Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Waspada! Fenomena 'Doomscrolling' Mengintai Kesehatan Mental Anak Muda Tulungagung, Apa Itu?

Shofia Indana Zulfa • Minggu, 21 September 2025 | 05:05 WIB

Kebiasaan doomscrolling membuat anak muda terus terpapar berita negatif tanpa henti, memicu stres dan kecemasan. (pixabay.com)
Kebiasaan doomscrolling membuat anak muda terus terpapar berita negatif tanpa henti, memicu stres dan kecemasan. (pixabay.com)

RADAR TULUNGAGUNG - Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi mengalir tanpa henti, seringkali membawa serta kabar-kabar yang memicu kecemasan dan stres.

Banyak dari kita mungkin pernah mengalami, tanpa sadar, tangan terus menggulir layar ponsel, berpindah dari satu berita buruk ke berita buruk lainnya.

Kebiasaan terus-menerus membaca berita negatif atau yang dikenal dengan istilah 'doomscrolling' ini telah menjadi fenomena yang semakin marak terjadi, khususnya di kalangan anak muda, dan punya dampak serius pada kesehatan mental.

Beberapa pekan terakhir, media sosial dan portal berita di seluruh negeri, termasuk yang mungkin diakses oleh warga Tulungagung, terus dipenuhi dengan kabar buruk.

Mulai dari bencana alam seperti banjir, konflik politik yang memanas, hingga masalah ekonomi yang menimbulkan kekhawatiran.

Baca Juga: Efek Scroll TikTok Berjam-Jam terhadap Otak, Dampak yang Mungkin Belum Disadari dan Bisa Ganggu Kesehatan Mental

Pembaca seolah tidak diberi jeda untuk mencerna berbagai berita yang menguras emosi itu. Canggihnya teknologi membuat masyarakat terpapar berita-berita ini tanpa henti, dan kebiasaan doomscrolling ini dapat memicu kecemasan berlebih dan depresi.

Fenomena doomscrolling bukanlah sekadar kebiasaan buruk yang bisa diabaikan. Penelitian dari University of Florida menegaskan bahwa ini adalah perilaku unik yang berbeda dari sekadar mencari berita biasa.

Meski seseorang tahu bahwa informasi yang dikonsumsi membuat cemas, sulit sekali untuk berhenti.

Ini adalah hasil dari interaksi rumit antara teknologi canggih dan insting psikologis manusia, seolah-olah ada magnet yang menarik untuk terus mencari informasi negatif.

Matthew Price, seorang profesor ilmu psikologi di Universitas Vermont, menjelaskan bahwa menerima terlalu banyak berita negatif dapat menyebabkan kecemasan dan depresi, meskipun hanya bersifat sementara.

Namun, dampaknya akan jauh lebih buruk bagi orang-orang yang memang sudah memiliki riwayat kecemasan, depresi, atau PTSD, karena kondisi mereka bisa memburuk akibat paparan tersebut.

Ketika seseorang melakukan doomscrolling, ia seperti sedang mencari solusi untuk masalah yang ada, dengan membaca lebih banyak postingan atau artikel, berharap bisa mengerti masalahnya jika mendapatkan lebih banyak informasi.

Tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, kebiasaan doomscrolling juga dapat memicu stres yang berefek fisik.

Paparan berita traumatis, seperti kejadian kekerasan yang dilihat secara terus-menerus, dapat meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan kadar kortisol, hormon stres.

Roxane Cohen Silver, profesor psikologi dari University of California, Irvine, menyatakan bahwa ketika seseorang terpapar berita buruk, respons stres alami akan muncul, dan jika itu terjadi berulang kali, tubuh bisa kelelahan.

Dalam jangka pendek, doomscrolling juga dapat menyebabkan kelelahan fisik, terutama pada mata karena terlalu lama menatap layar.

Baca Juga: Kenapa Scroll TikTok Bisa Sampai 3 Jam Gak Kerasa? Begini Cara Otak Tertipu Algoritma

Yang menarik, penelitian juga menunjukkan bahwa doomscrolling lebih sering terjadi pada usia muda dan cenderung lebih banyak pada laki-laki, meskipun dampaknya tidak mengenal batas usia; siapa pun bisa terjebak dalam lingkaran ini.

Para peneliti menyebutkan bahwa kecemasan dan doomscrolling saling mempengaruhi, menciptakan siklus yang sulit diputus.

