Tulungagung - Di tengah penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat melonjak hingga 2% dalam sehari, investor mulai mencari peluang baru di saham-saham yang masih tergolong murah namun memiliki fundamental bisnis yang kuat. Strategi ini menjadi fokus utama dalam screening terbaru yang dilakukan untuk menemukan saham murah saat IHSG naik.
Fenomena kenaikan IHSG tersebut justru dimanfaatkan investor untuk berburu emiten dengan valuasi rendah namun memiliki kinerja bisnis yang solid. Pendekatan ini dinilai lebih aman dibanding mengejar saham yang sudah naik tinggi tanpa dukungan fundamental yang kuat.
Dalam analisis tersebut, saham murah saat IHSG naik disaring menggunakan beberapa indikator utama, seperti price to earnings ratio (PER) di bawah 10 kali, return on equity minimal 12%, pertumbuhan pendapatan dan laba, konsistensi dividen, serta arus kas bebas yang positif.
Screening Ketat: Cari Saham Murah dan Berkualitas
Kriteria awal dalam mencari saham murah saat IHSG naik adalah valuasi rendah dengan PER maksimal 10 kali. Namun tidak hanya murah, saham yang dipilih juga harus memiliki kualitas bisnis yang baik, tercermin dari ROE tinggi, minimal 12%, serta kemampuan menghasilkan laba secara konsisten.
Selain itu, emiten juga wajib memiliki pertumbuhan pendapatan dan laba bersih minimal 3% dalam tiga tahun terakhir. Konsistensi pembagian dividen selama lima tahun berturut-turut serta free cash flow positif menjadi syarat tambahan untuk memastikan kesehatan keuangan perusahaan.
10 Saham Masuk Radar Investor
Dari hasil penyaringan tersebut, ditemukan 10 emiten yang memenuhi kriteria saham murah saat IHSG naik, yaitu BBRI, BMRI, DSNG, ELSA, ICBP, INDF, JPFA, LSIP, TAPG, dan TSPC.
Saham perbankan seperti BBRI dan BMRI tetap menjadi sorotan utama. Keduanya dikenal memiliki fundamental kuat dengan ROE tinggi serta kemampuan menghasilkan dividen besar. Bahkan, BBRI tercatat memiliki dividend yield hingga sekitar 10%, menjadikannya salah satu saham dengan imbal hasil menarik di sektor perbankan.
BMRI juga menunjukkan performa serupa dengan dividend yield mendekati 9–10%, didukung efisiensi bisnis dan digitalisasi layanan perbankan.
Sektor Sawit dan Energi Jadi Andalan
Selain perbankan, sektor sawit seperti DSNG, TAPG, dan LSIP juga masuk dalam daftar saham murah saat IHSG naik. Emiten sawit dinilai memiliki valuasi relatif rendah dengan ROE yang cukup tinggi, serta potensi pertumbuhan dari kebijakan biodiesel seperti B35 hingga kemungkinan B50 di masa depan.
Di sektor energi dan jasa, ELSA menjadi salah satu emiten yang menarik karena memiliki arus kas kuat dan keterkaitan dengan proyek migas nasional. Namun investor tetap diminta berhati-hati karena kenaikan harga sahamnya sudah cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Consumer Goods dan Farmasi Tetap Stabil
Sektor consumer goods seperti ICBP dan INDF juga lolos screening karena stabilitas bisnisnya. Meski demikian, keduanya dinilai kurang menarik dari sisi return pemegang saham karena payout ratio yang rendah sehingga dividen yield cenderung kecil.
Sementara itu, TSPC menjadi salah satu emiten farmasi yang menarik karena memiliki utang rendah, arus kas positif, serta konsistensi pembagian dividen yang cukup tinggi.
Strategi Investor: Jangan Hanya Murah
Analisis ini menegaskan bahwa memilih saham murah saat IHSG naik tidak cukup hanya berdasarkan valuasi rendah. Investor juga harus memperhatikan kualitas bisnis, konsistensi laba, serta kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas.
Saham-saham yang masuk screening ini bukan untuk dibeli secara langsung tanpa analisis lanjutan. Investor tetap disarankan melakukan riset mendalam atau do your own research sebelum mengambil keputusan.
Kesimpulan
Di tengah momentum penguatan IHSG, peluang tetap terbuka di saham-saham undervalued dengan fundamental kuat. Namun strategi selektif menjadi kunci utama agar investor tidak terjebak pada saham murah yang ternyata tidak berkualitas.
Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh