Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kebal Terhadap Rasa Pedas, Ternyata Ini Alasan Orang Indonesia Kuat Makan Pedas

Savina Ayu Wardani • Sabtu, 19 Juli 2025 | 02:00 WIB
Orang Indonesia terkenal dengan kecintaannya terhadap makanan pedas. Dari sambal terasi, rica-rica, hingga balado, hampir semua daerah di Indonesia memiliki hidangan khas yang pedasnya menggigit.
Orang Indonesia terkenal dengan kecintaannya terhadap makanan pedas. Dari sambal terasi, rica-rica, hingga balado, hampir semua daerah di Indonesia memiliki hidangan khas yang pedasnya menggigit.

TULUNGAGUNG - Orang Indonesia terkenal dengan kecintaannya terhadap makanan pedas. Dari sambal terasi, rica-rica, hingga balado, hampir semua daerah di Indonesia memiliki hidangan khas yang pedasnya menggigit. Tapi pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa orang Indonesia kuat makan pedas? Apakah ini hanya karena kebiasaan? Atau ada alasan ilmiah di baliknya?

Dalam artikel ini, kita akan membahas penjelasan ilmiah dan biologis tentang mengapa banyak orang Indonesia tampak kebal terhadap rasa pedas yang bisa membuat orang lain menangis atau kepedasan hanya dengan satu suapan.

Adaptasi Biologis dan Kebiasaan Sejak Kecil
Salah satu alasan utama orang Indonesia tahan pedas adalah paparan sejak dini. Banyak anak Indonesia sudah dikenalkan pada makanan pedas sejak kecil, bahkan saat masih balita dalam bentuk sambal yang lebih ringan.

Proses adaptasinya: Rasa pedas berasal dari senyawa capsaicin yang ditemukan dalam cabai, capsaicin menstimulasi reseptor nyeri (TRPV1) di lidah dan mulut seiring waktu, tubuh menjadi terbiasa dengan sinyal nyeri tersebut. Reseptor menjadi kurang sensitif, membuat rasa pedas terasa lebih ringan dari sebelumnya.

Ini mirip seperti toleransi terhadap rasa pahit kopi atau bir—semakin sering dikonsumsi, tubuh semakin terbiasa.

Faktor Genetik dan Sensitivitas Lidah
Beberapa studi menunjukkan bahwa sensitivitas terhadap rasa pedas bisa bersifat genetik. Setiap orang memiliki jumlah dan jenis reseptor nyeri (TRPV1) yang berbeda. Orang yang memiliki jumlah reseptor lebih sedikit atau tingkat sensitivitas yang lebih rendah cenderung:

Lebih tahan pedas, tidak merasa terlalu kepanasan bahkan bisa merasa senang dengan sensasi pedas. Walau tidak semua orang Indonesia punya gen ini, kombinasi antara faktor genetik dan pembiasaan sejak kecil membuat sebagian besar masyarakatnya tahan terhadap cabai level tinggi.

Kondisi Iklim Tropis dan Peran Cabai dalam Kesehatan
Indonesia adalah negara beriklim tropis dengan suhu dan kelembaban tinggi. Makanan pedas memiliki efek termogenik, yaitu meningkatkan suhu tubuh dan memicu keringat. Ini sebenarnya justru membantu tubuh mendinginkan diri secara alami melalui proses penguapan keringat.

Selain itu, capsaicin dalam cabai memiliki manfaat kesehatan, seperti: Meningkatkan metabolisme, membantu pencernaan, memiliki efek antibakteri alami, membantu melegakan hidung tersumbat dan pernapasan. Makanan pedas juga bisa memperpanjang daya simpan makanan, sehingga cocok untuk daerah tropis yang mudah lembap dan cepat rusak.

Budaya Kuliner dan Identitas Daerah
Pedas sudah menjadi identitas kuliner Indonesia, bahkan bagian dari budaya. Banyak daerah di Indonesia memiliki ciri khas sambal masing-masing: Sambal terasi di Jawa, sambal matah di Bali, rica-rica di Sulawesi, balado di Minang dan sambal dabu-dabu di Manado.

Dalam banyak keluarga Indonesia, makan tanpa sambal dianggap belum lengkap. Sambal bukan sekadar pelengkap, tapi inti dari kenikmatan makan. Jadi, selain alasan biologis, budaya makan pedas diwariskan secara sosial dari generasi ke generasi.

Faktor Psikologis: Pedas Itu Bikin Nagih
Meski secara teknis rasa pedas adalah rasa sakit yang dirasakan lidah, tapi tubuh merespons dengan melepaskan endorfin dan dopamin, yaitu hormon yang menimbulkan rasa senang dan puas. Inilah mengapa:

Meskipun terasa panas dan menyakitkan, banyak orang merasa puas setelah makan pedas. Makan pedas bisa membuat orang merasa lebih hidup dan menantang diri sendiri. Dalam konteks ini, makanan pedas bukan sekadar kebiasaan, tapi juga semacam "pengalaman emosional".

Kecintaan orang Indonesia terhadap makanan pedas tidak datang begitu saja. Kombinasi dari adaptasi biologis, pengaruh genetik, budaya makan, kondisi iklim tropis, dan efek psikologis menjadikan masyarakat Indonesia terkenal kuat makan pedas. Bukan hanya bisa menahan rasa pedas, tapi juga menikmati dan mencintainya sebagai bagian dari identitas kuliner.

 

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#pedas #sambal #orang indonesia