TULUNGAGUNG - Strategi trading kripto kembali menjadi perbincangan setelah seorang trader sekaligus pengajar crypto mengungkap perjalanan finansialnya dari modal nol hingga memiliki portofolio yang disebut mencapai Rp100 miliar. Dalam sebuah webinar dan video edukasi, ia membagikan pengalaman lebih dari 10 tahun di dunia keuangan sekaligus memaparkan strategi menghadapi siklus pasar kripto yang semakin kompleks.
Trader tersebut menjelaskan bahwa perjalanan di dunia trading kripto tidak dimulai secara instan. Ia mengaku telah berkecimpung di dunia keuangan sejak sekitar tahun 2013 hingga 2015. Selama lebih dari satu dekade itu, ia mempelajari berbagai aspek ekonomi, akuntansi, hingga pasar modal sebelum akhirnya fokus pada crypto.
Pengalaman tersebut menjadi dasar kuat bagi dirinya untuk memahami dinamika market kripto yang terkenal sangat volatil.
Baca Juga: Berkah Ramadan, Karyawan PG Modjopanggoong Tulungagung Berbagi dengan Anak Yatim
“Banyak orang melihat crypto hanya dari sisi keuntungan cepat. Padahal saya sudah lebih dari 10 tahun berada di dunia keuangan sebelum benar-benar serius di market ini,” ujarnya.
Ia juga mengungkap bahwa sejak masa sekolah menengah atas, dirinya aktif mengikuti berbagai perlombaan di bidang ekonomi, keuangan, dan pasar modal. Bahkan ia mengaku telah memenangkan puluhan hingga ratusan kompetisi akademik yang berkaitan dengan dunia finansial.
Perjalanan dari Nol Hingga Portofolio Miliaran
Dalam penjelasannya, ia menegaskan bahwa perjalanan menuju portofolio besar tidak terjadi secara instan. Bahkan modal awal yang digunakan untuk masuk ke market crypto berasal dari uang milik istrinya yang saat itu masih menjadi pacarnya.
Modal tersebut hanya sekitar Rp30 juta pada tahun 2021.
Namun dengan strategi trading kripto yang disiplin dan pemahaman market yang matang, portofolio tersebut berhasil berkembang secara signifikan.
“Di tahun 2021 portofolio saya dari Rp30 juta sempat berkembang menjadi sekitar Rp7 miliar,” jelasnya.
Tidak berhenti di situ, dalam kurun waktu beberapa tahun hingga 2025, nilai portofolio crypto miliknya diklaim telah meningkat lebih dari 10 kali lipat.
Ia menegaskan bahwa kisah tersebut menjadi bukti bahwa siapa pun sebenarnya memiliki peluang untuk sukses di dunia crypto, bahkan jika memulai dari nol.
Fenomena Siklus Pasar Kripto yang Semakin Sulit
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kondisi market kripto saat ini jauh lebih sulit dibandingkan beberapa tahun lalu.
Menurutnya, siklus pasar crypto yang terjadi saat ini termasuk salah satu yang paling berat dalam sejarah altcoin.
Hal tersebut terlihat dari banyaknya proyek kripto besar yang mengalami penurunan harga cukup signifikan meskipun sebelumnya digadang-gadang sebagai pesaing kuat di industri blockchain.
Beberapa contoh yang ia sebut antara lain:
Harga Ethereum yang sempat turun drastis dari sekitar 4.000 dolar ke bawah 2.000 dolar meskipun ada katalis besar seperti upgrade jaringan dan ETF.
Toncoin yang sempat diprediksi menjadi proyek besar karena basis pengguna Telegram yang sangat besar, namun akhirnya juga mengalami penurunan lebih dari 70 persen dari harga puncaknya.
BNB yang cenderung stagnan dalam rentang harga tertentu tanpa kenaikan signifikan.
Solana yang sempat melonjak hingga lebih dari 100 persen, tetapi kemudian kembali ke harga awal.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa strategi lama seperti buy and hold altcoin tidak lagi selalu efektif seperti pada siklus sebelumnya.
“Dulu altcoin sedikit, jadi strategi buy and hold masih sangat efektif. Sekarang altcoin terlalu banyak,” jelasnya.
Strategi Trading Kripto di Era Altcoin Melimpah
Dalam kondisi market seperti sekarang, ia menilai trader perlu memiliki pendekatan baru agar tetap bisa menghasilkan keuntungan.
Salah satu strategi yang ia rekomendasikan adalah kombinasi antara investasi jangka panjang dan trading aktif.
Ia menyarankan investor untuk menerapkan pendekatan portofolio yang seimbang.
Sebagai contoh, sebagian besar dana dapat dialokasikan pada aset kripto yang lebih stabil seperti Bitcoin. Sementara sebagian lainnya digunakan untuk trading altcoin atau mencari peluang keuntungan tambahan.
“Misalnya 70 sampai 80 persen portofolio di Bitcoin sebagai aset konservatif. Sisanya bisa dipakai untuk trading altcoin atau strategi lain,” jelasnya.
Pendekatan tersebut memungkinkan investor tetap memiliki fondasi investasi yang relatif stabil sekaligus peluang keuntungan yang lebih agresif.
Pentingnya Trading Dua Arah
Strategi lain yang ia tekankan adalah kemampuan trading dua arah, yaitu tidak hanya mengambil keuntungan saat harga naik tetapi juga saat market mengalami penurunan.
Menurutnya, siklus altcoin sering kali mengalami fase bull market dan bear market secara bergantian dalam waktu singkat.
Trader yang mampu memanfaatkan kedua kondisi tersebut justru memiliki peluang keuntungan lebih besar dibandingkan hanya mengandalkan kenaikan harga.
“Mau tidak mau trader harus belajar bermain dua arah karena altcoin pasti akan mengalami bear market juga,” ujarnya.
Baca Juga: Mengapa Nazi Membenci Yahudi? Sejarah Panjang Antisemitisme di Eropa Sebelum Era Hitler
Ia juga mengingatkan bahwa semakin banyak proyek kripto bermunculan setiap tahun, sehingga persaingan di market akan semakin ketat.
Karena itu, investor dan trader perlu terus meningkatkan kemampuan analisis, memahami risiko, serta memiliki strategi yang jelas sebelum terjun ke market crypto.
Editor : Axsha Zazhika