Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Akrabnya Gen Z Dengan Insecure Culture, Membandingkan Diri Jadi Rutinitas

Dhiyah Ayu Nur Rahmawati • Rabu, 16 April 2025 | 18:57 WIB
Rutinitas gen z dengan membandingkan diri
Rutinitas gen z dengan membandingkan diri

Radar Tulungagung - Setiap hari, Gen Z tanpa sadar membuka media sosial hanya untuk akhirnya terjebak dalam insecure culture yang terus berulang.

Bagi Gen Z scroll puluhan konten sudah jadi bagian dari rutinitas harian yang kadang tanpa tujuan tapi penuh tekanan.

Ada yang jago public speaking, ada yang tampil kece tiap hari, dan ada juga yang baru umur 17 tapi sudah bisa mengisi seminar dan itu membuat kita membandingkan diri terus menerus.

Tidak salah sih merasa kagum, tapi saat rasa kagum berubah jadi rendah diri, insecure culture mulai mengambil alih pikiran kita.

Jika setiap kali membuka media sosial rasanya malah jadi minder, Gen Z harus mulai bertanya ke diri sendiri. apakah ini sehat? 

Budaya membandingkan diri semakin akrab dengan Gen Z yang tumbuh bersama teknologi dan sosial media.

Gen Z yang dari kecil sudah dekat dengan Instagram, TikTok, dan YouTube, tempat di mana insecure culture berkembang subur.

Sayangnya, banyak dari kita yang lebih sering merasa kurang daripada cukup karena rutinitas digital yang tidak sehat.

"Aku sering merasa insecure ketika melihat orang-orang di media sosial memiliki public speaking yang bagus, wawasan luas, dan selalu tampil percaya diri," kata Laura, 17, yang aktif di media sosial.

Hal yang sama dirasakan Ifza (17), "Aku merasa tertinggal ketika melihat teman-teman sukses di usia muda, dan selalu tampil sempurna."

Padahal apa yang kita lihat di media sosial itu hanya highlight, dan Gen Z harus tahu bahwa itu bukan kenyataan utuh.

Hanya potongan terbaik dari hidup orang yang membuat kita menjadi membandingkan diri secara tidak sadar.

Namun tetap saja, otak kita berpikir "Mengapa aku tidak seperti dia?" dan pelan-pelan rasa minder tumbuh menjadi overthinking bagian dari insecure culture yang merusak.

Menurut artikel dari The Guardian, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menurunkan tingkat kesejahteraan mental Gen Z.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan pribadi, tetapi sudah menjadi budaya di kalangan Gen Z.

Budaya baru ini membuat kita merasa harus selalu tampil berprestasi agar bisa diakui, yang akhirnya menciptakan insecure culture yang bisa mengganggu kehidupan kita sehari hari.

Bahkan ketika kita tahu itu semua tidak realistis, tetap muncul rasa takut ketinggalan alias FOMO yang menjadi bagian dari rutinitas digital Gen Z.

Data dari McKinsey Health Institute menunjukkan bahwa Gen Z adalah generasi yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental akibat tekanan sosial dan digital yang semakin kuat.

Namun tenang, kamu tidak sendirian. Banyak dari kita yang merasakan hal yang sama karena insecure culture ini menyerang diam-diam lewat layar ponsel.

Dan tahu tidak? "Tidak apa-apa jika kamu belum memiliki public speaking yang keren, belum memiliki pencapaian besar, atau belum tahu apa yang ingin dicapai."

Gen Z perlu ingat bahwa semua orang memiliki waktu dan prosesnya sendiri, tidak perlu terus-menerus membandingkan diri dengan timeline orang lain.

Daripada terus sibuk membandingkan diri, kenapa tidak mulai fokus ke diri sendiri?

Kurangi waktu di media sosial, journaling, ngobrol dengan teman yang mendukung, dan berikan waktu untuk tumbuh agar rutinitas sehat mulai terbentuk.

Hidup itu bukan perlombaan, dan bagi Gen Z penting untuk tahu bahwa tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat.

Kamu sudah cukup, bahkan ketika kamu belum merasa cukup, dan itu bukan hasil dari membandingkan diri, tetapi karena kamu berharga.

Jadi mulai hari ini, yuk coba berhenti sejenak. Tarik napas.

Lihat ke cermin dan katakan pada diri sendiri: "Aku juga berproses dan itu oke."

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#Gen Z #membandingkan #Insecure