Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Viral Nasihat Dr Tirta soal Fresh Graduate dan Bisnis: Jangan Buru-Buru Jadi Pengusaha, Cek Tabungan, Privilege, dan Pengalaman Dulu

Axsha Zazhika • Minggu, 15 Maret 2026 | 17:05 WIB
Viral Nasihat Dr Tirta soal Fresh Graduate dan Bisnis: Jangan Buru-Buru Jadi Pengusaha, Cek Tabungan, Privilege, dan Pengalaman Dulu
Viral Nasihat Dr Tirta soal Fresh Graduate dan Bisnis: Jangan Buru-Buru Jadi Pengusaha, Cek Tabungan, Privilege, dan Pengalaman Dulu

 

TULUNGAGUNG - Nasihat Dr Tirta soal fresh graduate dan bisnis kembali viral di media sosial. Dalam sebuah diskusi kelas yang diunggah ke YouTube, pengusaha sekaligus pengajar tersebut membagikan pandangannya tentang realita dunia usaha yang jarang dibahas dalam seminar motivasi.

Menurut Dr Tirta, banyak lulusan baru atau fresh graduate yang terlalu terburu-buru ingin membuka bisnis tanpa memahami kondisi finansial dan kemampuan diri. Padahal, kata dia, menjadi pengusaha bukan sekadar status atau gelar di media sosial.

Nasihat Dr Tirta soal fresh graduate dan bisnis itu menekankan bahwa tujuan utama seseorang seharusnya bukan langsung sukses, melainkan mencapai kondisi financial stable atau stabil secara finansial.

Baca Juga: Dr Desi Kembali Pimpin IKA Unair Cabang Tulungagung

Ia menjelaskan bahwa konsep kesuksesan sebenarnya sangat subjektif. Setiap orang memiliki definisi berbeda tentang sukses, mulai dari finansial, kesehatan, spiritual, hingga kebahagiaan hidup.

Sukses Itu Subjektif

Dalam penjelasannya, Dr Tirta mengatakan bahwa banyak orang terjebak pada standar kesuksesan yang dibuat oleh masyarakat.

Misalnya anggapan bahwa usia 25 tahun harus sudah memiliki tabungan ratusan juta atau usia 30 tahun harus sudah memiliki rumah.

Menurutnya, standar tersebut tidak selalu realistis.

Baca Juga: Rekomendasi HP Lebaran 2026: Kenapa HP Tahun 2025 Justru Lebih Worth It? Ini Alasannya dan Daftar Pilihannya

“Sukses itu subjektif. Tidak ada angka pasti yang membuat seseorang merasa cukup,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa semakin tinggi kondisi finansial seseorang, semakin banyak pilihan yang dimiliki dalam hidup.

Finansial yang baik memberikan kebebasan untuk memilih berbagai alternatif, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga gaya hidup.

Tiga Hal yang Harus Dicek Sebelum Bisnis

Dr Tirta kemudian menjelaskan tiga faktor penting yang harus dipertimbangkan sebelum seseorang memutuskan membuka usaha.

Baca Juga: Resmi Pimpin PAN Tulungagung, Rijal Abdulloh Siapkan Transformasi Parpol Modern

Pertama adalah kondisi keuangan atau tabungan.

Fresh graduate, menurutnya, perlu jujur menilai apakah kondisi finansial mereka cukup stabil untuk memulai bisnis.

“Kalau tabungan hanya sedikit, sebaiknya fokus menyelamatkan diri sendiri dulu,” kata dia.

Faktor kedua adalah privilege atau keuntungan yang dimiliki sejak awal.

Baca Juga: Haji Her Sultan Madura Gelar Acara Selawat dan Bagi-bagi Uang, Istana 3 Hektar Jadi Sorotan Publik

Privilege ini bisa berupa jaringan relasi, latar belakang keluarga, pendidikan, hingga pengalaman orang tua di bidang bisnis.

Sebagai contoh, seseorang yang lahir dari keluarga pengusaha biasanya memiliki akses jaringan bisnis yang lebih luas.

Sementara orang yang orang tuanya bekerja di bidang pendidikan mungkin memiliki keunggulan dalam pengetahuan dan literasi.

Baca Juga: Haji Her Dermawan: Bagikan Rp93 Juta Lewat Ompreng MBG untuk 1.877 Siswa di Bangkalan Madura

Faktor ketiga adalah pengalaman dan kemampuan pribadi, termasuk nilai akademik serta pengalaman kerja.

