Menarik menguap menular, hal ini bisa terjadi meskipun kita sebenarnya tidak merasa mengantuk.
Secara ilmiah, menguap menular merupakan bagian dari "echophenomena" yakni perilaku otomatis yang meniru aksi orang lain.
Fenomena ini dipicu oleh neuron cermin (mirror neurons) di otak, yaitu sel saraf yang aktif saat kita melihat tindakan orang lain, termasuk menguap.
Ketika kita melihat seseorang menguap, neuron ini secara tidak sadar mengaktifkan bagian otak yang membuat kita ikut menguap juga.
Menurut penjelasan dari Hello Sehat, menguap menular berkaitan erat dengan "tingkat empati" seseorang.
Semakin tinggi empati dan kepekaan sosial seseorang, semakin besar kemungkinan ia ikut menguap saat melihat orang lain melakukannya.
Ini karena empati membuat otak kita lebih "terhubung" secara emosional dengan orang lain, sehingga lebih responsif terhadap sinyal sosial seperti menguap.
Fungsi Menguap Bagi Tubuh
Tak hanya sebagai ekspresi lelah atau bosan, menguap juga memiliki fungsi fisiologis penting yakni Membantu mengatur suhu otak dan Meningkatkan konsentrasi dan kesiagaan
Menurut KlikDokter, saat otak terlalu panas atau jenuh, menguap membantu mendinginkannya sehingga kita bisa kembali fokus.
Tidak Semua Orang Bisa Mengalami Menguap Menular
Fenomena ini tidak terjadi pada semua orang. Misalnya:
1. Anak-anak di bawah 4 tahun belum mengalami menguap menular karena bagian otak untuk interaksi sosial belum berkembang optimal.
2. Individu dengan gangguan spektrum autisme cenderung tidak menunjukkan reaksi menguap menular karena keterbatasan dalam empati sosial.
Menguap Menular Juga Terjadi pada Hewan
Yang lebih mengejutkan, menguap menular juga ditemukan pada hewan sosial seperti simpanse dan anjing.
Mereka bisa ikut menguap ketika melihat sesamanya atau bahkan pemiliknya menguap.
Hal ini menandakan bahwa ikatan emosional dan sosial bukan hanya terjadi antar manusia, tetapi juga bisa melampaui spesies.
Jika kamu sering ikut menguap hanya karena melihat orang lain menguap, jangan khawatir.
Itu bukan kelemahan, melainkan tanda bahwa kamu adalah pribadi yang peka secara sosial, memiliki empati tinggi, dan berhubungan baik dengan lingkungan sosialmu. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah