Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ketika Gen Z Tergila-gila Tren Thrifting, Ternyata Ini Alasan Tersembunyi di Baliknya!

Shofia Indana Zulfa • Rabu, 24 September 2025 | 17:40 WIB

Budaya thrifting kian populer di kalangan Gen Z dan Milenial, menghadirkan tren belanja ramah kantong sekaligus ramah lingkungan. (cantika.com)
Budaya thrifting kian populer di kalangan Gen Z dan Milenial, menghadirkan tren belanja ramah kantong sekaligus ramah lingkungan. (cantika.com)

RADAR TULUNGAGUNG - Budaya thrifting, atau aktivitas berbelanja barang bekas, telah berkembang dari sekadar alternatif penghematan.

Kini, budaya ini berkembang menjadi bagian penting dari gaya hidup yang sarat makna dan nilai, terutama di kalangan Generasi Muda Indonesia seperti Gen Z.

Thrifting yang dulunya dipandang sebagai ceruk atau bahkan tabu, kini semakin populer di kalangan Generasi Z, yang didefinisikan lahir antara tahun 1997 dan 2012, membawa perubahan besar dalam kebiasaan konsumsi dan dunia mode.

Popularitas thrifting semakin meluas tidak hanya di kota-kota besar tetapi juga di berbagai daerah.

Bagi Gen Z memilih thrifting adalah pergeseran yang didorong tiga alasan utama: ekspresi diri, kesadaran akan keberlanjutan, dan manfaat finansial.

Baca Juga: Dilema Thrifting : Antara Bisnis dan TPA Fashion Dunia

Berbelanja barang bekas dianggap sebagai cara baru untuk tetap modis, menghemat uang, dan sekaligus memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan dalam kehidupan mereka.

Aktivitas ini menawarkan pengalaman berburu yang menyenangkan, yang tidak dapat ditemukan di toko konvensional, menciptakan rasa kepuasan tersendiri bagi para peminatnya.

Bahkan, thrifting telah muncul sebagai gaya hidup yang dengan cepat melambangkan gerakan budaya, mendefinisikan ulang cara orang berbelanja.

1. Ekspresi Diri dan Keunikan Gaya

Salah satu daya tarik utama dari thrifting adalah kemampuannya untuk mendukung ekspresi diri yang unik dan otentik.

Bagi banyak anak muda, belanja barang bekas bukan hanya tentang mencari pakaian baru, tetapi merupakan sebuah petualangan untuk menemukan potongan unik yang tidak akan dimiliki orang lain.

Konsumen Gen Z menjelajahi toko barang bekas untuk mencari barang-barang unik yang menunjukkan sesuatu yang berbeda tentang gaya pribadi masing-masing.

Dalam prosesnya, mereka sering menemukan barang-barang vintage atau langka, seperti produk-produk dengan kualitas tinggi yang sulit ditemukan di toko konvensional.

Barang-barang thrifting juga menawarkan sarana bernostalgia terhadap tren fashion lama.

Tren fashion tahun 90-an yang digabungkan dengan tren modern menjadi pilihan anak muda untuk membentuk gaya yang segar dan berbeda.

Membeli barang thrifting memberikan nilai lebih, karena barang tersebut dianggap menyimpan cerita lama dari pemilik sebelumnya dan memiliki "jiwa" dan sejarah yang menjadi daya tarik.

2. Kesadaran Lingkungan dan Gerakan Mode Lambat

Aspek keberlanjutan adalah faktor utama yang mendorong tren thrifting ini. Apalagi Gen Z menunjukkan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap isu lingkungan.

Menurut Survei Gen Z dan Milenial Deloitte Global 2023, lebih dari 60 persen responden Gen Z prihatin dengan perubahan iklim, dan sebagian besar menyatakan bahwa keberlanjutan memainkan peran besar dalam keputusan pembelian mereka.

Dengan memilih barang bekas, generasi muda berkontribusi terhadap minimisasi limbah tekstil, memperpanjang siklus hidup pakaian, sekaligus mengambil sikap melawan dampak buruk fast fashion, yang dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia.

Thrifting dianggap sebagai solusi untuk mengurangi limbah mode dan mendukung gerakan ramah lingkungan dan mode lambat yang lebih bertanggung jawab.

Baca Juga: Pelarangan Thrifting Sebatas Isu? Begini Pandangan Dinkop UM Tulungagung

Membeli barang bekas berarti memberikan produk-produk tersebut kehidupan kedua, mengurangi kebutuhan akan produksi baru yang memakan banyak sumber daya.

Chiara Menage, salah satu pendiri situs jual beli pakaian bekas, menekankan bahwa tren pakaian bekas telah menjadi arus utama sejak 2018.

Dasarnya adalah kesadaran akan keberlanjutan lingkungan, dengan tujuan menawarkan alternatif yang 100 persen ramah lingkungan dibandingkan dengan membeli barang-barang baru.

3. Keunggulan Finansial dan Peluang Bisnis yang Menarik

Dari segi finansial, thrifting adalah pilihan cerdas yang memungkinkan anak muda tampil stylish tanpa menguras dompet.

Harga yang terjangkau memberikan fleksibilitas untuk mengalokasikan dana ke kebutuhan lain tanpa mengorbankan kualitas penampilan.

Tiga dari empat konsumen yang berbelanja barang bekas menyebut diri sebagai orang yang hemat. 

Selain hemat, Gen Z  juga menginginkan produk yang ramah lingkungan. Mereka juga merasa ada kebanggaan dalam membeli barang bekas; data thredUP menunjukkan kalangan yang bangga berpakaian bekas ini mencapai 59 persen dari responden.

Aktivitas Thrifting Menciptakan Peluang Bisnis Baru

Anak muda menemukan peluang bisnis dalam pakaian bekas, seringkali dengan konsep preloved, yang dapat dimulai dengan modal kecil dibandingkan bisnis fashion konvensional.

Baca Juga: Tetap Bergeliat, Thrifting Tak Terpengaruh dengan Aturan Pemerintah

Sebanyak 21 persen dari mereka bahkan bersedia membayar lebih untuk pakaian yang dapat dijual kembali.

Perkembangan platform online seperti Instagram, TikTok, Depop, dan Vinted berperan besar dalam mempopulerkan thrifting, memudahkan pembeli Gen Z untuk mengakses produk bekas berkualitas dari kenyamanan rumah mereka.

Pasar pakaian bekas secara global menunjukkan pertumbuhan yang pesat, bahkan melampaui pasar pakaian jadi. 

Secara keseluruhan, thrifting bagi generasi muda saat ini, khususnya Gen Z, adalah lebih dari sekadar belanja; ini adalah simbol perubahan pandangan hidup.

Gerakan ini menandakan masa depan yang cerah dalam hal gaya dan keberlanjutan, mengubah pola pikir dari konsumsi berlebihan ke pendekatan yang lebih bijaksana terhadap mode dan belanja. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#Gen Z #Trend Fashion #gaya hidup #preloved #Thrifting