Menurut Dr Tirta, pengalaman kerja sangat penting untuk membentuk mentalitas dan kemampuan menghadapi tekanan.

Pentingnya Pengalaman Kerja

Bagi fresh graduate yang belum memiliki tabungan cukup atau privilege kuat, Dr Tirta menyarankan untuk bekerja terlebih dahulu.

Baca Juga: Sejarah Bani Israil dari Nabi Ibrahim hingga Nabi Sulaiman, Kisah Panjang Bangsa Yahudi yang Jarang Dibahas

Ia menilai pengalaman bekerja dapat memberikan banyak pelajaran yang tidak bisa didapat hanya dari teori.

“Bekerjalah dulu. Rasakan diperintah orang lain, belajar sistem kerja, belajar manajemen,” ujarnya.

Melalui pengalaman kerja, seseorang juga bisa memahami bagaimana menghadapi lingkungan kerja yang baik maupun yang tidak sehat.

Baca Juga: Profil Haji Her Sultan Madura yang Viral di DA7 Indosiar, Kirim Virtual Gift Hampir Rp2,5 Miliar hingga Bangun 1.000 Rumah untuk Warga

Hal tersebut justru bisa menjadi pelajaran berharga ketika suatu hari nanti memutuskan membangun bisnis sendiri.

Dr Tirta menyarankan masa kerja minimal dua hingga lima tahun sebelum memulai usaha.

Faktor Keberuntungan dalam Bisnis

Selain kerja keras dan pengalaman, Dr Tirta juga menyinggung satu faktor yang sering tidak dibahas secara terbuka, yaitu keberuntungan.

Menurutnya, sekitar 50 persen kesuksesan dalam bisnis sering kali dipengaruhi oleh faktor luck atau keberuntungan.

Baca Juga: Perdebatan Tuhan, Mesias, dan Kitab Suci: Dialog Islam–Yahudi Ungkap Perbedaan Besar Antara Yudaisme, Kristen, dan Islam

Contohnya adalah momentum pasar, tren yang sedang berkembang, hingga kondisi ekonomi pada saat tertentu.

“Banyak pengusaha sukses sebenarnya juga dipengaruhi faktor keberuntungan,” ujarnya.

Namun keberuntungan tersebut tetap harus didukung oleh kemampuan, pengalaman, serta kesiapan mental.

Investasi Terpenting: Otak dan Kesehatan

Dalam penutupnya, Dr Tirta menekankan bahwa investasi paling penting bagi anak muda bukan sekadar uang atau bisnis.

Baca Juga: Sejarah Panjang Kebencian terhadap Yahudi: Dari Diaspora, Antisemitisme Eropa, hingga Konflik Israel–Palestina

Ia menyebut dua hal utama yang harus dijaga, yaitu pengetahuan dan kesehatan.

Menurutnya, peningkatan kemampuan berpikir, literasi, serta wawasan akan membantu seseorang menghadapi perubahan dunia yang sangat cepat.

Selain itu, kesehatan juga menjadi faktor penting agar seseorang dapat terus produktif dalam jangka panjang.

Baca Juga: Kenapa Israel Sangat Menginginkan Palestina? Ceramah Ustaz Abdul Somad Ungkap Keyakinan Zionis, Mesiah hingga Al-Masih Dajjal

Dr Tirta juga mengingatkan agar anak muda tidak mudah terjebak pada standar hidup yang dipaksakan oleh lingkungan.

Misalnya memaksakan membeli barang mahal, rumah, atau kendaraan dengan utang yang besar.

“Kalau mampu beli bekas, beli bekas saja. Tidak perlu memaksakan diri,” katanya.

Baca Juga: Perbedaan Islam Sunni dan Syiah yang Sering Diperdebatkan: Dari Rukun Iman, Syahadat hingga Konsep Kepemimpinan

Baginya, perjalanan menuju stabilitas finansial membutuhkan waktu panjang dan proses yang tidak instan.

Karena itu, ia menutup pesannya dengan satu kalimat sederhana.

“Percaya saja pada prosesnya. Tidak perlu terburu-buru,” ujar Dr Tirta.

Editor : Axsha Zazhika
#fresh graduate dan bisnis #financial stable #tips memulai bisnis #nasihat Dr Tirta #dr Tirta