TULUNGAGUNG – Banyak orang merasa tiba-tiba ingin makan atau ngemil ketika sedang stres. Fenomena ini dikenal sebagai stress eating, yaitu kebiasaan makan berlebihan akibat tekanan mental atau emosional.
Dari sudut pandang psikologi stress eating, hal ini terjadi karena saat stres, tubuh memproduksi hormon kortisol dalam jumlah tinggi.
Hormon ini memengaruhi nafsu makan dan membuat kita cenderung menginginkan makanan yang tinggi gula, lemak, atau garam.
Makanan tersebut memberikan rasa nyaman yang cepat, meski hanya sementara.
Lebih dari itu, otak juga melepaskan dopamin saat kita makan makanan enak. Dopamin adalah zat kimia di otak yang menimbulkan rasa senang dan puas.
Karena itulah, saat ngemil—apalagi makanan manis atau gurih—kita merasa lebih tenang. Ini menjadi semacam cara otak untuk menghibur diri di tengah tekanan.
Meski terlihat sepele, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa kebiasaan makan saat stres perlu diwaspadai.
Menurut Siloam Hospitals dan Alodokter, jika dilakukan terus-menerus, stress eating bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti kenaikan berat badan, masalah pencernaan, hingga gangguan pola makan.
Untuk menghindari hal tersebut, sejumlah cara bisa diterapkan. Beberapa pakar menyarankan agar seseorang mengenali dulu penyebab stresnya dan mencoba mengelola emosi dengan cara yang lebih sehat.
Halodoc merekomendasikan aktivitas seperti olahraga ringan, meditasi, atau mengganti camilan dengan buah-buahan yang lebih sehat sebagai alternatif.
Mount Elizabeth Hospital bahkan menekankan pentingnya memahami bagaimana otak bekerja saat stres. Jika kita sadar bahwa keinginan untuk makan muncul bukan karena lapar, tapi karena emosi, maka kita bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Baca Juga: Menembak Bisa Hilangkan Stress, Berikut Aktivitas Lain dr Tika Primasari
Harvard Health juga menambahkan bahwa membangun kesadaran diri (mindfulness) sangat penting agar makanan tidak terus menjadi pelarian dari tekanan mental.
Pada akhirnya, keinginan untuk ngemil saat stres adalah reaksi alami tubuh dan otak yang mencoba mencari kenyamanan.
Namun jika kita bisa memahami pola ini, kita bisa belajar mengelolanya dengan lebih baik, menjaga tubuh tetap sehat, dan menemukan cara lain yang lebih positif untuk menghadapi stres. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah