Radar Tulungagung – Weton Pahing kembali menjadi perbincangan dalam berbagai kajian Primbon Jawa. Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat, tahun 2026 disebut sebagai momentum penting bagi pemilik weton Pahing untuk meningkatkan peluang keberhasilan, kesejahteraan, dan kemudahan rezeki.
Dalam tradisi Jawa, Pahing dikenal memiliki energi yang kuat dan identik dengan karakter pekerja keras, berani mengambil keputusan, serta memiliki semangat tinggi dalam mengejar tujuan hidup. Namun, energi besar tersebut juga diyakini perlu diseimbangkan agar tidak berubah menjadi sikap tergesa-gesa atau mudah terbawa emosi.
Sejumlah penafsiran Primbon Jawa menyebut bahwa salah satu cara simbolis untuk menciptakan keseimbangan tersebut adalah dengan menanam pohon tertentu di sekitar rumah sebagai bentuk harmonisasi antara manusia dan alam.
Tahun 2026 Disebut Sebagai Masa Perubahan bagi Weton Pahing
Dalam penjelasan yang beredar di kalangan pegiat budaya Jawa, tahun 2026 dipandang sebagai periode transisi bagi pemilik weton Pahing. Tahun tersebut dipercaya membawa banyak peluang baru yang dapat membuka jalan menuju peningkatan ekonomi maupun karier.
Namun demikian, peluang tersebut diyakini hanya dapat dimanfaatkan secara optimal apabila pemilik weton mampu menjaga ketenangan pikiran dan kestabilan emosi.
Filosofi yang sering disampaikan dalam Primbon Jawa menekankan bahwa rezeki tidak hanya berkaitan dengan kerja keras, tetapi juga kesiapan mental dalam menerima dan mengelola keberuntungan yang datang.
Pohon Bidara dan Sawo Kecik Jadi Pilihan Utama
Dua jenis tanaman yang paling sering disebut dalam tradisi tersebut adalah pohon bidara dan sawo kecik.
Pohon bidara memiliki nilai khusus karena kerap dikaitkan dengan berbagai ajaran keislaman. Selain dikenal sebagai tanaman yang bermanfaat, bidara juga dianggap sebagai simbol keteduhan, kebersihan hati, serta ketenangan jiwa.
Sementara itu, sawo kecik mempunyai filosofi yang sangat kuat dalam budaya Jawa. Nama sawo kecik sering dihubungkan dengan istilah "sarwo becik" yang berarti serba baik atau penuh kebaikan.
Karena itu, menanam sawo kecik dimaknai sebagai doa agar setiap langkah kehidupan membawa manfaat, keselamatan, dan keberkahan bagi keluarga.
Menanam Pohon Dipandang Sebagai Amal Kebaikan
Di luar kepercayaan Primbon Jawa, aktivitas menanam pohon juga memiliki nilai positif yang diakui secara luas.
Menanam pohon membantu menjaga kelestarian lingkungan, menghasilkan udara yang lebih segar, serta menciptakan suasana rumah yang lebih nyaman dan teduh.
Bahkan dalam ajaran Islam, menanam pohon termasuk amal yang bernilai kebaikan karena manfaatnya dapat dirasakan oleh manusia, hewan, maupun lingkungan sekitar.
Karena itu, sebagian masyarakat memandang kegiatan menanam pohon bukan sekadar simbol keberuntungan, tetapi juga bentuk rasa syukur atas nikmat alam yang diberikan Tuhan.
Rezeki Tetap Bergantung pada Ikhtiar dan Doa
Meski berbagai ramalan weton masih dipercaya oleh sebagian kalangan, para pemerhati budaya mengingatkan bahwa keberhasilan hidup tidak hanya ditentukan oleh hitungan Primbon.
Kerja keras, kejujuran, disiplin, doa, serta kemampuan memanfaatkan peluang tetap menjadi faktor utama dalam meraih kesuksesan.
Bagi pemilik weton Pahing, pesan yang paling sering disampaikan adalah menjaga keseimbangan antara usaha lahiriah dan ketenangan batin. Dengan karakter kuat yang dimiliki, mereka dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang apabila mampu mengendalikan emosi dan tetap konsisten dalam bekerja.
Pada akhirnya, baik bidara maupun sawo kecik hanyalah simbol ikhtiar dan harapan. Sementara sumber rezeki dan keberkahan tetap berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Editor : Maylanni Diana Fitri