TULUNGAGUNG – Rio Budi Dwitama, Branch Manager Biznet Tulungagung, membagikan kesan pertamanya setelah tiga bulan menetap di Kota Marmer.
Menurutnya, Tulungagung memiliki suasana yang nyaman dan cenderung slow living dibandingkan kota besar seperti Surabaya, Jogja, atau Jakarta.
“Kalau saya compare dengan kota besar, Tulungagung lebih slow living. Tidak ada kemacetan parah, orang-orang juga terlihat lebih nyaman tinggal di sini,” ungkap Rio saat berkunjung ke kantor Radar Tulungagung pada Selasa (17/9).
Namun, ada satu hal yang cukup mengejutkan baginya. Rio mengaku mengalami culture shock soal harga makanan di Tulungagung.
“Awalnya saya kira harga makanan lebih murah, seperti pengalaman saya saat kerja di Madiun. Ternyata harganya hampir sama dengan Surabaya,” jelasnya.
Rio mencontohkan, saat pertama kali tiba, ia membeli mie ayam dengan harga Rp12 ribu di kawasan RSUD dr. Iskak.
Harga itu, menurutnya, tidak jauh berbeda dengan Surabaya. “Dengan UMR yang lebih rendah dari Surabaya, tapi harga makanan sama, saya jadi bertanya-tanya bagaimana masyarakat di sini mengatur keuangannya,” tambahnya.
Meski begitu, Rio menilai masyarakat Tulungagung tetap mampu beradaptasi. Ia menduga, daya konsumtif warga cukup tinggi, dan sebagian mungkin memiliki usaha tambahan untuk menopang kebutuhan hidup.
Selain itu, dari sisi potensi bisnis dan teknologi, Rio optimistis Tulungagung memiliki prospek cerah. Kehadiran banyak tenant populer dan geliat pasar digital menjadi indikator bahwa Tulungagung bukan lagi dianggap kota kecil yang tertinggal.
“Kalau sudah ada brand-brand besar masuk, itu tandanya daerah ini berkembang. Potensinya besar untuk teknologi maupun bisnis ke depan,” pungkasnya.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.