TULUNGAGUNG - Dunia trading sering dipersepsikan sebagai jalan cepat menuju kekayaan. Banyak orang masuk ke pasar saham, kripto, atau forex dengan harapan mendapatkan profit besar dalam waktu singkat. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak trader justru mengalami kerugian besar karena salah memahami esensi dari trading itu sendiri.
Pengalaman pahit ini juga diungkapkan seorang kreator konten yang menceritakan perjalanan pribadinya di dunia trading. Ia mengaku pernah terjebak dalam fase gelap ketika terus memaksakan membeli aset saat grafik justru menunjukkan tren penurunan tajam.
Ia mengingat momen ketika layar monitor dipenuhi candle merah panjang, tetapi tetap nekat menekan tombol buy. “Saat itu perut mual, tangan dingin, dan mata kering karena begadang berhari-hari demi mengejar profit instan,” ujarnya dalam sebuah video yang beredar di YouTube.
Baca Juga: Dr Desi Kembali Pimpin IKA Unair Cabang Tulungagung
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari satu hal penting: trading bukan sekadar soal mencari keuntungan besar, tetapi tentang bagaimana seorang trader bisa bertahan di market dalam jangka panjang.
Trading Bukan Lomba Cepat Kaya
Kesalahan terbesar banyak trader pemula adalah menganggap trading sebagai cara cepat menjadi kaya. Padahal, menurutnya, market justru menjadi cermin yang memperlihatkan kondisi mental seseorang.
Ketika seorang trader serakah, takut, atau tidak sabar, market akan langsung “menghukum” perilaku tersebut melalui kerugian.
Ia mencontohkan perjalanan trader legendaris dunia seperti Jessie Livermore. Sosok ini dikenal sebagai salah satu trader paling terkenal dalam sejarah Wall Street. Meski dianggap jenius, Livermore ternyata pernah mengalami kebangkrutan berkali-kali sebelum akhirnya bangkit lagi.
Kisah tersebut menjadi bukti bahwa bahkan trader hebat pun tidak selalu menang. Yang membuat mereka bertahan adalah kemampuan mengelola risiko dan mentalitas yang kuat.
Hal serupa juga ditunjukkan oleh Paul Tudor Jones saat peristiwa Black Monday tahun 1987. Ketika banyak investor mengalami kerugian besar, Jones justru berhasil meraih keuntungan karena disiplin dalam membaca kondisi market dan berani berhenti ketika situasi dianggap tidak sehat.
Baca Juga: Haji Her Sultan Madura Gelar Acara Selawat dan Bagi-bagi Uang, Istana 3 Hektar Jadi Sorotan Publik
Bertahan Lebih Penting dari Profit
Dari pengalaman jatuh bangun itu, ia mulai memahami bahwa kunci utama trading bukanlah keuntungan sesaat, melainkan longevity atau kemampuan bertahan lama di market.
Ia menegaskan, seorang trader bisa saja memperoleh profit besar dalam satu transaksi. Namun tanpa mental dan manajemen risiko yang baik, keuntungan tersebut bisa hilang dalam waktu singkat.
“Tujuan utama trader bukan mencari profit besar, tapi bertahan hidup di market,” ujarnya.
Salah satu prinsip penting yang ia pelajari adalah menerima kerugian sebagai bagian dari proses. Banyak trader menganggap loss sebagai kegagalan. Padahal dalam trading, kerugian justru merupakan biaya yang harus dibayar untuk tetap berada dalam permainan.
Delapan Prinsip Trading untuk Bertahan di Market
Dari berbagai pengalaman tersebut, ia merumuskan beberapa prinsip trading yang menurutnya sangat penting untuk dimiliki setiap trader.
Pertama, berdamai dengan kerugian. Loss bukan musuh, melainkan bagian dari biaya menjalankan aktivitas trading.
Kedua, mengontrol emosi. Trader tidak bisa mengendalikan market, tetapi bisa mengendalikan respons terhadap pergerakan harga.
Ketiga, bersabar menunggu momen yang tepat. Banyak trader gagal karena terlalu terburu-buru masuk ke pasar tanpa perencanaan yang jelas.
Keempat, disiplin menjalankan sistem trading. Strategi yang baik tidak akan berguna jika trader tidak konsisten dalam menerapkannya.
Kelima, tidak terikat pada satu posisi atau analisis. Jika kondisi market berubah, trader harus berani keluar dari posisi yang salah.
Keenam, memiliki rasa syukur terhadap keuntungan yang diperoleh. Sikap serakah sering menjadi penyebab trader kehilangan profit yang sudah didapatkan.
Ketujuh, terus belajar. Market selalu berubah sehingga trader harus terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan.
Kedelapan, memberikan waktu untuk pemulihan mental setelah mengalami kerugian besar. Terkadang keputusan terbaik adalah berhenti sejenak dari trading.
Market Adalah Cermin Diri
Pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa trading bukan sekadar aktivitas finansial, tetapi juga perjalanan untuk memahami diri sendiri.
Market tidak hanya menguji kemampuan analisis teknikal, tetapi juga kesabaran, disiplin, dan kestabilan emosi seorang trader.
“Trading bukan soal siapa yang paling banyak profit. Trading itu tentang siapa yang masih berdiri di akhir permainan,” ungkapnya.
Menurutnya, trader yang berhasil bukanlah yang paling pintar atau memiliki modal terbesar. Mereka adalah orang-orang yang mampu bertahan, belajar dari kesalahan, dan terus berkembang.
Dengan mentalitas tersebut, profit pada akhirnya akan datang sebagai hasil dari konsistensi dan kesabaran dalam menjalani proses trading.
Editor : Axsha Zazhika