Studi lain juga memperlihatkan bahwa doomscrolling memiliki hubungan erat dengan sifat kepribadian tertentu, seperti neurotisisme (mudah cemas), kebutuhan tinggi akan informasi, dan rasa takut ketinggalan (FOMO).

Orang dengan skor doomscrolling tinggi juga melaporkan kondisi kesehatan mental yang lebih buruk, mulai dari stres hingga gejala depresi.

Doomscrolling juga dapat memicu existential anxiety, yaitu kecemasan mendalam terkait makna hidup, rasa kehilangan kendali, hingga ketakutan akan masa depan.

Hal ini dapat mengguncang aspek fundamental psikologis manusia, dan dalam jangka panjang, dapat menurunkan kualitas hidup, memengaruhi kepercayaan terhadap dunia luar, dan bahkan menciptakan rasa putus asa kolektif.

Fenomena ini juga diperkuat oleh algoritma media sosial. Setiap kali seseorang membuka media sosial, algoritma canggih sedang bekerja, mempelajari setiap detail interaksi.

Saat mata terpaku pada konten negatif, algoritma mencatatnya sebagai sinyal ketertarikan dan akan terus menyajikan lebih banyak konten serupa, menciptakan siklus yang nyaris mustahil untuk dihentikan.

Dampak jangka panjang dan pendek dari doomscrolling pada kehidupan sehari-hari juga signifikan.

Dalam waktu singkat, doomscrolling dapat mengganggu rutinitas harian, seperti melewatkan makan atau tidur, serta menurunkan produktivitas, baik saat bekerja, kuliah, atau melakukan tugas lainnya.

Seiring waktu, kebiasaan ini bisa merusak hubungan sosial karena lebih fokus pada gawai daripada orang di sekitar.

Selain itu, doomscrolling yang terus-menerus dapat mengikis kemampuan untuk menikmati momen positif karena pikiran terus dibanjiri kabar buruk.

Anak muda sangat rentan terhadap doomscrolling, yang berdampak serius pada kualitas tidur mereka.

Paparan cahaya biru dari layar ponsel di malam hari dapat menekan produksi hormon melatonin, yang berperan penting mengatur siklus tidur alami.

Selain itu, isi konten yang penuh kecemasan dan berita negatif membuat pikiran terus aktif sehingga sulit merasa tenang sebelum tidur.

Melihat dampak serius ini, penting bagi masyarakat, terutama anak muda di Tulungagung, untuk mulai mengambil langkah pencegahan.

Para ahli menyarankan beberapa strategi efektif untuk memutus siklus negatif doomscrolling dan mengembalikan keseimbangan psikologis:

1. Membatasi Diri: Ini adalah langkah awal yang paling efektif.

Batasi waktu yang dihabiskan untuk membaca berita.

Tentukan jadwal khusus, misalnya 15-20 menit di pagi atau sore hari, lalu hindari membukanya di sisa waktu.

Batasi penggunaan gawai menjelang tidur secara konsisten.

2. Diversifikasi Sumber Berita: Jangan hanya mengandalkan media sosial yang algoritmanya cenderung memunculkan konten serupa.

Pilih sumber yang terpercaya dan seimbang. Kurangi notifikasi berita yang sering memicu untuk membuka ponsel.

3. Fokus pada Hal Positif: Alihkan perhatian dari kabar buruk ke hal-hal yang menyehatkan mental.

Temukan hobi baru, habiskan waktu dengan orang-orang terdekat, atau lakukan kegiatan fisik.

Mencari konten positif sebagai penyeimbang juga disarankan.

4. Latih Kesadaran Diri: Pahami mengapa Anda melakukan doomscrolling.

Kesadaran diri adalah langkah awal yang paling penting untuk mengambil kendali.

Ciptakan kebiasaan tidur sehat, seperti membaca buku ringan, untuk membantu tubuh lebih rileks sebelum tidur.

Fenomena doomscrolling ini lebih kompleks dari yang terlihat; ia bukan hanya tentang konsumsi berita, melainkan cerminan interaksi antara sifat pribadi, kecemasan sosial, dan cara media digital mendistribusikan informasi.

Penting untuk menyadari bahwa alih-alih terus mencari kabar buruk, kita bisa memilih untuk memutus siklusnya demi kesehatan mental dan kualitas hidup yang lebih baik. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#berita negatif #Doomscrolling #era digital