Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

9 Strategi Bisnis Abdurrahman bin Auf yang Bikin Kaya Raya: Dari Datang Tanpa Harta hingga Dijuluki Sahabat Bertangan Emas

Axsha Zazhika • Minggu, 15 Maret 2026 | 17:20 WIB
9 Strategi Bisnis Abdurrahman bin Auf yang Bikin Kaya Raya: Dari Datang Tanpa Harta hingga Dijuluki Sahabat Bertangan Emas
9 Strategi Bisnis Abdurrahman bin Auf yang Bikin Kaya Raya: Dari Datang Tanpa Harta hingga Dijuluki Sahabat Bertangan Emas

 

TULUNGAGUNG - Kisah sukses strategi bisnis Abdurrahman bin Auf menjadi inspirasi bagi banyak orang hingga saat ini. Sahabat Nabi Muhammad SAW tersebut dikenal sebagai salah satu pedagang paling sukses dalam sejarah Islam. Padahal, saat berhijrah dari Mekkah ke Madinah, ia datang tanpa membawa harta sama sekali.

Abdurrahman bin Auf adalah bagian dari kaum Muhajirin yang meninggalkan seluruh kekayaan di Mekkah demi mengikuti Rasulullah SAW. Ketika tiba di Madinah, Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar agar saling membantu.

Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ Al Anshari, seorang sahabat yang sangat kaya. Sa’ad bahkan menawarkan setengah hartanya, termasuk menawarkan untuk menceraikan salah satu istrinya agar dapat dinikahi oleh Abdurrahman.

Baca Juga: Dr Desi Kembali Pimpin IKA Unair Cabang Tulungagung

Namun tawaran tersebut ditolak dengan halus. Abdurrahman hanya meminta ditunjukkan lokasi pasar di Madinah. Dari pasar itulah kisah strategi bisnis Abdurrahman bin Auf dimulai hingga akhirnya ia dikenal sebagai sahabat “bertangan emas”.

Memulai Bisnis dari Pasar

Langkah pertama yang dilakukan Abdurrahman adalah melakukan riset pasar. Ia mempelajari kondisi perdagangan di Madinah yang saat itu didominasi oleh pedagang Yahudi.

Melihat situasi tersebut, Abdurrahman menyusun strategi bisnis yang unik. Dengan bantuan sahabat Anshar, ia membeli sebidang tanah yang lokasinya tidak jauh dari pasar utama.

Baca Juga: Rekomendasi HP Lebaran 2026: Kenapa HP Tahun 2025 Justru Lebih Worth It? Ini Alasannya dan Daftar Pilihannya

Tanah tersebut kemudian dijadikan sebagai pasar baru yang diperuntukkan bagi pedagang Muslim. Pasar ini memberi kesempatan bagi para pedagang untuk menjalankan transaksi sesuai dengan prinsip ekonomi Islam.

Dalam waktu singkat, pasar tersebut berkembang pesat dan menjadi pusat perdagangan kaum Muslim di Madinah.

Sistem Bagi Hasil yang Adil

Salah satu strategi bisnis Abdurrahman bin Auf yang membuat pasar itu ramai adalah penerapan sistem bagi hasil yang adil.

Baca Juga: Haji Her Sultan Madura Gelar Acara Selawat dan Bagi-bagi Uang, Istana 3 Hektar Jadi Sorotan Publik

Ia menawarkan konsep pembayaran setelah pedagang mendapatkan keuntungan. Sistem ini sangat menarik bagi para pedagang karena mereka tidak terbebani biaya sewa kios di awal.

Akibatnya banyak pedagang mulai berpindah dan membuka lapak di pasar Muslim tersebut. Harga barang juga menjadi lebih kompetitif karena biaya operasional pedagang lebih ringan.

Menarik Pelanggan dengan Bonus Timbangan

Strategi unik lain yang diterapkan adalah memberikan kelebihan takaran saat berdagang. Hal ini berawal dari keluhan pedagang Muslim kepada Rasulullah SAW.

Baca Juga: Haji Her Dermawan: Bagikan Rp93 Juta Lewat Ompreng MBG untuk 1.877 Siswa di Bangkalan Madura

Mereka merasa kalah bersaing dengan pedagang Yahudi yang sering mengurangi takaran barang dagangan. Namun Rasulullah tidak menyarankan kecurangan serupa.

