TULUNGAGUNG- Pernah niat buka TikTok cuma 5 menit, tapi tiba-tiba udah 3 jam berlalu?
Kalau kamu pernah mengalami hal itu dengan TikTok, kamu tidak sendirian.
Fenomena ini bukan cuma soal ketagihan TikTok, tapi ada penjelasan ilmiah di baliknya.
Otak kita secara tidak sadar tertipu oleh algoritma canggih TikTok yang dirancang untuk membuat kita betah berlama-lama di aplikasinya.
Berikut penjelasan kenapa hal itu bisa terjadi:
1. Algoritma yang Sangat Personal
TikTok menggunakan algoritma canggih yang mempelajari setiap interaksi pengguna, mulai dari video yang ditonton, disukai, hingga durasi menonton.
Dengan data ini, TikTok menyajikan konten yang sangat sesuai dengan minat pengguna, membuat mereka terus tertarik untuk menonton video berikutnya.
2. Efek Zeigarnik
Efek Zeigarnik adalah konsep dalam psikologi yang ditemukan oleh Bluma Zeigarnik. Ia menemukan bahwa otak manusia cenderung mengingat tugas atau informasi yang belum selesai dengan lebih baik dibandingkan yang sudah selesai.
Banyak kreator konten dengan sengaja membagi video mereka menjadi beberapa bagian menggantung.
Pernah nonton video TikTok yang ujung-ujungnya bilang, “lanjut di part 2” Terus kamu langsung cari-cari kelanjutannya? Nah, itu karena otak kita lagi kena yang namanya Efek Zeigarnik.
Efek ini bikin otak terus mikirin hal-hal yang belum selesai. Jadi pas kamu nonton video yang ujungnya menggantung, otak merasa tidak puas.
Jadinya kamu terdorong buat terus nyari sampai nemu akhir ceritanya. Tanpa sadar, kamu udah scroll banyak banget video dan waktu pun ikut kebuang begitu aja.
3. Video Pendek memberikan Lonjakan Dopamin
Video berdurasi singkat di TikTok dirancang untuk memberikan kepuasan secara cepat dan instan.
Dalam waktu hanya beberapa detik, pengguna bisa langsung merasakan hiburan, kejutan, atau kesenangan dari konten yang ditampilkan.
Saat video tersebut menyenangkan atau menghibur, otak akan melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang memberikan rasa senang dan puas.
Setiap kali kita mendapatkan sensasi ini, Inilah yang membuat kita terus menggulir layar, karena otak selalu mengharapkan momen berikutnya yang memiliki sensasi serupa.
4. Desain Tanpa Batas: Scroll Tak Berujung
TikTok menggunakan fitur infinite scroll, yaitu sistem yang membuat video terus bermunculan tanpa henti setiap kali kamu menggulir layar.
Begitu satu video selesai, langsung muncul video lain yang sudah dipilihkan oleh algoritma sesuai minatmu.
Karena tidak ada jeda atau penutup alami seperti dalam film atau serial TV, otak kita tidak mendapatkan sinyal bahwa waktu menonton sudah cukup.
Kita pun terus lanjut, seolah tidak ada alasan untuk berhenti.
Desain seperti ini membuat otak masuk ke dalam kondisi auto-pilot. Kita merasa hanya sebentar menonton, padahal waktu berjalan terus tanpa disadari.
5. Efek Slot Machine
Setiap kali kita menggulir TikTok, kita tidak tahu konten seperti apa yang akan muncul selanjutnya.
Ketidakpastian ini mirip dengan mesin slot di kasino, di mana setiap tarikan bisa menghasilkan hadiah besar atau tidak sama sekali.
Ketidakpastian ini memicu pelepasan dopamin di otak, membuat kita merasa senang dan terdorong untuk terus menggulir demi mencari atau melihat adiah berikutnya.
Dampak pada Kesehatan Mental
Penggunaan TikTok secara berlebihan dapat berdampak serius pada kesehatan mental, terutama pada remaja yang otaknya masih dalam tahap perkembangan.
Studi menunjukkan bahwa paparan media sosial yang terlalu sering bisa mengganggu keseimbangan dopamin di otak.
Ketika otak terbiasa menerima lonjakan dopamin dari konten cepat dan menyenangkan, hal ini dapat meningkatkan risiko kecanduan digital, serta menurunkan kemampuan fokus, pengendalian emosi, dan bahkan memicu kecemasan atau depresi dalam jangka panjang. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah