TULUNGAGUNG - Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang paling populer, terjangkau, dan mudah diolah.
Namun, banyak orang masih bertanya-tanya: bolehkah makan telur setiap hari? Dan berapa banyak telur yang aman dikonsumsi dalam sehari?
Berikut penjelasan lengkapnya menurut ahli gizi.
Kandungan Gizi dalam Telur:
Satu butir telur ukuran sedang (± 60 gram) mengandung:
- Kalori: ± 70 kal
- Protein: ± 6 gram
- Lemak: ± 5 gram
- Kolesterol: ± 186 mg
- Vitamin dan mineral: vitamin A, B12, D, E, selenium, zat besi
Telur juga mengandung kolin, nutrisi penting untuk otak, dan lutein serta zeaxanthin, antioksidan baik untuk kesehatan mata.
Berapa Telur Per Hari Menurut Ahli Gizi?
Menurut berbagai ahli dan lembaga kesehatan seperti American Heart Association dan Kementerian Kesehatan, berikut rekomendasinya:
Umum (Orang Dewasa Sehat)
- 1–2 butir telur per hari masih tergolong aman.
- Tidak meningkatkan risiko penyakit jantung pada orang sehat.
Orang dengan Riwayat Kolesterol Tinggi
- Disarankan membatasi kuning telur (karena tinggi kolesterol).
- Boleh konsumsi 2–3 butir putih telur, tapi maksimal 3–4 kuning telur per minggu.
Lansia & Anak-anak
- Telur sangat dianjurkan karena tinggi protein dan mudah dicerna.
- 1 butir per hari cukup, kecuali ada alergi atau batasan medis khusus.
Apa Kata Ahli Gizi?
Dr Rita Ramayulis DCN MKes (Ahli Gizi Indonesia) menyatakan: “Konsumsi telur setiap hari boleh saja, terutama jika tidak memiliki gangguan kolesterol atau jantung. Asalkan diimbangi dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik.”
Sementara Harvard School of Public Health menyebutkan bahwa makan hingga 1 telur per hari tidak meningkatkan risiko penyakit jantung pada kebanyakan orang.
Dulu, telur dianggap berbahaya karena kandungan kolesterolnya.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan kolesterol dalam makanan tidak terlalu berpengaruh besar pada kadar kolesterol darah dibandingkan lemak trans atau lemak jenuh.
Jadi, makan telur dalam jumlah wajar tidak otomatis menyebabkan kolesterol tinggi, kecuali dikonsumsi berlebihan dan tidak diimbangi dengan makanan lain yang sehat.***
Editor : Vidya Sajar Fitri