RADAR TULUNGAGUNG - Sebagai orang tua, sering kali kita melihat anak yang aktif bergerak, sulit diam, bahkan tak kenal lelah bermain.
Tak jarang, kondisi ini membuat banyak bunda langsung mengira anak mengalami ADHD. Padahal, tidak semua anak yang tampak hiperaktif berarti memiliki gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas tersebut.
Ada perbedaan penting antara anak yang sekadar aktif dengan anak yang benar-benar mengalami ADHD.
Memahami perbedaannya sangat penting agar bunda bisa memberikan dukungan yang tepat sesuai kebutuhan si kecil.
Baca Juga: Bolehkah Memberikan Gadget ke Bayi, Ini Bahaya, Solusi, dan Alternatif Aman Pola Asuh Anak
Anak Aktif vs ADHD, Apa Bedanya?
Tidak semua anak yang suka berlari, banyak bicara, atau sulit diam berarti mengalami ADHD.
Pada dasarnya, anak aktif adalah hal wajar karena mereka sedang berada di fase eksplorasi. Namun, ADHD merupakan kondisi medis yang membutuhkan perhatian khusus.
Ciri-Ciri Anak Hiperaktif Biasa
Anak hiperaktif biasanya menunjukkan tanda-tanda berikut:
-
Suka bergerak dan bermain tanpa henti.
-
Mudah penasaran dengan banyak hal baru.
-
Kadang sulit fokus, tapi bisa berkonsentrasi jika hal yang disukai.
-
Tetap bisa mengikuti aturan jika diarahkan dengan baik.
Artinya, meskipun aktif, anak hiperaktif biasa masih bisa dikendalikan dengan bimbingan.
Ciri-Ciri Anak dengan ADHD
Sementara itu, anak dengan ADHD memiliki gejala yang lebih kompleks, seperti:
-
Kurang fokus terus-menerus, bahkan pada hal yang mereka sukai.
-
Sering lupa mengerjakan tugas atau membawa barang penting.
-
Sulit mengendalikan impuls, misalnya sering memotong pembicaraan.
-
Kesulitan mengikuti instruksi meski sudah diarahkan berulang kali.
-
Perilaku tidak konsisten dan berlangsung lebih dari 6 bulan.
ADHD bukan sekadar anak yang “nakal” atau “tidak bisa diam,” melainkan kondisi neurobiologis yang perlu ditangani dengan tepat.
Cara Mengatasi Anak Hiperaktif atau ADHD
-
Pahami kondisi anak tanpa membandingkan dengan yang lain.
-
Buat rutinitas harian agar anak terbiasa dengan pola yang teratur.
-
Berikan instruksi singkat dan jelas, jangan terlalu panjang.
-
Gunakan pendekatan positif, hindari bentakan atau hukuman fisik.
-
Salurkan energi lewat olahraga atau aktivitas kreatif.
-
Batasi penggunaan gadget agar anak lebih fokus.
-
Konsultasikan dengan profesional jika gejala makin mengganggu aktivitas.
Kapan Bunda Perlu Waspada?
Bunda sebaiknya mulai waspada jika anak sering kesulitan belajar di sekolah, sulit kendalikan perilaku meski sudah diarahkan berulang kali.
Maupun saat aktivitas anak mengganggu hubungan sosial dengan teman atau keluarga.
Jika tanda-tanda ini muncul, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog untuk evaluasi lebih lanjut.
Cara Bunda Mendukung Anak
-
Sabar dan konsisten dalam memberi aturan.
-
Buat jadwal harian agar anak terbiasa dengan rutinitas.
-
Hindari bentakan, gunakan pendekatan positif.
-
Ajak anak menyalurkan energi melalui olahraga atau aktivitas kreatif.
-
Jika terdiagnosis ADHD, ikuti arahan terapi dari tenaga profesional.
Tidak semua anak yang aktif berarti ADHD. Anak hiperaktif masih bisa diarahkan dengan baik, sedangkan ADHD memerlukan perhatian medis khusus.
Dengan mengenali perbedaannya, bunda bisa memberikan dukungan terbaik sesuai kebutuhan si kecil. ****
Editor : Dharaka R. Perdana