TULUNGAGUNG - Kisah crypto journey Kalimasada menjadi perbincangan di kalangan investor digital setelah ia mengungkapkan bagaimana modal Rp30 juta bisa berkembang menjadi sekitar Rp7 miliar melalui trading dan investasi kripto. Cerita ini dibagikan sebagai pengalaman pribadi sekaligus pembelajaran bagi masyarakat yang ingin memahami dunia cryptocurrency.
Dalam crypto journey Kalimasada, ia menegaskan bahwa kisah tersebut bukan untuk pamer kekayaan. Menurutnya, pengalaman tersebut dibagikan murni sebagai edukasi agar orang lain dapat memahami proses, risiko, serta strategi yang digunakan dalam berinvestasi di pasar kripto.
Ia mengaku sudah mengenal Bitcoin sejak 2014 ketika masih duduk di bangku SMA. Saat itu, seorang sound engineer di studio musik tempatnya rekaman memperkenalkan Bitcoin sebagai instrumen investasi baru.
Namun karena keterbatasan dana dan minimnya pemahaman tentang teknologi tersebut, ia tidak langsung membeli aset digital itu.
“Saat itu kami sempat berpikir patungan beli satu Bitcoin, tapi akhirnya batal karena tidak punya uang,” ujarnya.
Awal Modal Rp30 Juta dari Patungan dengan Istri
Perjalanan serius dalam crypto journey Kalimasada baru dimulai pada awal 2021. Saat itu ia masih berstatus mahasiswa S2 dan bekerja serabutan.
Baca Juga: Berkah Ramadan, Karyawan PG Modjopanggoong Tulungagung Berbagi dengan Anak Yatim
Ia bahkan pernah mencoba berbagai usaha seperti jual beli tas hingga bisnis kuliner, tetapi tidak berhasil.
Modal awal yang digunakan untuk masuk ke pasar kripto pun terbilang kecil, yakni sekitar Rp30 juta. Dana tersebut merupakan hasil patungan dengan istrinya.
Ia hanya memiliki Rp8 juta, sedangkan sisanya berasal dari kontribusi sang istri.
“Waktu itu memang uang yang siap hilang. Kami sadar risiko di kripto sangat besar,” katanya.
Strategi Portofolio Terkonsentrasi
Pada tahap awal investasi, ia sempat menyebarkan dana ke berbagai koin kripto. Namun hasilnya tidak signifikan karena pergerakan harga hanya naik sedikit demi sedikit.
Setelah melakukan evaluasi, ia memutuskan menggunakan strategi concentrated portfolio atau portofolio terkonsentrasi.
Strategi ini dilakukan dengan menaruh sebagian besar modal pada satu aset kripto yang memiliki potensi kenaikan besar berdasarkan analisis pasar.
Baca Juga: Haji Her Sultan Madura Gelar Acara Selawat dan Bagi-bagi Uang, Istana 3 Hektar Jadi Sorotan Publik
Salah satu contoh keberhasilannya terjadi saat membeli token MATIC pada 2021. Ia mengetahui bahwa koin tersebut akan listing di salah satu bursa kripto besar dunia.
Keputusan itu terbukti tepat.
Harga MATIC melonjak hingga sekitar 40 persen dalam satu hari, membuat portofolionya langsung meningkat belasan juta rupiah.
Momen tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan investasinya.
Dari Rp30 Juta Jadi Rp100 Juta
Setelah beberapa kali melakukan rotasi keuntungan dari satu koin ke koin lain, portofolionya akhirnya menembus angka Rp100 juta.
Ia mengaku sempat merasakan euforia besar ketika pertama kali mencapai angka tersebut.
Sebagian kecil dana kemudian ia tarik untuk membeli laptop dan peralatan trading agar bisa menganalisis pasar dengan lebih serius.
Namun sebagian besar keuntungan tetap diputar kembali ke dalam investasi kripto.
“Saya reinvest hampir semuanya agar portofolio terus berkembang,” jelasnya.
Strategi Tebar Jala di Meme Coin
Langkah besar berikutnya dalam crypto journey Kalimasada terjadi ketika ia menerapkan strategi yang disebutnya sebagai tebar jala.
Strategi ini dilakukan dengan menyebarkan modal ke banyak koin kecil atau meme coin sekaligus. Tujuannya adalah mencari satu atau dua koin yang berpotensi naik sangat tinggi.
Ia mengalokasikan dana secara merata ke berbagai meme coin seperti Shiba Inu, Akita Inu, dan beberapa token lain yang saat itu sedang populer.
Pendekatan ini dilakukan karena sulit memprediksi koin mana yang akan mengalami kenaikan paling besar.
“Kalau satu atau dua koin saja yang naik ribuan persen, itu sudah cukup menutup kerugian koin lainnya,” katanya.
Life Changing Moment dari Shiba Inu
Keputusan tersebut akhirnya menghasilkan keuntungan luar biasa.
Ia membeli sekitar 1,17 miliar token Shiba Inu dengan modal hanya sekitar 100 dolar AS atau sekitar Rp1,5 juta saat itu.
Ketika harga Shiba Inu melonjak tajam pada masa bull run kripto 2021, nilai investasi tersebut berubah drastis.
Nilainya sempat mencapai hampir Rp1,7 miliar.
Momen ini disebutnya sebagai life changing moment yang benar-benar mengubah kondisi keuangannya.
Menjual Aset Saat Bitcoin Turun
Ketika pasar kripto mulai memasuki fase penurunan pada akhir 2021, ia memutuskan menjual sebagian besar asetnya.
Keputusan itu diambil setelah melihat perubahan tren harga Bitcoin yang mulai melemah dari level sekitar 69 ribu dolar AS.
Ia khawatir keuntungan besar yang telah diperoleh akan kembali hilang jika tidak segera diamankan.
“Banyak orang kehilangan semua profit karena tidak pernah take profit,” katanya.
Setelah menjual aset, ia tetap aktif trading di pasar kripto dengan strategi berbeda, termasuk trading dua arah saat pasar bearish.
Pelajaran dari Crypto Journey
Menurutnya, ada beberapa pelajaran penting dari crypto journey Kalimasada. Pertama adalah keberanian mencoba peluang baru meskipun risikonya tinggi.
Kedua, kemampuan belajar dari kesalahan orang lain agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
Ketiga, memahami bahwa nilai kekayaan atau portofolio investasi bisa naik dan turun dalam jangka pendek.
Namun jika strategi dan disiplin diterapkan dengan benar, pertumbuhan aset dalam jangka panjang bisa meningkat secara signifikan.
Ia menegaskan bahwa kesuksesan di dunia kripto tidak hanya ditentukan oleh keberuntungan, tetapi juga oleh persiapan, riset, serta pengelolaan risiko yang matang.
Editor : Axsha Zazhika