Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Rp100.000 Cuma Cukup Sehari? Alarm Daya Beli Melemah dan Tekanan Inflasi yang Makin Terasa

Ayu Dhea Cheryl • Senin, 2 Maret 2026 | 12:20 WIB

Uang Rp100.000 yang dulu cukup untuk berbagai kebutuhan kini terasa cepat habis dalam sehari. Kenaikan harga bahan pokok dan biaya hidup membuat daya beli masyarakat terus tergerus.
Uang Rp100.000 yang dulu cukup untuk berbagai kebutuhan kini terasa cepat habis dalam sehari. Kenaikan harga bahan pokok dan biaya hidup membuat daya beli masyarakat terus tergerus.

Rp100.000 dulu terasa besar. Cukup untuk isi bensin, makan dua kali, dan masih bisa menyisakan sedikit untuk jajan. Kini, nominal yang sama kerap terasa seperti “tiket bertahan hidup” sehari. Fenomena ini bukan sekadar keluhan warganet, tetapi cerminan nyata daya beli melemah akibat tekanan inflasi dan kenaikan biaya hidup.

Realitas Rp100.000 cuma cukup sehari makin sering dirasakan pekerja di perkotaan hingga pinggiran. Harga kebutuhan pokok naik perlahan, sementara kenaikan upah tak selalu sejalan. Akibatnya, banyak keluarga harus menghitung setiap pengeluaran dengan cermat agar bisa bertahan hingga akhir bulan.

Jika dihitung sederhana, pengeluaran harian bisa langsung menggerus isi dompet. Sarapan nasi uduk dan telur Rp15.000, kopi Rp3.000, bensin Rp20.000. Pagi belum selesai, uang sudah terpakai hampir Rp40.000. Saat makan siang di warteg dengan lauk ayam dan minum, tambahan Rp23.000 kembali keluar. Belum pulsa data minimal Rp10.000 dan tambahan bensin sore hari. Tanpa terasa, Rp100.000 nyaris habis sebelum malam tiba.

Baca juga:Kenaikan Harga dan Efek Domino

Kondisi ini tidak berdiri sendiri. Kenaikan harga beras beberapa ribu rupiah per kilogram mungkin terlihat kecil. Namun dalam hitungan bulanan, dampaknya signifikan. Hal serupa terjadi pada minyak goreng, telur, hingga tarif transportasi.

Efek domino pun tak terhindarkan. Pedagang pasar menaikkan harga karena biaya kulakan meningkat. Pembeli mengurangi belanja karena daya beli melemah. Di sisi lain, pelaku usaha kecil ikut terjepit karena margin keuntungan makin tipis.

Kenaikan ongkos transportasi Rp1.000–Rp2.000 per perjalanan tampak sepele. Tetapi jika ditotal selama sebulan, bisa menambah ratusan ribu rupiah beban rumah tangga. Tambahan kecil yang berulang inilah yang diam-diam menggerus kestabilan finansial masyarakat.

Baca juga:Gaji Stagnan, Tekanan Makin Berat

Masalah utama bukan semata inflasi, tetapi ketimpangan antara kenaikan harga dan pertumbuhan pendapatan. Banyak pekerja merasa gaji stagnan, sementara kebutuhan terus bertambah.

Internet yang dulu dianggap kebutuhan tambahan kini menjadi kebutuhan primer. Tanpa kuota data, pekerja bisa kehilangan akses informasi, peluang usaha, hingga komunikasi kerja. Artinya, pengeluaran digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Bagi keluarga dengan anak kecil, beban semakin besar. Susu, popok, dan kebutuhan sekolah menjadi pos rutin yang tak bisa ditunda. Di kota besar, Rp100.000 bahkan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar satu keluarga dalam sehari.

Baca juga:Strategi Bertahan Hidup

Menghadapi situasi ini, masyarakat mulai menerapkan berbagai strategi bertahan. Ada yang mengurangi porsi makan, menunda pembelian pakaian, hingga mencampur beras premium dengan beras medium agar lebih hemat.

Belanja eceran atau membeli produk sachet juga menjadi pilihan. Bukan karena praktis, tetapi karena keterbatasan dana. Warung kelontong dan pasar tradisional ikut merasakan perubahan pola belanja tersebut.

Sebagian pekerja mencari pemasukan tambahan dengan berjualan online, menjadi kurir sambilan, atau membuka jasa kecil-kecilan. Namun kompetisi makin ketat karena banyak orang melakukan hal serupa. Tambahan penghasilan yang diperoleh sering kali hanya cukup menutup kenaikan harga kebutuhan pokok.

Baca juga:Dampak Psikologis dan Sosial

Tekanan ekonomi tak hanya berdampak pada angka di dompet, tetapi juga kondisi mental. Kekhawatiran terhadap kenaikan harga, cicilan, dan tagihan membuat banyak orang hidup dalam mode siaga.

Percakapan di warung kopi yang dulu membahas rencana membeli rumah atau membuka usaha kini bergeser pada harga beras dan tarif listrik. Fokus masyarakat berubah dari berkembang menjadi sekadar bertahan.

Anak muda pun mulai pesimistis melihat harga properti melambung dan biaya hidup meningkat. Jika kondisi ini terus berlangsung, daya beli melemah bisa berdampak lebih luas pada konsumsi nasional dan pertumbuhan ekonomi.

Baca juga:Alarm bagi Perekonomian

Rp100.000 cuma cukup sehari bukan sekadar keluhan, melainkan alarm. Ketika uang sebesar itu tak lagi mampu menjadi bantalan aman, artinya keseimbangan antara harga, upah, dan kesempatan kerja perlu mendapat perhatian serius.

Jika jutaan orang hidup dari hari ke hari tanpa ruang menabung atau berinvestasi, potensi konsumsi turun dan usaha kecil bisa terdampak. Lingkaran ini berisiko memperlambat pemulihan ekonomi.

Meski begitu, sebagian masyarakat mulai menyadari pentingnya meningkatkan keterampilan dan mencari peluang baru. Kesadaran finansial menjadi kunci agar tak terjebak dalam pola gali lubang tutup lubang.

Pada akhirnya, nilai Rp100.000 hari ini menjadi simbol perubahan besar dalam struktur biaya hidup. Bukan sekadar angka, tetapi gambaran tentang daya beli yang terus tergerus dan tantangan ekonomi yang perlu dijawab bersama.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
#inflasi indonesia #daya beli melemah #Biaya Hidup Naik #kenaikan harga kebutuhan pokok