang autentik, sesuai dengan passion, dan memiliki makna.

Namun, Ayu juga merasa miris dengan fenomena yang ada di media sosial, di mana banyak orang yang rela menghalalkan berbagai cara hanya untuk mendapatkan like.

"Saya merasa miris melihat banyak orang yang mengorbankan etika dan nilai-nilai hanya demi mendapatkan banyak like. Dari konten vulgar hingga yang membahayakan orang lain, mereka lakukan semuanya hanya untuk mendapatkan perhatian sesaat," jelasnya.

Ayu menegaskan bahwa meskipun like dapat memberikan kepuasan instan, konten yang bermanfaat dan positif jauh lebih penting untuk menciptakan dampak yang lebih langgeng.

Fenomena ini mencerminkan bagaimana kuatnya pengaruh validasi digital dalam kehidupan Gen Z.

Banyak yang terjebak dalam siklus pencarian pengakuan, yang terkadang mendorong mereka untuk menciptakan konten yang tidak bertanggung jawab.

Gen Z perlu memahami bahwa like seharusnya tidak menjadi tujuan utama.

Menciptakan konten yang bermanfaat dan memberikan nilai lebih kepada audiens jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar angka di layar.

Pada akhirnya, penting bagi Gen Z untuk menyadari bahwa validasi digital bukanlah segalanya.

Meskipun like dan pengakuan di media sosial dapat memberikan kepuasan sesaat, kebahagiaan sejati berasal dari dalam diri sendiri dan hubungan yang nyata dengan orang lain.

Hanya dengan itu, kita bisa menciptakan kehidupan yang lebih autentik dan bermakna, jauh di luar angka-angka yang muncul di layar kaca.

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#Gen Z #media sosial #validasi #like