RADAR TULUNGAGUNG - Menjelang akhir tahun, Tulungagung terasa sedikit berbeda.
Bukan karena pesta besar atau kembang api yang terlalu meriah, tetapi karena kepala banyak orang mulai penuh.
Penuh oleh rekap setahun, oleh pertanyaan yang tak sempat dijawab, oleh target yang terasa belum selesai.
Di saat seperti ini, menjaga kepala tetap tenang menjadi kebutuhan, bukan kemewahan.
Salah satu caranya justru sederhana kurangi suara, perbanyak jeda.
Suara di sini bukan hanya soal bising jalan atau notifikasi ponsel.
Namun juga tentang percakapan yang tidak perlu, opini yang datang tanpa diminta, dan arus informasi yang terus memaksa kita untuk bereaksi.
Di Tulungagung, banyak orang memilih menurunkan volume hidupnya.
Radio dimatikan lebih cepat, notifikasi dibiarkan sunyi, obrolan dipersingkat secukupnya.
Bukan karena ingin menjauh, tapi karena ingin mendengar diri sendiri.
Jeda juga tidak harus berupa liburan atau cuti panjang. Jeda bisa sesederhana duduk di warung kopi tanpa membuka ponsel, menatap jalan yang tetap ramai tapi tak menuntut apa-apa.
Jeda bisa berupa berjalan sore di gang rumah, atau memandangi hujan tanpa perlu memaknainya.
Di penghujung tahun, kita sering merasa harus mengejar sesuatu penutupan, kesimpulan, atau pembuktian.
Padahal, tidak semua hal perlu dituntaskan sebelum kalender berganti.
Ada hal-hal yang justru butuh dibiarkan menggantung, agar kepala tetap ringan.
Warga Tulungagung yang memilih hidup lebih pelan di akhir tahun sebenarnya sedang merawat kewarasan.
Mereka tahu, tahun baru tidak datang dengan jawaban instan.
Datang dengan hari yang sama seperti kemarin pagi, siang, malam dan kita yang harus siap menjalaninya.
Mengurangi suara dan memperbanyak jeda bukan tanda menyerah.
Tanda bahwa kita sedang memberi ruang pada diri sendiri.
Dan di tengah akhir tahun yang sering terasa riuh, ketenangan kecil itu bisa menjadi pencapaian paling jujur.***
Editor : Vidya Sajar Fitri