JAKARTA - Polygon Siskiu T7E kembali menjadi perbincangan di kalangan pecinta sepeda gunung listrik atau e-MTB. Setelah banyak dipuji karena desain gagah dan performa motor Shimano EP801 yang bertenaga, kali ini muncul ulasan jujur dari pengguna yang telah memakai Polygon Siskiu T7E selama lebih dari tiga bulan.
Pengguna tersebut membagikan sejumlah kekurangan Polygon Siskiu T7E berdasarkan pengalaman pribadi selama pemakaian harian. Mulai dari handling yang dinilai kurang meyakinkan, sistem rem yang terasa berbeda, hingga kendala saat traveling menggunakan pesawat.
Meski begitu, ulasan ini bukan untuk menjatuhkan produk, melainkan sebagai bahan pertimbangan bagi calon pembeli yang ingin upgrade ke e-bike full suspension kelas premium.
Handling Polygon Siskiu T7E Dinilai Kurang Greget
Keluhan pertama yang disorot adalah bagian handling, terutama pada fork depan bawaan SR Suntour Ion. Meski memiliki travel besar hingga 160 mm, pengguna merasa saat menikung ada sensasi lentur dan kurang presisi.
Menurutnya, saat menggunakan ban bawaan 29 x 2.60 inci, sepeda terasa kurang stabil ketika diajak cornering. Bahkan, ban depan terasa seperti “lari” dan sulit dikendalikan saat menikung agresif.
Baca Juga: Vivo Y300 Pro 5G Resmi Dirilis, Desain Mirip X100 Series dengan Baterai 6.500 mAh Super Tipis
Sebagai perbandingan, sebelumnya ia menggunakan Polygon T7 dengan roda 27,5 inci dan merasa handling jauh lebih nyaman. Setelah mencoba mengganti ban depan menjadi 27,5 inci sementara belakang tetap 29 inci, handling justru terasa lebih enak dan lebih percaya diri.
Akhirnya, ia memutuskan kembali ke setup 27,5 inci karena dinilai lebih aman dan sesuai dengan gaya berkendara.
Kendala Sensor dan Rotor Saat Ganti Wheelset
Namun, mengganti ukuran roda pada Polygon Siskiu T7E ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Salah satu kendala utama ada pada hub boost dan sensor bawaan motor listrik.
Sensor berada di roda belakang dan membutuhkan rotor khusus agar sistem tetap membaca putaran roda dengan benar. Jika salah memilih rotor atau hub, sistem motor bisa mengalami error dengan indikator lampu merah.
Pengguna mengaku cukup kesulitan mencari rotor center lock yang kompatibel dengan sensor tersebut. Tidak semua rotor aftermarket bisa langsung dipasang karena banyak desain yang menutup posisi sensor.
Solusi paling praktis justru menggunakan wheelset bawaan Polygon T7 atau T8 yang disebut plug and play tanpa perlu banyak modifikasi.
Baca Juga: Vivo Y300 Pro Resmi Meluncur, HP Tipis dengan Baterai 6.500 mAh dan Layar AMOLED Quad Curve
Rem Besar Bikin Ban Belakang Mudah Lari
Kritik berikutnya datang dari sektor pengereman. Polygon Siskiu T7E menggunakan rotor besar 203 mm depan dan belakang yang memang sangat kuat untuk kebutuhan trail ekstrem.
Namun bagi pengguna yang lebih mengutamakan keamanan dibanding gaya riding agresif, rotor besar ini justru membuat ban belakang mudah selip saat pengereman mendadak.
Ia membandingkan dengan pengalaman memakai Polygon T7 sebelumnya yang menggunakan rotor standar dan terasa lebih stabil saat melakukan pengereman.
Beberapa rekan sesama rider bahkan menyarankan untuk kembali menggunakan rotor berukuran lebih kecil agar karakter pengereman lebih halus dan tidak terlalu agresif.
Sayangnya, kembali lagi masalah sensor belakang membuat proses penggantian rotor tidak semudah sepeda biasa.
Baca Juga: Vivo Y300 Pro Plus Siap Meluncur, HP Baterai 7.300 mAh dengan Snapdragon 7s Gen 3 dan Kamera 50 MP
Bunyi Misterius dan Remote Kurang Praktis
Masalah lain yang muncul adalah bunyi “tek-tek-tek” di bagian headset atau area cockpit saat melewati jalan berlubang. Bunyi ini sempat hilang setelah dibongkar dan diberi grease, namun beberapa bulan kemudian muncul lagi.
Belum diketahui secara pasti apakah sumber masalah berasal dari headset FSA atau komponen lain di area depan sepeda.
Selain itu, posisi remote kontrol motor juga dianggap kurang praktis. Letaknya membuat pengguna kesulitan saat sepeda dibalik, dimasukkan ke mobil, atau saat posisi handlebar tertekan ke tanah.
Menurutnya, desain layar dan tombol akan jauh lebih baik jika dibuat lebih ringkas seperti model e-bike lain yang tombolnya menyatu rapi di dekat handlebar.
Traveling Jadi Tantangan Besar
Sebagai e-bike, kendala terbesar lainnya adalah saat traveling menggunakan pesawat. Baterai berkapasitas besar pada Polygon Siskiu T7E tidak diperbolehkan masuk kabin maupun bagasi karena melebihi batas regulasi penerbangan.
Baca Juga: Infinix Note 60 Pro Resmi Debut dengan Snapdragon, Harga Tembus Rp 6 Juta Bikin Heboh
Pengguna mengaku pernah mengalami kesulitan saat membawa sepeda ini ke Bromo. Solusinya, baterai harus dikirim terpisah melalui jalur kapal atau ekspedisi darat.
Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi rider yang sering membawa sepeda ke luar kota atau luar pulau untuk touring.
Tetap Layak untuk Rider Adventure
Meski memiliki beberapa kekurangan, pengguna tetap menilai Polygon Siskiu T7E sebagai e-bike yang sangat menarik, terutama untuk rider yang suka adventure dan jalur off-road panjang.
Baca Juga: Infinix Note 60 Pro Resmi di Indonesia, Pakai Snapdragon 7s Gen 4 dan Wireless Charging 30 Watt
Pilihan kembali ke roda 27,5 inci lebih disebabkan faktor kenyamanan dan keamanan pribadi, apalagi usia sudah memasuki 40 tahun dan lebih mengutamakan safety dibanding agresivitas.
Bagi calon pembeli, memahami karakter sepeda sebelum membeli menjadi hal penting agar Polygon Siskiu T7E benar-benar sesuai dengan kebutuhan riding masing-masing.
Editor : Dyah Wulandari