Radar Tulungagung – Tradisi perhitungan weton masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Jawa. Selain digunakan untuk menentukan hari baik, dalam Primbon Jawa juga dikenal istilah Naga Dina dan Patine Dina yang dipercaya memiliki kaitan dengan arah keberuntungan serta keselamatan seseorang saat menjalankan aktivitas penting.
Hingga kini, Naga Dina dan Patine Dina masih sering dibahas oleh masyarakat yang memegang teguh tradisi leluhur. Kedua istilah tersebut dipercaya dapat menjadi pedoman dalam menentukan arah perjalanan, membuka usaha, hingga menggelar hajatan besar seperti pernikahan dan pindah rumah.
Meski tidak memiliki dasar ilmiah dan termasuk dalam ranah kepercayaan budaya, keberadaan Naga Dina dan Patine Dina tetap menarik perhatian karena menjadi salah satu warisan kearifan lokal masyarakat Jawa yang telah bertahan selama ratusan tahun.
Naga Dina Diyakini Sebagai Letak Kekuatan Hari
Dalam Primbon Jawa, Naga Dina diartikan sebagai posisi atau arah yang menjadi pusat kekuatan suatu hari. Arah tersebut dipercaya membawa energi positif dan keberuntungan bagi orang yang melakukan aktivitas ke arah tersebut.
Karena itulah, sebagian masyarakat Jawa zaman dahulu menjadikan Naga Dina sebagai salah satu pertimbangan sebelum bepergian, berdagang, atau memulai pekerjaan baru.
Kepercayaan ini berangkat dari keyakinan bahwa setiap hari memiliki energi yang berbeda-beda. Energi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam arah mata angin melalui perhitungan neptu hari dan pasaran Jawa.
Patine Dina Dipercaya Sebagai Arah yang Perlu Dihindari
Berbeda dengan Naga Dina, Patine Dina dianggap sebagai titik lemah atau arah yang kurang menguntungkan pada hari tertentu.
Dalam bahasa Jawa, Patine Dina sering dimaknai sebagai "kematian hari" atau "kuburan hari". Karena makna tersebut, arah Patine Dina dipercaya kurang baik apabila dijadikan tujuan utama saat melaksanakan kegiatan penting.
Masyarakat Jawa tradisional meyakini bahwa memilih arah yang bertepatan dengan Patine Dina dapat menyebabkan hambatan, kesulitan, atau hasil yang kurang maksimal dalam suatu usaha.
Digunakan untuk Berbagai Keperluan
Kepercayaan mengenai Naga Dina dan Patine Dina tidak hanya digunakan untuk perjalanan. Dalam praktiknya, perhitungan tersebut juga sering diterapkan saat menentukan arah keberangkatan pengantin, lokasi membuka usaha, hingga memilih waktu dan arah saat pindah rumah.
Sebagian orang percaya bahwa mengikuti arah Naga Dina dapat meningkatkan peluang keberhasilan, sedangkan menghindari arah Patine Dina dianggap sebagai bentuk ikhtiar untuk mengurangi risiko hambatan.
Karena alasan itulah, perhitungan ini masih dipelajari oleh sebagian masyarakat Jawa hingga sekarang.
Berdasarkan Perhitungan Neptu Hari dan Pasaran
Naga Dina dan Patine Dina ditentukan melalui perhitungan neptu hari serta pasaran Jawa. Setiap hari dan pasaran memiliki nilai tertentu yang kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan hasil akhir.
Nilai tersebut selanjutnya digunakan untuk menentukan posisi Naga Dina maupun Patine Dina berdasarkan arah mata angin.
Meskipun metode perhitungannya tergolong sederhana, hasilnya dipercaya memiliki makna penting dalam tradisi Primbon Jawa.
Menjadi Bagian dari Kearifan Lokal Jawa
Budayawan menilai keberadaan Naga Dina dan Patine Dina menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa pada masa lalu memiliki cara tersendiri dalam memahami kehidupan dan alam semesta.
Melalui berbagai simbol serta perhitungan tradisional, leluhur Jawa berusaha menciptakan pedoman hidup yang dapat digunakan dalam mengambil keputusan sehari-hari.
Saat ini, sebagian masyarakat masih mempercayainya sebagai petunjuk hidup, sementara sebagian lainnya memandang Naga Dina dan Patine Dina sebagai warisan budaya yang menarik untuk dipelajari tanpa harus diyakini sepenuhnya.
Terlepas dari berbagai pandangan tersebut, Naga Dina dan Patine Dina tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Jawa yang hingga kini masih bertahan dan terus diperkenalkan kepada generasi muda.
Editor : Maylanni Diana Fitri