Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sering Dighosting tapi Balik Lagi? Waspadai Fenomena Breadcrumbing di Online Dating!

Shofia Indana Zulfa • Selasa, 23 September 2025 | 03:28 WIB
Fenomena breadcrumbing kerap membuat korban terjebak dalam hubungan tanpa kejelasan. (Foto: pixabay.com)
Fenomena breadcrumbing kerap membuat korban terjebak dalam hubungan tanpa kejelasan. (Foto: pixabay.com)

TULUNGAGUNG - Mencari pasangan yang tepat dalam era digital, terutama melalui online dating, penuh dengan lika-liku dan tantangan yang tak ada habisnya.

Meskipun teknologi canggih menawarkan akses ke kandidat pasangan yang lebih beragam dan potensial, memungkinkan komunikasi untuk mendapat gambaran sebelum bertemu di dunia nyata, pengguna harus selalu berhati-hati.

Salah satu tantangan yang perlu diwaspadai adalah fenomena yang dikenal sebagai breadcrumbing.

Perilaku ini menunjukkan bahwa kita harus selalu berhati-hati agar tidak mudah terpikat oleh kata-kata manis atau gombalan yang ternyata tidak memiliki niat serius.

Lalu, apa itu sebenarnya breadcrumbing? Istilah ini berasal dari kata "breadcrumb" atau remah roti, yang berarti potongan roti kering yang sangat kecil.

Breadcrumbing didefinisikan sebagai perilaku seseorang yang sengaja mencari perhatian dan memikat korbannya, tetapi pada kenyataannya, pelaku tidak berniat untuk menjalani hubungan yang serius.

Pelaku menjalankan aksinya melalui komunikasi online.

Taktik ini seringkali berhasil menjebak korban, di mana seseorang seringkali tidak menyadari bahwa mereka sedang dipermainkan sampai perilaku ini berjalan cukup lama.

Ini adalah salah satu bentuk manipulasi emosi yang harus diwaspadai.

Meskipun sering disamakan dengan ghosting, metode mengakhiri hubungan sepihak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, fenomena breadcrumbing memiliki perbedaan mendasar.

Pelaku ghosting biasanya tiba-tiba menghilang dan tidak kembali lagi.

Sebaliknya, pelaku breadcrumbing akan kembali lagi setelah menghilang untuk memberikan perhatian yang sama seperti sebelumnya, seolah tidak terjadi apa-apa.

Pola ini dilakukan secara sporadis, tidak konsisten, dan tidak dapat diprediksi.

Tujuannya adalah untuk mendapatkan kepuasan dari banyaknya perhatian yang diperoleh dari korban, menjaga korbannya tetap tertarik, tetapi memastikan hubungan tersebut tidak maju ke jenjang yang lebih serius.

Mengenali Tanda-Tanda Breadcrumbing

Sangat sulit untuk membedakan mana orang yang benar-benar ingin menjalin hubungan serius atau orang yang hanya main-main.

Oleh karena itu, penting untuk memahami tanda atau pola komunikasi pelaku.

1. Komunikasi yang Tiba-Tiba Menghilang dan Kembali

Tanda pertama adalah ketika pelaku tiba-tiba menghilang tanpa memberikan balasan pesan.

Akan tetapi, mereka bakal kembali lagi, memberi DM atau SMS sesekali, atau memberikan like maupun komentar di media sosial.

Ketika korban menunjukkan tanda tak tertarik, pelaku justru akan berusaha lebih keras untuk memikatnya.

2. Tidak Ada Kejelasan Hubungan dan Menghindari Pertemuan

Pelaku breadcrumbing tidak mau memberikan kejelasan hubungan.

Mereka akan selalu mencari-cari alasan untuk tidak bertemu secara langsung, meskipun merekalah yang memberikan kesan mengajak bertemu.

Orang yang melakukan breadcrumbing biasanya menawarkan ajakan yang tidak jelas dan setengah-setengah, seperti "Kapan-kapan kita ketemu ya".

3. Komunikasi Tidak Konsisten dan Tidak Berbalas

Komunikasi terasa seperti hubungan yang tidak berbalas, di mana Anda lebih banyak menginisiasi komunikasi.

Pelaku mungkin bersikap hangat, tetapi kemudian berubah menjadi dingin, seperti tiba-tiba membutuhkan waktu lama untuk merespons pesan Anda.

Mereka hanya menunjukkan perhatian ketika merasa bahwa korban mulai menjauh.

4. Hanya Mengirim Pesan Ringan

Pelaku sering mengirim pesan singkat sporadis tanpa tujuan jelas, seperti "Hai, apa kabar?" tetapi tidak melanjutkan percakapan.

Mereka juga lebih sering berkomunikasi lewat foto, meme, atau emoji.

Bagi korban, breadcrumbing akan terasa membingungkan, membuat frustrasi, dan menyakitkan, serta membuang-buang waktu.

Pelaku cenderung merasa rendah diri sehingga membutuhkan validasi atas keberadaan yang membuatnya merasa berharga.

Selain itu, breadcumber seringkali merupakan seseorang yang narcissistic.

Mereka memiliki pandangan yang dangkal dan tidak serius akan hubungan, dan tidak merasa bersalah memanipulasi emosi orang lain.

Motif lain yang mendorong perilaku ini adalah:

1. Tidak Mau Berkomitmen: Mereka ingin terhubung tetapi tidak memiliki keinginan untuk menjalin hubungan yang lebih dalam atau serius.

2. Merasa Kesepian: Mereka kesulitan menjalin hubungan yang sehat, dan breadcrumbing menjadi cara untuk tetap bisa terhubung dengan orang lain di dunia maya.

3. Menjadikan Korban sebagai Cadangan: Seringkali, pelaku sudah menjalin hubungan dengan seseorang dan menjadikan korban sebagai "bantalan" atau cadangan jika hubungan utama mereka tidak berakhir baik.

Cara Menghadapi Perilaku Breadcrumbing:

1. Inisiatif Menanyakan Kejelasan Hubungan

Jika ada orang yang sudah mulai intens berkirim pesan, jangan ragu untuk tanya kejelasan dengan tegas.

Dengan begitu, Anda tidak buang-buang waktu dengan membalas orang yang cuma main-main.

2. Ajak Bertemu Secara Langsung

Tawarkan tempat dan waktu secara spesifik untuk bisa bertemu tatap muka.

Jika banyak alasan yang tidak jelas muncul, ini adalah sinyal bahwa mereka tidak serius.

3. Tetapkan Batasan yang Tegas

Penting untuk menetapkan boundaries. Anda harus mendefinisikan apa yang Anda rasa pantas didapatkan dalam suatu hubungan.

Jangan menoleransi perlakuan buruk.

4. Tinggalkan Jika Tidak Ada Kejelasan

Menjalin hubungan tanpa ada masa depan yang jelas hanya akan membuang-buang waktu.

Jika pelaku terlihat tidak memiliki niatan serius, sering mengabaikan, apalagi datang dan pergi sesuka hati, lebih baik move on dari orang tersebut.

Pengalaman dalam hubungan semacam ini bisa membuat perasaan kecewa dan patah hati.

Untuk itu, coba pahami tujuan yang diinginkan oleh kedua pihak ketika menjalin sebuah hubungan dan tetapkan batasan yang sehat.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#mental health #toxic relationship #online dating #Breadcrumbing #relationship