RADAR TULUNGAGUNG - Di era digital, berbagi cerita di media sosial sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Namun, di kalangan Gen Z, kebiasaan itu sering kali melewati batas hingga muncul fenomena oversharing, membagikan terlalu banyak hal pribadi ke publik.
Fenomena ini menarik perhatian karena banyak anak muda tanpa sadar membuka sisi paling pribadi mereka di internet, mulai dari kisah percintaan, masalah keluarga, hingga kesehatan mental. Padahal tak semua hal pantas untuk dikonsumsi publik.
Baca Juga: Apa Itu Delulu, Solulu, dan Trululu? Ini Arti Istilah Gaul Gen Z yang Populer di Media Sosial
Mengapa Gen Z Suka Oversharing?
Para ahli komunikasi menilai, Gen Z tumbuh di tengah budaya digital yang menormalisasi keterbukaan.
Media sosial memberi ruang bagi mereka untuk mengekspresikan diri secara bebas dan jujur.
Namun, di balik kebebasan itu, ada sejumlah alasan psikologis yang membuat kebiasaan ini sulit dihindari:
Baca Juga: Viral Tepuk Sakinah di TikTok, Tradisi Baru di Akad Nikah yang Bikin Gen Z Tambah Bimbang Menikah
-
Mencari validasi sosial. Setiap unggahan yang mendapat banyak like dan komentar bisa menumbuhkan rasa diterima dan dihargai.
-
Kebutuhan koneksi emosional. Rasa kesepian membuat sebagian Gen Z menganggap media sosial sebagai tempat curhat yang aman.
-
Budaya keaslian. Bagi mereka, jujur dan terbuka di media sosial dianggap sebagai bentuk autentisitas, bukan kelemahan.
Cara Mengatasinya
Psikolog digital menyarankan beberapa langkah agar kebiasaan oversharing dapat dikendalikan:
-
Pikir dua kali sebelum membagikan sesuatu. Tanyakan pada diri sendiri: apakah ini benar-benar perlu diketahui orang lain?
-
Pisahkan ruang pribadi dan publik. Gunakan pengaturan privasi atau akun terpisah untuk konten tertentu.
-
Cari ruang curhat yang aman. Berceritalah dengan teman dekat, keluarga, atau profesional, bukan hanya di media sosial.
-
Kendalikan emosi sebelum posting. Hindari mengunggah sesuatu saat sedang marah, kecewa, atau sedih.