TULUNGAGUNG - Kisah investor Bitcoin dari nol kembali menjadi perhatian publik setelah seorang pria asal Singkawang membagikan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan sebelum akhirnya menemukan peluang di dunia aset digital. Ia mengaku pernah mengalami masa sulit, mulai dari ditolak kerja di 13 perusahaan, hidup dengan utang di kos, hingga kehilangan ratusan juta rupiah saat pertama kali membeli Bitcoin.
Perjalanan investor Bitcoin dari nol ini bermula dari latar belakang keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pemotong ikan di pasar dengan penghasilan harian yang terbatas. Sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang bahkan harus menjual emas tabungan demi membiayai kuliahnya di Jakarta.
Ia merupakan anak dari enam bersaudara. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya terbiasa hidup sederhana sejak kecil. Bahkan saat masih sekolah, ia harus tidur di ruang tamu rumahnya di Singkawang, tepat di bawah motor karena tidak memiliki kamar sendiri.
“Saya tidur di bawah motor karena rumah tidak cukup kamar untuk enam bersaudara,” ujarnya.
Baca Juga: Berkah Ramadan, Karyawan PG Modjopanggoong Tulungagung Berbagi dengan Anak Yatim
Ditolak Kerja 13 Perusahaan
Setelah lulus kuliah pada 2015, perjuangan hidupnya di Jakarta tidak langsung membaik. Ia mencoba melamar pekerjaan ke 13 perusahaan, tetapi tidak satu pun yang menerimanya.
Kondisi tersebut memaksanya mencari alternatif lain untuk bertahan hidup. Kesempatan datang ketika seorang teman mengajaknya bergabung menjadi agen asuransi.
Profesi tersebut dipilih karena tidak membutuhkan modal besar. Ia hanya perlu mengikuti ujian lisensi dengan biaya sekitar Rp25 ribu.
Dari situlah perjalanan kariernya dimulai.
Meski begitu, menjadi agen asuransi bukanlah pekerjaan yang langsung menghasilkan uang. Ia harus melakukan banyak pertemuan dengan calon nasabah sebelum mendapatkan komisi.
Pendapatan yang tidak menentu membuatnya sempat menunggak biaya kos hingga enam bulan.
“Saya pernah berutang ke ibu kos sampai setengah tahun karena belum ada pemasukan,” katanya.
Untuk menutupi kebutuhan hidup, ia melakukan berbagai pekerjaan sampingan. Mulai dari menjual barang bekas, berdagang online, hingga mencari barang murah di Tanah Abang untuk dijual kembali.
Awal Masuk Dunia Saham
Setelah sekitar satu setengah tahun bekerja sebagai agen asuransi, ia mulai tertarik pada dunia investasi. Ketertarikannya muncul setelah mempelajari bahwa banyak orang terkaya dunia memperoleh kekayaan dari pasar modal.
Ia pun memutuskan mencoba investasi saham.
Namun langkah pertamanya tidak berjalan mulus. Modal Rp10 juta yang ia gunakan untuk membuka akun saham sebagian besar berasal dari pinjaman ibunya.
Baca Juga: Resmi Pimpin PAN Tulungagung, Rijal Abdulloh Siapkan Transformasi Parpol Modern
Sayangnya, investasi tersebut justru berakhir dengan kerugian.
“Saya kalah semua di saham waktu itu,” ujarnya.
Meski mengalami kegagalan, dukungan dari keluarga membuatnya tetap berani mencoba berbagai peluang baru.
Mengenal Bitcoin di Tahun 2017
Perjalanan investor Bitcoin dari nol itu kemudian berubah ketika ia mengenal Bitcoin pada awal 2017. Saat itu harga Bitcoin masih sekitar Rp15 juta per koin.
Namun ia tidak langsung membeli. Selama hampir satu tahun penuh, ia hanya mengamati pergerakan harga dan mempelajari teknologi di balik aset digital tersebut.
Volatilitas harga Bitcoin yang sangat tinggi membuatnya semakin penasaran.
Dalam waktu 12 bulan, harga Bitcoin sempat melonjak hingga sekitar Rp300 juta.
Kenaikan drastis tersebut akhirnya membuatnya memutuskan untuk membeli Bitcoin menggunakan seluruh tabungan yang dimiliki bersama pasangannya.
Total dana yang diinvestasikan mencapai sekitar Rp300 juta.
Kerugian Besar hingga 80 Persen
Sayangnya, keputusan membeli Bitcoin di puncak harga justru membuatnya mengalami kerugian besar.
Pada 2018, harga Bitcoin turun drastis hingga sekitar Rp50 juta. Nilai investasinya pun anjlok hingga lebih dari 80 persen.
Meski demikian, ia memilih untuk tidak menjual aset tersebut.
Baca Juga: Mengapa Nazi Membenci Yahudi? Sejarah Panjang Antisemitisme di Eropa Sebelum Era Hitler
Sebaliknya, ia terus mempelajari dunia kripto dengan mengikuti seminar gratis dan membaca berbagai referensi tentang blockchain.
“Saya penasaran kenapa Bitcoin tidak pernah kembali ke harga awalnya meskipun jatuh,” jelasnya.
Dari pengamatan tersebut, ia mulai memahami pola siklus pasar kripto yang sering mengalami kenaikan besar setelah periode penurunan panjang.
Strategi Nabung Bitcoin
Selama bertahun-tahun, ia terus mengumpulkan Bitcoin dengan cara menyisihkan sebagian besar penghasilannya.
Bersama istrinya, ia menjalani gaya hidup sederhana demi bisa menabung aset digital tersebut.
Jika penghasilan bulanan mencapai Rp10 juta, sekitar Rp7 juta langsung dialokasikan untuk membeli Bitcoin.
Sementara sisanya digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Ia bahkan mengaku tidak memiliki gaya hidup mewah. Hiburan yang ia lakukan hanya menonton film di bioskop saat ada promo tiket murah.
“Saya tidak pernah healing atau liburan mahal. Semua uang lebih saya pakai beli Bitcoin,” katanya.
Kini, perjalanan panjang tersebut menjadi bukti bahwa kesuksesan finansial sering kali membutuhkan kesabaran, kerja keras, serta keberanian mengambil risiko.
Editor : Axsha Zazhika