Radar Tulungagung – Bagi masyarakat yang sedang mencari sepeda untuk kebutuhan harian, pilihan city bike dengan harga terjangkau semakin beragam. Di kelas Rp2 jutaan, dua model yang cukup menarik perhatian adalah Polygon Lovina dan Pacific Ovo. Keduanya menawarkan konsep sepeda perkotaan yang nyaman digunakan untuk sekolah, bekerja, hingga sekadar bersepeda santai di sore hari.
Meski berada di segmen harga yang hampir sama, Polygon Lovina dan Pacific Ovo ternyata memiliki sejumlah perbedaan yang cukup mencolok. Mulai dari desain, ukuran ban, hingga fitur yang ditawarkan kepada pengguna.
Perbandingan tersebut dibahas oleh pehobi sepeda Ahmad Sinan dalam sebuah video ulasan yang memperlihatkan kedua sepeda secara langsung. Menurutnya, masing-masing model memiliki keunggulan tersendiri yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
Harga baru Polygon Lovina berada di kisaran Rp2,4 juta. Sementara Pacific Ovo dibanderol sedikit lebih tinggi, yakni sekitar Rp2,8 juta. Selisih harga tersebut membuat banyak calon pembeli penasaran mengenai perbedaan yang ditawarkan kedua produk tersebut.
Polygon Lovina Andalkan Desain Klasik
Dari sisi tampilan, Polygon Lovina tampil dengan nuansa klasik yang cukup kuat. Dominasi warna silver dan aksen krom membuat sepeda ini terlihat sederhana namun tetap menarik.
Sepeda ini menggunakan roda berukuran 26 inci dengan ban berukuran 26 x 1.50 inci. Ukuran ban yang relatif ramping membuat kayuhan terasa ringan saat digunakan di jalan aspal atau kawasan perkotaan.
Pada bagian transmisi, Polygon Lovina dibekali sistem 1x7 percepatan dengan groupset Shimano Tourney. Konfigurasi tersebut dinilai cukup untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari tanpa membuat pengguna kesulitan mengoperasikan perpindahan gigi.
Keunggulan lainnya adalah adanya pelindung rantai penuh yang membantu menjaga pakaian tetap bersih saat berkendara. Fitur seperti ini masih banyak dicari oleh pengguna yang menggunakan sepeda untuk sekolah maupun bekerja.
Namun, menurut Ahmad Sinan, ukuran chainring bawaan tergolong kecil sehingga kurang optimal bagi pengguna yang ingin melaju dengan kecepatan tinggi dalam waktu lama.
Pacific Ovo Tawarkan Tampilan Lebih Modern
Sementara itu, Pacific Ovo hadir dengan desain yang lebih modern. Salah satu pembeda utamanya adalah penggunaan sistem kabel internal yang membuat tampilan rangka terlihat lebih rapi dan bersih.
Selain itu, Pacific Ovo menggunakan ban berukuran 26 x 1.95 inci yang lebih lebar dibandingkan Polygon Lovina. Ban yang lebih besar memberikan kenyamanan ekstra ketika melintasi jalan bergelombang atau permukaan yang kurang rata.
Keranjang depan juga menjadi salah satu keunggulan Pacific Ovo. Ukurannya lebih besar sehingga lebih fungsional untuk membawa barang bawaan sehari-hari.
Sepeda ini juga sudah dilengkapi lampu bawaan sejak pembelian baru. Meski demikian, pengguna tetap dapat menggantinya dengan lampu LED isi ulang apabila menginginkan pencahayaan yang lebih terang dan praktis.
Untuk sistem penggerak, Pacific Ovo juga mengandalkan Shimano Tourney 1x7 percepatan. Rem yang digunakan berasal dari Tektro, sama seperti yang digunakan pada Polygon Lovina.
Kenyamanan Jadi Nilai Tambah Pacific Ovo
Menurut Ahmad, salah satu keunggulan yang paling terasa saat mencoba Pacific Ovo adalah posisi berkendara yang lebih santai. Bentuk setang yang sedikit mengarah ke belakang membuat pengendara tidak cepat lelah saat digunakan dalam perjalanan jarak menengah.
Sadel bawaan Pacific Ovo juga terasa lebih empuk sehingga meningkatkan kenyamanan saat digunakan dalam waktu lama.
Di sisi lain, Polygon Lovina unggul dari segi bobot yang lebih ringan serta tampilan klasik yang masih diminati sebagian pengguna.
Karena itu, pilihan terbaik sangat bergantung pada kebutuhan masing-masing. Jika mencari sepeda ringan dengan desain sederhana dan elegan, Polygon Lovina bisa menjadi pilihan tepat. Namun jika mengutamakan kenyamanan, fitur modern, serta posisi berkendara yang santai, Pacific Ovo layak dipertimbangkan.
Dengan harga yang masih terjangkau, kedua city bike ini tetap menjadi opsi menarik bagi masyarakat yang ingin beralih ke transportasi ramah lingkungan untuk aktivitas sehari-hari.
Editor : Maylanni Diana Fitri