Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Berikut Penyebab OCD yang Sering Tidak Disadari, Ternyata Bukan Sekadar Kebiasaan

Savina Ayu Wardani • Rabu, 30 Juli 2025 | 01:45 WIB
OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) atau gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan mental yang ditandai dengan pikiran obsesif yang tidak diinginkan (obsesi) dan dorongan untuk melakukan tindakan.
OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) atau gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan mental yang ditandai dengan pikiran obsesif yang tidak diinginkan (obsesi) dan dorongan untuk melakukan tindakan.

TULUNGAGUNG - OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) atau gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan mental yang ditandai dengan pikiran obsesif yang tidak diinginkan (obsesi) dan dorongan untuk melakukan tindakan berulang (kompulsi).

Banyak orang dengan OCD merasa terjebak dalam lingkaran kecemasan dan ritual yang sulit dikendalikan. Tapi apa sebenarnya penyebab OCD? 

Yuk kita membahas secara ilmiah dan rinci tentang faktor-faktor yang dapat memicu dan memperparah OCD.

Faktor Genetik (Keturunan)

Salah satu penyebab utama OCD adalah faktor genetik. Penelitian menunjukkan bahwa OCD bisa diturunkan dalam keluarga. Jika ada anggota keluarga inti, seperti orang tua atau saudara kandung yang mengalami OCD, risiko seseorang mengalami gangguan ini menjadi lebih tinggi.

Namun, faktor genetik tidak selalu menentukan, artinya tidak semua orang yang memiliki riwayat keluarga OCD pasti akan mengalami OCD. Gen hanya meningkatkan risiko, bukan penyebab mutlak.

Ketidakseimbangan Kimia Otak (Neurotransmitter)

OCD juga berkaitan dengan ketidakseimbangan neurotransmitter di otak, terutama serotonin, yaitu zat kimia yang memengaruhi suasana hati, kecemasan, dan perilaku. Kadar serotonin yang rendah dipercaya berperan dalam munculnya gejala OCD.

Selain itu, aktivitas berlebih pada bagian otak tertentu, seperti korteks orbitofrontal, ganglia basal, dan thalamus, juga sering ditemukan pada penderita OCD. Ketidakseimbangan ini menyebabkan pikiran berulang (obsesi) dan dorongan kuat untuk melakukan ritual kompulsif.

Faktor Psikologis dan Trauma

Beberapa kasus OCD dapat dipicu oleh pengalaman traumatis, seperti kekerasan, kehilangan orang terdekat, atau stres berat. Trauma dapat menciptakan kecemasan berlebih, yang kemudian berkembang menjadi pola pikir obsesif.

Selain itu, kepribadian perfeksionis, sangat berhati-hati, dan cenderung cemas juga meningkatkan risiko seseorang mengalami OCD. Pikiran negatif atau keyakinan tidak realistis tentang tanggung jawab dan bahaya bisa memperparah obsesi.

Baca Juga: Susah Tidur? Ini Penyebab dan Cara Ampuh Mengatasinya Secara Alami, Anda Bisa Cepat Pulas

Lingkungan dan Pola Asuh

Lingkungan tempat seseorang tumbuh juga dapat memengaruhi risiko OCD. Pola asuh yang terlalu ketat, penuh tekanan, atau perfeksionis dapat memicu kebiasaan kompulsif. Anak-anak yang dibesarkan dengan tuntutan tinggi terhadap kebersihan, ketertiban, dan kesempurnaan berisiko mengalami OCD.

Selain itu, stres lingkungan, seperti tekanan akademik, pekerjaan, atau konflik sosial, bisa memperburuk gejala OCD pada seseorang yang sudah memiliki kecenderungan genetik.

Infeksi dan Gangguan Imunologi (PANDAS)

Dalam kasus langka, OCD dapat muncul secara tiba-tiba pada anak-anak setelah infeksi bakteri streptokokus, kondisi ini dikenal sebagai PANDAS (Pediatric Autoimmune Neuropsychiatric Disorders Associated with Streptococcal Infections).

Infeksi ini memicu respons autoimun, yang memengaruhi otak dan menyebabkan munculnya gejala OCD atau tic. Meskipun jarang, kondisi ini menjadi perhatian medis khusus dalam kasus OCD anak.

Penyebab OCD bersifat kompleks dan multifaktor. Kombinasi antara genetik, kimia otak, lingkungan, trauma, dan stres dapat memicu munculnya OCD.

Penting untuk memahami bahwa OCD bukan karena kelemahan mental atau kebiasaan buruk, melainkan kondisi medis yang dapat diatasi dengan terapi, pengobatan, dan dukungan yang tepat. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#ocd #penyebab #tidak disadari #kebiasaan