RADAR TULUNGAGUNG - Tantrum sering kali menjadi momen menegangkan bagi orang tua. Ketika anak menjerit, menangis, atau berguling di lantai, reaksi spontan yang muncul justru sering berupa kemarahan atau frustrasi.
Namun, cara paling tepat menghadapi anak tantrum bukan dengan marah-marah, melainkan dengan tetap tenang dan hadir penuh perhatian.
Menurut beberapa psikolog, anak yang sedang tantrum sebenarnya sedang kesulitan mengendalikan emosi dan membutuhkan bantuan orang tua untuk menenangkannya.
Kalau orang tua malah ikut marah atau menghukum, anak justru tidak belajar cara meregulasi emosi dengan tepat. Ia bisa merasa takut, marah, dan bahkan sulit mempercayai lingkungan sekitarnya.
Lebih jauh, kondisi ini bisa berdampak jangka panjang. Anak yang sering dimarahi saat tantrum berisiko mengalami masalah attachment atau kelekatan emosional di masa depan.
Respons marah hanya memperburuk keadaan. Anak yang merasa tidak dipahami justru makin keras menangis atau berteriak.
Sebaliknya, sikap orang tua yang tenang membantu anak menurunkan intensitas emosinya. “Ketika orang tua mampu tetap tenang, anak akan merasa aman dan lebih mudah kembali terkendali,” ujar Anna.
5 Cara Tenang Hadapi Anak Tantrum
Berikut lima langkah sederhana yang disarankan psikolog untuk menghadapi anak tantrum tanpa kehilangan kendali:
-
Tetap Tenang
Jangan terpancing emosi. Sikap tenang orang tua membantu anak mereda lebih cepat. -
Validasi Emosi Anak
Akui perasaan anak dengan kalimat sederhana, seperti “Kamu lagi marah, ya?” agar ia merasa dipahami. -
Berikan Pelukan atau Sentuhan Lembut
Kontak fisik penuh kasih bisa menenangkan anak dan membuatnya merasa aman. -
Alihkan dengan Cara Positif
Gunakan distraksi ringan, misalnya mengajak anak menarik napas, menyanyi, atau meniru ekspresinya secara lucu. -
Bangun Kembali Kedekatan
Setelah reda, ajak anak mengobrol ringan atau bermain bersama agar ia tahu tetap dicintai meski sempat marah.
Terapkan Teknik Mirroring
Selain lima langkah di atas, disarankan penggunaan teknik mirroring atau meniru perilaku anak dengan cara yang lembut dan menghibur.
Misalnya, ketika anak memukul lantai karena marah, orang tua bisa pura-pura ikut memukul lantai sambil tersenyum. Ini bisa jadi distraksi efektif yang membuat anak merasa dipahami.
Teknik ini membantu anak merasa emosinya divalidasi dan membuat suasana jadi lebih cair. Selain itu, memenuhi kebutuhan dasar anak seperti makan dan istirahat juga penting untuk mencegah tantrum berulang.
Hindari Menenangkan Anak dengan Gadget
Psikolog juga menekankan agar orang tua tidak menggunakan gadget atau hadiah sebagai jalan pintas untuk menenangkan anak.
Kalau dilakukan berulang, anak bisa belajar bahwa dengan tantrum ia akan mendapatkan apa yang diinginkan.
Setelah emosi anak mereda, orang tua dianjurkan untuk kembali membangun kelekatan. Ajak anak bermain, membaca buku, atau sekadar berbicara santai.
Anak perlu tahu bahwa meskipun ia sempat marah, orang tuanya tetap mau bersamanya dan tidak meninggalkannya.
Momen pasca-tantrum juga bisa dimanfaatkan untuk perlahan mengajarkan cara mengekspresikan emosi secara sehat.
Orang tua bisa mengenalkan kosakata emosi sederhana seperti senang, sedih, marah, atau kecewa. Dengan begitu, anak belajar mengenali dan menamai perasaannya dengan lebih baik. ****
Editor : Dharaka R. Perdana