Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kenapa Kita Ikut Tegang saat Lihat Orang Lain Gugup di Panggung? Begini Penjelasan Ilmiahnya

Aini Nihayatul Khusna • Sabtu, 5 Juli 2025 | 03:30 WIB
Ikut tegang saat lihat orang lain gugup? Ini bukan perasaan biasa. Emotional contagion, neuron cermin, dan ekspresi wajah punya peran besar dalam penularan emosi. Simak penjelasan lengkapnya di sini.
Ikut tegang saat lihat orang lain gugup? Ini bukan perasaan biasa. Emotional contagion, neuron cermin, dan ekspresi wajah punya peran besar dalam penularan emosi. Simak penjelasan lengkapnya di sini.

TULUNGAGUNG - Emotional contagion atau penularan emosi, yang terjadi saat tubuh dan otak kita meniru emosi orang lain secara otomatis, bahkan tanpa kita sadari.

Penularan emosi adalah proses di mana emosi bisa menular hanya melalui pengamatan.

Ketika kamu melihat seseorang gugup, takut, atau canggung, kamu bisa ikut merasakan emosi tersebut, itu termasuk penularan emosi. 

Bahkan dalam situasi yang tidak kamu alami sendiri.

Menurut psikolog Elaine Hatfield, penularan emosi terjadi karena otak manusia dirancang untuk menangkap dan meniru sinyal sosial dari orang lain—terutama ekspresi wajah, intonasi suara, dan gerakan tubuh.

Penularan emosi ini sangat cepat.

Kamu tidak perlu mengenal orang tersebut secara pribadi, cukup melihat ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya, maka kamu akan mulai merasakan efeknya.

Neuron cermin dan empati adalah kunci dari mengapa penularan emosi bisa terjadi.

Neuron cermin, atau mirror neurons, pertama kali ditemukan pada tahun 1990-an oleh tim peneliti dari Universitas Parma, Italia.

Mereka menemukan bahwa neuron tertentu menyala tidak hanya saat seekor monyet melakukan suatu tindakan, tetapi juga saat ia melihat orang lain melakukannya.

Hal yang sama terjadi pada manusia.

Saat kamu melihat orang lain gemetar karena gugup, neuron cermin di otakmu ikut aktif seolah kamulah yang mengalami hal tersebut.

Inilah yang menyebabkan kamu bisa ikut tegang saat lihat orang lain gugup di panggung.

Penularan emosi semakin kuat ketika didukung oleh ekspresi wajah dan bahasa tubuh.

Ekspresi wajah yang menegang, keringat di dahi, gerakan tangan yang gelisah, semua itu adalah sinyal non-verbal yang sangat kuat.

Otak manusia sangat peka terhadap sinyal seperti ini karena itu adalah bagian dari sistem sosial yang sudah tertanam sejak zaman prasejarah.

Ekspresi wajah dan bahasa tubuh menjadi alat komunikasi yang mendahului bahasa lisan.

Maka tidak heran, ketika seseorang terlihat gugup, tubuh kita merespons sinyal tersebut seperti alarm kita menjadi siaga, ikut cemas, bahkan berkeringat.

Mirror neurons manusia membuat kita bisa “merasakan” pengalaman orang lain seolah itu milik kita sendiri.

Inilah yang menjadi dasar dari empati emosional, yaitu kemampuan untuk tidak hanya memahami, tapi juga ikut merasakan emosi orang lain.

Menurut ahli neurosains Jean Decety, empati melibatkan bagian otak seperti amigdala dan insula, yang berperan dalam mengenali emosi dan mengatur respons tubuh terhadapnya.

Jadi, saat kamu ikut grogi atau merasa tidak nyaman ketika melihat orang lain gugup, sebenarnya otakmu sedang menunjukkan respon empatik.

Kamu sedang merasakan pengalaman sosial orang lain secara langsung melalui sistem neuronmu sendiri.

Ikut tegang saat lihat orang lain gugup bukan kelemahan, tapi tanda kamu peka secara sosial.

Banyak orang mengira bahwa ikut tegang karena melihat orang lain gugup berarti mereka terlalu sensitif atau lemah secara emosional.

Padahal, ini adalah bukti bahwa sistem sosial otak mereka bekerja dengan baik.

Mereka memiliki empati dan mampu membaca sinyal sosial secara akurat.

Namun tentu, tingkat penularan emosi ini bisa berbeda-beda tergantung kondisi.

Orang dengan tingkat empati rendah atau kondisi neurologis seperti autisme, misalnya, cenderung mengalami respons yang lebih datar terhadap ekspresi sosial.

Penularan emosi adalah mekanisme sosial yang menghubungkan kita satu sama lain.

Mulai dari tertular tawa, sedih saat melihat orang menangis, sampai ikut grogi saat orang lain gugup semua ini adalah bentuk nyata dari hubungan emosional lintas individu.

Otak manusia memang dirancang bukan hanya untuk berpikir, tetapi juga untuk terhubung secara emosional.

Ikut tegang saat lihat orang lain gugup adalah reaksi alami dan manusiawi

Fenomena ini terjadi karena perpaduan antara emotional contagion, neuron cermin dan empati, serta respons terhadap ekspresi wajah dan bahasa tubuh.

Semua ini menunjukkan bahwa kita makhluk sosial yang tidak bisa dipisahkan dari emosi orang lain.

Jadi, jika kamu ikut tegang saat melihat temanmu gugup di atas panggung, jangan salahkan dirimu.

Itu bukan kelemahan. Itu adalah tanda bahwa kamu manusia dan kamu terhubung. (*)

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#neuron cermin #penularan emosi