Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Didikan Keras, Mental Lemas: Gen Z dan Luka Batin dari Keluarga

Dhiyah Ayu Nur Rahmawati • Sabtu, 26 April 2025 | 05:28 WIB
Ilustrasi Gen Z dan keluarga.(freepik.com)
Ilustrasi Gen Z dan keluarga.(freepik.com)

GAYA HIDUP- Dalam keseharian, Gen Z terlihat aktif, ekspresif, dan kreatif.

Gen Z adalah generasi yang tumbuh di era teknologi, punya akses ke informasi, dan lebih berani bersuara.

Tapi sayangnya, tak sedikit dari Gen Z juga tumbuh di lingkungan keluarga yang keras, kaku, dan minim ruang aman untuk menjadi diri sendiri.

“Udah gede kok masih nangisan.”

“Kamu tuh nggak tahu susahnya cari uang!”

“Kamu harus sukses, jangan bikin malu keluarga.”

Kalimat seperti ini, bagi sebagian orang tua, mungkin terdengar biasa.

Tapi bagi banyak Gen Z, ucapan seperti ini terasa seperti pisau tajam yang menggores perlahan tak terlihat, tapi menyakitkan.

Luka dari keluarga sering kali tidak berdarah, tapi dampaknya bisa terasa seumur hidup.

Didikan keras sering kali menjadi dasar dari mental lemas yang dialami oleh Gen Z.

Tekanan dari orang tua yang menginginkan anak-anaknya selalu sempurna sering kali membuat mereka merasa tidak pernah cukup baik. 

Luka dari keluarga pun mulai terbentuk, dan itu bukanlah luka fisik, melainkan luka batin yang tertanam jauh.

Dikutip dari artikel TalkToAngel.com, masalah keluarga seperti harapan yang terlalu tinggi, konflik rumah tangga, dan kurangnya dukungan emosional memengaruhi perkembangan mental anak.

Banyak Gen Z yang merasa kesepian meskipun ada di tengah keluarga mereka sendiri. 

Didikan keras tanpa komunikasi yang sehat hanya memperburuk keadaan.

Alih-alih merasa dicintai dan dihargai, mereka malah merasa ditekan.

Gen Z mungkin sering terlihat sibuk, tetapi di balik aktivitas mereka, ada rasa cemas dan ketidakamanan yang dipendam.

Mental lemas adalah salah satu dampak dari luka dari keluarga yang tak terlihat. 

Ketika anak tumbuh di tengah orang tua yang lebih mementingkan pencapaian dan kesuksesan ketimbang perasaan, mereka akhirnya merasa terasing, bahkan dari orang yang seharusnya paling mereka percayai.

Didikan keras tanpa empati atau ruang untuk berbicara membuat mereka terjebak dalam kebisuan emosional

Banyak dari mereka yang akhirnya belajar menyembunyikan perasaan, menganggapnya sebagai kelemahan. 

Tapi sebenarnya, ini adalah salah satu tanda bahwa mereka butuh dukungan, bukan kritik.

Namun, meskipun banyak tantangan, Gen Z mulai menyadari bahwa mereka tidak harus menanggung semua beban ini sendirian. 

Banyak dari mereka yang mulai berbicara tentang luka dari keluarga dan mencari cara untuk sembuh, meskipun prosesnya tidak mudah.

Berhenti menyalahkan diri sendiri. Jika merasa mental lemas atau merasa terperangkap dalam didikan keras yang tidak pernah memberikan ruang untuk menjadi dirimu sendiri, kamu nggak sendirian.

Banyak Gen Z yang sedang berjuang untuk sembuh, untuk merasakan cinta yang tulus tanpa syarat, dan untuk memperbaiki luka dari keluarga.

Jika kamu merasa relate, jangan lupa share artikel ini ke temanmu juga.(***)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#orang tua #Gen Z #dukungan #teknologi #tantangan #kritik #mental