RADAR TULUNGAGUNG - Banyak orang bertanya apakah perilaku negatif seperti kejahatan, kebencian, trauma, atau bahkan kecenderungan selingkuh dapat diwariskan dari orang tua kepada anak.
Penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu pun gen tunggal yang menentukan perilaku tersebut.
Namun, kecenderungan tertentu bisa dipengaruhi oleh faktor genetik, epigenetik, kepribadian bawaan, dan pola pengasuhan.
Gen Kejahatan
Ilmu pengetahuan menegaskan bahwa gen kejahatan secara literal tidak ada. Namun, orang tua dapat mewariskan sifat biologis yang meningkatkan risiko seseorang melakukan tindakan agresif atau melanggar aturan.
Jika kecenderungan tersebut dipadukan dengan lingkungan pengasuhan yang keras, tidak stabil, atau penuh kekerasan, potensi tersebut dapat berkembang menjadi perilaku negatif, dengan kata lain, gen memberi kecenderungan, bukan kepastian.
Baca Juga: Alasan Orang Suka Tidur dengan Kipas Angin Menyala, Ternyata Menyimpan Dampak Negatif bagi Kesehatan
Trauma Antar-Generasi
Trauma memiliki dasar ilmiah yang kuat dalam hal pewarisan. Trauma yang dialami orang tua dapat memengaruhi ekspresi gen melalui proses epigenetik, yaitu perubahan yang menentukan apakah suatu gen akan aktif atau tidak.
Perubahan ini dapat memengaruhi respon stres anak dan cara mereka mengelola emosi. Meskipun anak tidak mengalami kejadian traumatis tersebut, mereka dapat menunjukkan respons emosional yang sama akibat pengaruh epigenetik dan pola pengasuhan yang terbentuk dari luka emosional orang tua.
Gen Selingkuh
Tidak ada gen yang secara langsung membuat seseorang berselingkuh. Namun, ada beberapa faktor biologis dan psikologis yang dapat diwariskan dan memengaruhi kecenderungan seseorang berselingkuh.
Faktor-faktor ini meliputi:
Baca Juga: Sugesti Positif vs Negatif: Rahasia Pikiran yang Mengendalikan Hidup dan Masa Depanmu
a. Sifat impulsif yang diwariskan
Orang yang secara genetik lebih impulsif, mudah bosan, dan mencari sensasi (sensation seeking) cenderung lebih berisiko melakukan perselingkuhan. Jika sifat ini dimiliki oleh orang tua, anak berpotensi mewarisinya.
b. Kebutuhan validasi yang tinggi
Beberapa individu mewarisi sifat mudah merasa tidak cukup, sehingga cenderung mencari pengakuan dari luar hubungan. Pola ini dapat muncul dalam bentuk perselingkuhan.
c. Pola hubungan orang tua
Jika anak melihat salah satu orang tua sering selingkuh, tidak setia, atau tidak menghargai pasangan, anak dapat menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal. Ini bukan warisan genetik, tetapi warisan perilaku.
Baca Juga: Anak Muda Tulungagung Perlu Tahu: Dampak Negatif FOMO dan Tips Mengatasinya
d. Ketidakstabilan emosi
Beberapa perubahan kimia otak yang dipengaruhi genetik dapat membuat seseorang lebih sulit memelihara hubungan stabil, sehingga risiko selingkuh meningkat.
Kejahatan, kebencian, trauma, dan selingkuh bukan perilaku yang diwariskan langsung melalui gen. Namun, faktor biologis, epigenetik, dan pola pengasuhan dapat membentuk kecenderungan tertentu pada anak.
Pemahaman mengenai proses ini sangat penting agar orang tua dapat menciptakan lingkungan emosional yang sehat dan membantu generasi berikutnya tumbuh sebagai individu yang stabil, penuh empati, dan mampu mengelola hubungan dengan baik. ****
Editor : Dharaka R. Perdana