TULUNGAGUNG - Nasihat Dr Tirta soal fresh graduate dan bisnis kembali viral di media sosial. Dalam sebuah diskusi kelas yang diunggah ke YouTube, pengusaha sekaligus pengajar tersebut membagikan pandangannya tentang realita dunia usaha yang jarang dibahas dalam seminar motivasi.
Menurut Dr Tirta, banyak lulusan baru atau fresh graduate yang terlalu terburu-buru ingin membuka bisnis tanpa memahami kondisi finansial dan kemampuan diri. Padahal, kata dia, menjadi pengusaha bukan sekadar status atau gelar di media sosial.
Nasihat Dr Tirta soal fresh graduate dan bisnis itu menekankan bahwa tujuan utama seseorang seharusnya bukan langsung sukses, melainkan mencapai kondisi financial stable atau stabil secara finansial.
Baca Juga: Dr Desi Kembali Pimpin IKA Unair Cabang Tulungagung
Ia menjelaskan bahwa konsep kesuksesan sebenarnya sangat subjektif. Setiap orang memiliki definisi berbeda tentang sukses, mulai dari finansial, kesehatan, spiritual, hingga kebahagiaan hidup.
Sukses Itu Subjektif
Dalam penjelasannya, Dr Tirta mengatakan bahwa banyak orang terjebak pada standar kesuksesan yang dibuat oleh masyarakat.
Misalnya anggapan bahwa usia 25 tahun harus sudah memiliki tabungan ratusan juta atau usia 30 tahun harus sudah memiliki rumah.
Menurutnya, standar tersebut tidak selalu realistis.
“Sukses itu subjektif. Tidak ada angka pasti yang membuat seseorang merasa cukup,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa semakin tinggi kondisi finansial seseorang, semakin banyak pilihan yang dimiliki dalam hidup.
Finansial yang baik memberikan kebebasan untuk memilih berbagai alternatif, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga gaya hidup.
Tiga Hal yang Harus Dicek Sebelum Bisnis
Dr Tirta kemudian menjelaskan tiga faktor penting yang harus dipertimbangkan sebelum seseorang memutuskan membuka usaha.
Baca Juga: Resmi Pimpin PAN Tulungagung, Rijal Abdulloh Siapkan Transformasi Parpol Modern
Pertama adalah kondisi keuangan atau tabungan.
Fresh graduate, menurutnya, perlu jujur menilai apakah kondisi finansial mereka cukup stabil untuk memulai bisnis.
“Kalau tabungan hanya sedikit, sebaiknya fokus menyelamatkan diri sendiri dulu,” kata dia.
Faktor kedua adalah privilege atau keuntungan yang dimiliki sejak awal.
Baca Juga: Haji Her Sultan Madura Gelar Acara Selawat dan Bagi-bagi Uang, Istana 3 Hektar Jadi Sorotan Publik
Privilege ini bisa berupa jaringan relasi, latar belakang keluarga, pendidikan, hingga pengalaman orang tua di bidang bisnis.
Sebagai contoh, seseorang yang lahir dari keluarga pengusaha biasanya memiliki akses jaringan bisnis yang lebih luas.
Sementara orang yang orang tuanya bekerja di bidang pendidikan mungkin memiliki keunggulan dalam pengetahuan dan literasi.
Baca Juga: Haji Her Dermawan: Bagikan Rp93 Juta Lewat Ompreng MBG untuk 1.877 Siswa di Bangkalan Madura
Faktor ketiga adalah pengalaman dan kemampuan pribadi, termasuk nilai akademik serta pengalaman kerja.
Menurut Dr Tirta, pengalaman kerja sangat penting untuk membentuk mentalitas dan kemampuan menghadapi tekanan.
Pentingnya Pengalaman Kerja
Bagi fresh graduate yang belum memiliki tabungan cukup atau privilege kuat, Dr Tirta menyarankan untuk bekerja terlebih dahulu.
Ia menilai pengalaman bekerja dapat memberikan banyak pelajaran yang tidak bisa didapat hanya dari teori.
“Bekerjalah dulu. Rasakan diperintah orang lain, belajar sistem kerja, belajar manajemen,” ujarnya.
Melalui pengalaman kerja, seseorang juga bisa memahami bagaimana menghadapi lingkungan kerja yang baik maupun yang tidak sehat.
Hal tersebut justru bisa menjadi pelajaran berharga ketika suatu hari nanti memutuskan membangun bisnis sendiri.
Dr Tirta menyarankan masa kerja minimal dua hingga lima tahun sebelum memulai usaha.
Faktor Keberuntungan dalam Bisnis
Selain kerja keras dan pengalaman, Dr Tirta juga menyinggung satu faktor yang sering tidak dibahas secara terbuka, yaitu keberuntungan.
Menurutnya, sekitar 50 persen kesuksesan dalam bisnis sering kali dipengaruhi oleh faktor luck atau keberuntungan.
Contohnya adalah momentum pasar, tren yang sedang berkembang, hingga kondisi ekonomi pada saat tertentu.
“Banyak pengusaha sukses sebenarnya juga dipengaruhi faktor keberuntungan,” ujarnya.
Namun keberuntungan tersebut tetap harus didukung oleh kemampuan, pengalaman, serta kesiapan mental.
Investasi Terpenting: Otak dan Kesehatan
Dalam penutupnya, Dr Tirta menekankan bahwa investasi paling penting bagi anak muda bukan sekadar uang atau bisnis.
Ia menyebut dua hal utama yang harus dijaga, yaitu pengetahuan dan kesehatan.
Menurutnya, peningkatan kemampuan berpikir, literasi, serta wawasan akan membantu seseorang menghadapi perubahan dunia yang sangat cepat.
Selain itu, kesehatan juga menjadi faktor penting agar seseorang dapat terus produktif dalam jangka panjang.
Dr Tirta juga mengingatkan agar anak muda tidak mudah terjebak pada standar hidup yang dipaksakan oleh lingkungan.
Misalnya memaksakan membeli barang mahal, rumah, atau kendaraan dengan utang yang besar.
“Kalau mampu beli bekas, beli bekas saja. Tidak perlu memaksakan diri,” katanya.
Baginya, perjalanan menuju stabilitas finansial membutuhkan waktu panjang dan proses yang tidak instan.
Karena itu, ia menutup pesannya dengan satu kalimat sederhana.
“Percaya saja pada prosesnya. Tidak perlu terburu-buru,” ujar Dr Tirta.
Editor : Axsha Zazhika