Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

FOMO Sebuah Kewajaran di Era Digital, Benarkah Bisa Mengganggu Kesehatan Mental?

Savina Ayu Wardani • Senin, 25 Agustus 2025 | 05:50 WIB
FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out, adalah kondisi psikologis berupa kecemasan atau kekhawatiran bahwa orang lain sedang mengalami pengalaman yang penting, menyenangkan, atau menguntungkan.
FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out, adalah kondisi psikologis berupa kecemasan atau kekhawatiran bahwa orang lain sedang mengalami pengalaman yang penting, menyenangkan, atau menguntungkan.

RADAR TULUNGAGUNG - FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out, adalah kondisi psikologis berupa kecemasan atau kekhawatiran bahwa orang lain.

Khususnya sedang mengalami pengalaman yang penting, menyenangkan, atau menguntungkan yang kita lewatkan.

Perasaan ini bukan sekadar penasaran sesaat; FOMO mencakup dorongan terus-menerus untuk memantau kegiatan sosial orang lain.

Baca Juga: Psikologi di Balik Teori Konspirasi, Kenapa Banyak Orang Percaya?

Selain itu perasaan tidak cukup baik, serta keinginan kuat mencari konfirmasi atau keterlibatan sosial agar tidak tertinggal.

Asal-usul Konsep dan Pengukuran

Konsep FOMO menjadi populer seiring meluasnya penggunaan media sosial. Namun psikolog telah mengukurnya secara sistematis dengan skala yang dikembangkan peneliti psikologi.

Skala ini menilai frekuensi kecemasan terkait melewatkan pengalaman sosial, intensitas dorongan memeriksa informasi, serta dampaknya pada kesejahteraan.

Temuan dari studi awal menunjukkan hubungan kuat antara skor FOMO yang tinggi dan penggunaan media sosial yang intens, serta hubungan terbalik dengan kepuasan hidup dan kesejahteraan subjektif.

Baca Juga: Anak Muda Tulungagung Perlu Tahu: Dampak Negatif FOMO dan Tips Mengatasinya

Mekanisme Psikologis yang Mendasari FOMO

Secara psikologis, FOMO muncul dari gabungan beberapa mekanisme yang saling menguatkan.

Pertama, perbandingan sosial membuat orang membandingkan kehidupan mereka dengan “highlight” orang lain, sehingga ketika hasil perbandingan itu negatif muncul rasa kekurangan.

Kedua, kebutuhan dasar manusia akan keterikatan sosial dan penerimaan yang dijelaskan dalam teori kebutuhan dasar seperti self-determination theory.

Hal ini membuat individu yang merasa kurang pemenuhan kebutuhan relatedness rentan terhadap FOMO.

Ketiga, pola penguatan intermiten dari media sosial (gambar, like, komentar yang tidak pasti) menciptakan mekanisme reward yang mirip mesin slot, sehingga perilaku memeriksa feed menjadi kompulsif.

Keempat, kecenderungan kognitif seperti anticipatory anxiety (kecemasan antisipatif), catastrophizing (membesar-besarkan konsekuensi), dan bias perhatian terhadap peluang sosial memperkuat kekhawatiran untuk “ketinggalan”.

Baca Juga: Fomo Boneka Labubu, Konspirasi Taotie Makhluk Mitologi Tiongkok

Bagaimana FOMO Muncul Dalam Perilaku Sehari-Hari

Secara perilaku, FOMO sering tampak sebagai kebiasaan memeriksa ponsel berulang-ulang (kompulsif).

Mereka kesulitan untuk menetapkan batas waktu penggunaan media sosial, kecenderungan menerima undangan atau aktivitas berlebih agar tidak melewatkan sesuatu, dan gangguan pada perhatian atau tugas karena terus-menerus memantau feed.

FOMO juga dapat membuat orang berpartisipasi dalam kegiatan hanya demi tampak “up-to-date”, atau berbelanja impulsif untuk mengikuti tren, serta menolak cuti digital karena takut kehilangan informasi penting.

Dampak Terhadap Kesehatan Mental dan Fungsi Sehari-Hari

Bukti penelitian konsisten menunjukkan bahwa skor FOMO yang tinggi berkaitan dengan peningkatan gejala kecemasan, depresi, kesepian, dan penurunan kepuasan hidup.

Secara perilaku, FOMO dapat mengganggu tidur (misalnya lewat “doomscrolling” larut malam), menurunkan konsentrasi dan produktivitas, serta memperlemah kualitas hubungan interpersonal karena perhatian yang terpecah.

Pada tingkat fisiologis, paparan stres sosial kronis yang berkaitan dengan FOMO dapat menaikkan respons stres tubuh, termasuk perubahan pola tidur dan kemungkinan kenaikan hormon stres pada beberapa individu.

Baca Juga: FOMO dalam Lingkup Pertemanan Mahasiswa Terhadap Kesehatan Mental

FOMO adalah hal yang wajar dialami di era media sosial, tetapi jika dibiarkan, ia bisa mengganggu kesehatan mental dan kebahagiaan kita. Ingatlah bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk selalu mengikuti orang lain.

Fokuslah pada apa yang membuatmu merasa bermakna, syukuri hal-hal kecil dalam hidup, dan batasi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Dengan begitu, kamu bisa lebih tenang, bahagia, dan benar-benar menikmati momen tanpa harus terus merasa takut tertinggal. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#Fakta Psikologi #fomo #penjelasan