RADAR TULUNGAGUNG - Belakangan ini, banyak anak muda yang mulai self-diagnose atau mendiagnosis dirinya sendiri dengan gangguan mental tertentu hanya berdasarkan informasi dari internet atau media sosial.
Fenomena ini sering muncul di platform seperti TikTok, Twitter (X), maupun Instagram, di mana konten psikologi viral dengan cepat. Tapi, benarkah self-diagnose itu baik?
Baca Juga: Jangan Tidur Dengan Rambut Masih Di Kuncir! Ini Alasan nya
Kenapa Anak Muda Sering Self-Diagnose?
1. Mudahnya Akses Informasi
Internet memudahkan siapa saja mencari gejala penyakit, termasuk kesehatan mental. Anak muda jadi merasa bisa “menentukan” kondisi dirinya sendiri.
2. Konten Psikologi Viral di Media Sosial
Banyak akun membagikan ciri-ciri depresi, anxiety, ADHD, atau overthinking. Meski bermanfaat untuk edukasi, seringkali konten itu disalahartikan sebagai diagnosis.
3. Keterbatasan Akses ke Profesional
Biaya konsultasi psikolog/psikiater tidak murah. Banyak anak muda memilih mencari jawaban sendiri ketimbang ke tenaga ahli.
4. Butuh Validasi dan Identitas
Anak muda sering merasa tenang saat menemukan label yang “sesuai” dengan perasaan mereka, walau belum tentu benar secara medis.
5. Kurangnya Literasi Kesehatan Mental
Tidak semua orang bisa membedakan mana gejala ringan karena stres biasa, mana yang sudah masuk ranah gangguan mental.
Baca Juga: Kesannya Kuno, Ternyra Kunyah Daun Sirih Bermanfaat untuk Gigi dan Mulut
Meskipun cukup populer, namun self-diagnose menyimpan bahaya tersendiri. Seperti
- Kesalahan penanganan yang bisa membuat seseorang salah mengambil langkah, misalnya mengobati sendiri tanpa arahan ahli.
- Melekatkan label yang salah pada diri sendiri justru memperburuk kondisi mental.
- Mengabaikan masalah sebenarnya karena fokus pada diagnosis yang salah bisa menutupi penyebab asli dari perasaan tidak nyaman.
Berikut cara yang lebih tepat dibanding self diagnoses:
- Edukasi diri tentang kesehatan mental, tapi jangan langsung menyimpulkan.
- Ceritakan masalah ke orang terdekat yang dipercaya.
- Cari bantuan profesional bila merasa gejala makin berat.
- Ingat bahwa stres, cemas, atau sedih adalah bagian normal dari kehidupan.
Baca Juga: Purbaya Effect Bikin Saham Rokok Menguat, Investor Optimis Kebijakan Cukai Baru, Ini Rinciannya
Self-diagnose memang sering dilakukan anak muda karena mudahnya akses informasi dan pengaruh media sosial.
Namun, langkah ini bisa berbahaya jika tidak dibarengi pemahaman yang tepat. Alih-alih self-diagnose, sebaiknya anak muda belajar mengenali perasaan, meningkatkan literasi mental, dan bila perlu, mencari bantuan profesional. ****
Editor : Dharaka R. Perdana