TULUNGAGUNG – Jatuh cinta sering kali membuat seseorang berada pada kondisi yang sulit dijelaskan dengan logika.
Perasaan bahagia, berbunga-bunga, bahkan tindakan yang bagi orang lain terlihat tidak masuk akal, justru dianggap wajar oleh mereka yang sedang jatuh cinta.
Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi?
Ketika seseorang jatuh cinta atau memulai hubungan baru, tubuh akan memunculkan perasaan nyaman, euforia, hingga bertindak impulsif tanpa berpikir panjang.
Semua itu dipicu oleh aktivitas pada bagian otak bernama Ventral Tegmental Area (VTA).
Bagian ini terletak di sisi tengah otak (mesensefalon ventral) dan berfungsi sebagai pusat motivasi, penghargaan, emosi, serta kecanduan.
VTA menjadi lokasi utama produksi dopamin, yaitu hormon yang erat kaitannya dengan rasa senang dan bahagia.
Dopamin tidak hanya muncul ketika seseorang jatuh cinta.
Aktivitas lain seperti berolahraga, mengonsumsi kopi, atau melakukan hobi juga dapat merangsang pelepasan dopamin.
Namun, pada fase jatuh cinta, hormon ini bekerja lebih intens sehingga membuat seseorang merasa semua hal berjalan baik-baik saja.
Seiring berjalannya waktu, hubungan romantis yang semakin dalam akan memicu pelepasan hormon lain, yaitu oksitosin dan vasopressin.
Kedua hormon ini berperan dalam menumbuhkan rasa nyaman, kasih sayang, dan dukungan dari pasangan.
Produksi oksitosin juga mampu menekan hormon stres.
Hal ini menjelaskan mengapa seseorang merasa lebih ringan menjalani hidup ketika memiliki pasangan yang memberi dukungan emosional.
Menariknya, hormon ini tidak hanya bekerja dalam hubungan asmara, tetapi juga dalam relasi keluarga maupun pertemanan.
Mengapa Logika Menjadi Melemah?
Meski memberikan rasa bahagia, efek dopamin dan VTA ternyata memiliki sisi negatif.
Bagian otak bernama prefrontal cortex, yang berfungsi mengendalikan nalar dan kemampuan intelektual, justru mengalami penurunan aktivitas.
Akibatnya, muncullah ungkapan populer, “jika belum merasa bodoh, maka belum jatuh cinta.”
Hal ini bukan sekadar pernyataan kiasan, melainkan didukung oleh fakta ilmiah tentang bagaimana dopamin memengaruhi kerja otak.
Selain itu, dopamin juga dapat menurunkan kadar serotonin, hormon yang berhubungan dengan kestabilan suasana hati.
Penurunan serotonin inilah yang membuat emosi menjadi tidak seimbang, mudah cemas, bahkan obsesif.
Meski begitu, otak manusia pada dasarnya dirancang untuk beradaptasi dan bertahan.
Artinya, kondisi emosional yang kacau akibat cinta maupun patah hati bukanlah akhir dari segalanya.
Kuncinya adalah kesadaran dan penerimaan.
Seseorang perlu mengakui adanya masalah, menerima rasa sakit, lalu perlahan menggantinya dengan aktivitas lain yang juga dapat memicu dopamin, seperti olahraga, berkumpul dengan teman, hingga mengembangkan hobi baru.
Dengan pembiasaan diri, fungsi otak akan kembali normal, logika kembali berjalan, dan individu dapat melangkah lebih sehat tanpa terjebak pada hubungan yang merugikan.***
Editor : Vidya Sajar Fitri