Sebaliknya, Rasulullah menganjurkan agar pedagang Muslim justru melebihkan timbangan sebagai bentuk kejujuran.

Hasilnya, masyarakat Madinah mulai tertarik berbelanja di pasar Muslim karena mendapatkan takaran yang lebih banyak.

Baca Juga: Viral Sumber Uang Haji Her Pengusaha Madura yang Bangun 1.000 Rumah Gratis di Pamekasan, Ternyata dari Bisnis Tembakau hingga Kuliner

Pentingnya Ilmu dalam Berdagang

Dalam menjalankan usaha, Abdurrahman bin Auf juga menekankan pentingnya ilmu. Khalifah Umar bin Khattab bahkan pernah memperingatkan agar orang yang belum memahami aturan perdagangan tidak berdagang di pasar.

Hal ini bertujuan agar pedagang memahami hukum-hukum transaksi sehingga terhindar dari praktik riba atau kecurangan.

Sahabat Ali bin Abi Thalib juga menegaskan bahwa pedagang yang tidak memahami ilmu fiqih ekonomi berpotensi terjerumus dalam praktik yang dilarang.

Baca Juga: Sejarah Bani Israil dari Nabi Ibrahim hingga Nabi Sulaiman, Kisah Panjang Bangsa Yahudi yang Jarang Dibahas

Menghindari Utang dalam Bisnis

Salah satu prinsip penting dalam strategi bisnis Abdurrahman bin Auf adalah menghindari utang dalam berbisnis.

Jika membutuhkan tambahan modal, ia lebih memilih mencari mitra usaha atau investor yang bersedia menanamkan modal.

Dengan cara ini, risiko bisnis dapat ditanggung bersama tanpa membebani usaha dengan utang yang berpotensi merugikan.

Kejujuran dan Kualitas Produk

Kejujuran menjadi nilai utama dalam perdagangan Abdurrahman bin Auf. Ia percaya bahwa pelanggan tidak ingin dibohongi.

Baca Juga: Profil Haji Her Sultan Madura yang Viral di DA7 Indosiar, Kirim Virtual Gift Hampir Rp2,5 Miliar hingga Bangun 1.000 Rumah untuk Warga

Kejujuran membuat pelanggan percaya dan loyal terhadap produk yang dijual. Selain itu, ia juga sangat menjaga kualitas barang dagangannya.

Kualitas produk yang baik membuat pelanggan puas dan tidak ragu untuk kembali membeli di kemudian hari.

Manajemen Keuangan yang Baik

Abdurrahman bin Auf juga dikenal memiliki manajemen keuangan yang disiplin. Ia memisahkan uang usaha dengan kebutuhan pribadi.

Baca Juga: Perdebatan Tuhan, Mesias, dan Kitab Suci: Dialog Islam–Yahudi Ungkap Perbedaan Besar Antara Yudaisme, Kristen, dan Islam

Sebagian keuntungan digunakan untuk kebutuhan hidup, sementara sebagian lainnya ditambahkan sebagai modal usaha agar bisnis terus berkembang.

Kekayaan yang Digunakan untuk Kebaikan

Meski dikenal sebagai sahabat yang sangat kaya, Abdurrahman bin Auf tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama hidupnya.

Ia memandang kekayaan hanya sebagai sarana untuk berbuat kebaikan. Salah satu contohnya terjadi saat Perang Tabuk, ketika ia menyumbangkan ratusan dinar emas untuk membantu perjuangan kaum Muslim.

Baca Juga: Kenapa Israel Sangat Menginginkan Palestina? Ceramah Ustaz Abdul Somad Ungkap Keyakinan Zionis, Mesiah hingga Al-Masih Dajjal

Kisah dan strategi bisnis Abdurrahman bin Auf menjadi teladan bahwa kesuksesan bisnis dapat diraih melalui kerja keras, kejujuran, serta prinsip ekonomi yang adil.

Editor : Axsha Zazhika
#strategi bisnis Abdurrahman bin Auf #kisah sukses Abdurrahman bin Auf #bisnis dalam Islam #sahabat Nabi kaya raya #inspirasi bisnis Islam