Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Viral Sindikat Pemerasan di Industri Skincare, Dokter Kecantikan Diduga Lakukan Pemerasan Berkedok Endorse

Ria Romadoni • Kamis, 31 Juli 2025 | 19:25 WIB

 

Industri kecantikan kembali geger setelah muncul dugaan adanya sindikat pemerasan skincare kembali diguncang setelah dr Richard Lee mengungkapnya.
Industri kecantikan kembali geger setelah muncul dugaan adanya sindikat pemerasan skincare kembali diguncang setelah dr Richard Lee mengungkapnya.

JAKARTA-Industri kecantikan kembali geger setelah muncul dugaan adanya sindikat pemerasan skincare yang melibatkan akun-akun besar yang mengaku sebagai dokter kecantikan kembali diguncang setelah dr Richard Lee mengungkapnya.

Dalam video podcast yang ia unggah, dr Richard Lee membongkar modus operandi sejumlah akun media sosial yang berkedok sebagai dokter kecantikan namun justru menggunakan review palsu untuk menekan brand skincare lokal. 

Modus sindikat pemerasan skincare yang terungkap di video podcast dr Richard Lee  ini diawali dengan kedok kolaborasi. Pihak oknum dokter kecantikan akan menghubungi brand skincare lokal secara personal untuk menawarkan “kerja sama konten”.

Dalam sebuah video yang viral, seorang kreator konten membongkar modus pemerasan terselubung yang dilakukan oleh oknum dokter yang menghubungi brand skincare lokal dengan dalih menawarkan kerja sama endorse.

Jika tawaran tersebut tidak ditanggapi, akun itu justru menyebarkan konten negatif tentang produk, seolah-olah melakukan review jujur.

Akun tersebut akan mulai memproduksi konten berisi tuduhan serius, seperti produk tidak aman, tidak BPOM, atau membahayakan kulit. `

Baca Juga: Nikita Mirzani Didakwa Pemerasan dan TPPU, Irjen Pol (Purn) Ricky Sitohang: JPU Dinilai Sudah Sesuai Fakta, Tantang Nikita Bongkar Fakta Dipersidangan

Banyak dari konten tersebut dikemas dengan narasi edukatif dan tampilan profesional lengkap dengan jas putih dan bahasa teknis padahal belum tentu didasari oleh pengalaman langsung atau data ilmiah.

Tujuan akhirnya bukan untuk mengedukasi, melainkan menekan brand agar memberikan kompensasi finansial sebagai "biaya damai".

Praktik review palsu semacam ini tentu sangat merugikan brand lokal, terutama pelaku UMKM yang masih merintis.

Beberapa pemilik usaha mengaku mengalami penurunan penjualan drastis hanya dalam hitungan minggu usai diserang konten semacam itu.

Mereka tidak memiliki kapasitas legal ataupun dana untuk melawan serangan reputasi secara digital.

Baca Juga: Tanpa Izin BPOM, Warga Tulungagung Diminta Lebih Teliti sebelum Membeli Skincare, Begini Cara Cek Produk

Bahkan dalam beberapa kasus, brand sampai menutup akun penjualan dan membekukan produksi karena tekanan mental dan serbuan netizen yang termakan framing negatif. 

Dalam video berdurasi tujuh menit tersebut, narator juga menyinggung bahwa praktik ini meluas di kalangan akun-akun dengan pengikut besar. Mereka mendekati banyak brand kecil yang tengah naik daun, lalu memanfaatkan status "influencer medis" untuk menakut-nakuti.

Bahkan disebutkan bahwa beberapa di antaranya akan menawarkan pencabutan konten atau perbaikan citra asalkan pihak brand bersedia membayar sejumlah uang.

Penggunaan istilah medis, grafik, dan bahasa edukatif tidak selalu berarti informatif. Beberapa akun justru menggunakannya untuk menciptakan kesan kredibel, padahal kontennya ditujukan untuk menjatuhkan.

Baca Juga: Kolaborasi dengan BPOM Surabaya, Heru Tjahjono Tegaskan Keamanan Obat Tradisional

Narator dalam video tersebut tidak menyebut nama akun yang dimaksud, namun tujuannya jelas: membangun kesadaran publik agar tidak mudah terpengaruh.

Ia juga mendorong para pelaku bisnis skincare untuk berani speak up dan tidak tunduk pada tekanan semacam ini. “Kalau kita terus diam, mereka akan semakin berani. Kita harus lawan dengan data dan bukti,” ujarnya tegas.

Seruan ini kemudian mendapat banyak dukungan dari netizen, terutama komunitas pelaku usaha kecil dan penonton yang pernah merasa dirugikan oleh review abal-abal.

Di sisi lain, publik mulai mempertanyakan: apakah semua akun "edukasi kecantikan" benar-benar netral? Bagaimana memastikan bahwa konten yang viral benar-benar berdasarkan pengalaman pribadi dan bukan bagian dari agenda terselubung? Ini menjadi pengingat bahwa edukasi digital, terutama di bidang kesehatan dan kecantikan, perlu pengawasan etik.

Jika memang benar dokter terlibat dalam skema semacam ini, maka ada pelanggaran kode etik yang harus ditindaklanjuti secara serius.

Review harus didasarkan pada pengalaman nyata dan data ilmiah yang transparan, bukan menjadi alat tekanan yang menyesatkan publik. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#doktif #nikmir #dokter richard #pemerasan #skincare