JAKARTA - Film Petaka Gunung Gede yang dirilis pada awal Februari 2025 kembali menjadi perbincangan setelah tersedia di platform streaming seperti Netflix. Film ini diangkat dari kisah nyata pendakian Gunung Gede tahun 2007 yang dialami oleh Maya Aska dan sempat viral di berbagai podcast horor.
Sejak penayangannya, Petaka Gunung Gede mendapatkan ulasan cukup positif dengan skor rata-rata sekitar 8 dari 10. Banyak kritikus menilai film ini berhasil menghadirkan horor yang dekat dengan pengalaman nyata para pendaki.
Atmosfer Horor yang Realistis
Salah satu kekuatan utama Petaka Gunung Gede terletak pada atmosfer dan sinematografinya. Visual jalur pendakian, hutan, serta suasana malam di gunung digarap dengan detail sehingga terasa autentik. Pendaki yang menonton film ini mengaku mudah merasa relate dengan penggambaran medan dan situasi di alam bebas.
Nuansa mencekam dibangun secara perlahan tanpa terlalu bergantung pada jumpscare berlebihan, membuat ketegangan terasa konsisten di sepanjang film.
Baca Juga: Film Animasi Jumbo Jadi Fenomena Perfilman Indonesia hingga Awal 2026
Akting dan Chemistry Pemain
Persahabatan di Tengah Teror
Akting Arla Ailani sebagai Maya dan Adzana Ashel sebagai Ita mendapat banyak pujian. Chemistry keduanya dinilai kuat dalam menggambarkan hubungan persahabatan yang tulus, terutama saat dihadapkan pada teror mistis yang mengancam keselamatan mereka.
Hubungan emosional ini menjadi salah satu elemen yang membuat film terasa lebih dari sekadar horor, karena penonton diajak terlibat secara perasaan.
Audio dan Musik Pendukung
Penataan suara yang dikerjakan oleh WUNI Studio dinilai efektif dalam memperkuat atmosfer horor. Jumpscare ditempatkan pada momen yang tepat, sementara musik latar mampu menjaga ketegangan tanpa terasa berlebihan.
Plot Twist dan Catatan Kritik
Menjelang akhir cerita, Petaka Gunung Gede menghadirkan plot twist yang bersifat emosional. Meski memberi kejutan, sebagian penonton menilai bagian ini terasa sedikit dipaksakan dan terlalu menekankan drama.
Dari sisi teknis, riasan untuk adegan kesurupan serta penggunaan efek visual seperti prostetik mata merah dianggap kurang realistis oleh sebagian kritikus. Selain itu, karakter pendukung, khususnya kelompok pendaki pria, dinilai kurang dieksplorasi dengan dialog yang terasa kaku.
Bagi penonton horor garis keras, intensitas rasa seram di paruh akhir film juga dianggap menurun karena fokus cerita bergeser ke drama persahabatan.
Baca Juga: Film Musuh Dalam Selimut Tayang Januari 2026, Angkat Teror Rumah Tangga yang Picu Emosi Penonton
Pencapaian Penonton
Terlepas dari berbagai catatan tersebut, Petaka Gunung Gede tetap menjadi salah satu film horor Indonesia paling sukses di tahun 2025. Film ini mencatatkan lebih dari 3,1 juta penonton selama masa tayangnya di bioskop, menegaskan daya tariknya di kalangan penikmat horor lokal.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya