Radar Tulungagung - Hitungan Jawa untuk Menanam kembali menjadi sorotan setelah sebuah penjelasan dari seorang kreator konten pertanian viral di media sosial. Dalam video tersebut, ia membahas secara rinci tentang hitungan Jawa untuk menanam yang digunakan sebagian petani tradisional untuk menentukan waktu terbaik dalam bercocok tanam, mulai dari padi, sayuran, hingga tanaman umbi-umbian.
Metode ini memadukan sistem hari nasional (Ahad hingga Sabtu) dengan pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Dari kombinasi dua sistem tersebut, muncul perhitungan angka yang diyakini dapat menentukan jenis tanaman yang cocok ditanam pada hari tertentu.
Sistem Hitungan Jawa untuk Menanam
Dalam penjelasan yang viral tersebut, hitungan Jawa untuk menanam dijabarkan sebagai gabungan antara tujuh hari dalam kalender nasional dan lima hari pasaran Jawa. Setiap hari memiliki nilai angka tertentu, begitu juga dengan pasaran.
Misalnya, Ahad bernilai 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sementara pasaran Jawa terdiri dari Pon 7, Wage 4, Kliwon 8, Legi 5, dan Pahing 9. Kedua angka tersebut kemudian dijumlahkan untuk menentukan kategori tanaman.
Kategori Tanaman Berdasarkan Perhitungan
Hasil penjumlahan dalam hitungan Jawa untuk menanam kemudian dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu buah, oyot (akar), godong (daun), dan pohon.
Jika hasil penjumlahan berada pada kategori tertentu, maka jenis tanaman yang disarankan pun berbeda.
- Kategori “buah” digunakan untuk tanaman seperti padi, cabai, tomat, hingga tanaman buah seperti durian dan rambutan.
- Kategori “oyot” cocok untuk tanaman umbi seperti singkong, ubi, dan kentang.
- Kategori “godong” digunakan untuk sayuran daun seperti bayam, sawi, dan kangkung.
- Sementara kategori “pohon” diperuntukkan bagi tanaman keras seperti sengon atau tanaman yang dipanen bagian batangnya.
Salah satu contoh yang dijelaskan adalah ketika hari Selasa Kliwon, hasil penjumlahan menunjukkan angka tertentu yang masuk kategori “godong”, sehingga dianggap cocok untuk menanam sayuran daun.
Kearifan Lokal Petani Jawa
Meski kini banyak petani menggunakan teknologi modern, hitungan Jawa untuk menanam masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai bagian dari kearifan lokal. Sistem ini dianggap sebagai bentuk pengetahuan leluhur yang lahir dari pengamatan panjang terhadap alam dan musim.
Namun demikian, pembuat penjelasan tersebut juga menegaskan bahwa metode ini tidak bersifat wajib. Artinya, hitungan Jawa lebih bersifat sebagai pengetahuan tambahan dan warisan budaya, bukan aturan mutlak dalam pertanian modern.
Relevansi di Era Modern
Di tengah perkembangan teknologi pertanian saat ini, keberadaan hitungan Jawa untuk menanam menjadi menarik karena menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa dahulu menggabungkan observasi alam dengan sistem penanggalan tradisional.
Banyak pihak menilai metode ini mencerminkan cara berpikir sistematis leluhur dalam memahami pola alam, meskipun belum tentu memiliki dasar ilmiah modern. Meski begitu, nilai budaya dan historisnya tetap menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi petani yang masih mempertahankan tradisi.
Kesimpulan
Hitungan Jawa untuk menanam merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang menggabungkan kalender hari dan pasaran untuk menentukan waktu tanam. Meski tidak wajib digunakan, sistem ini masih dipercaya sebagian petani sebagai panduan tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Fenomena viral ini sekaligus menunjukkan bahwa tradisi pertanian Jawa masih memiliki tempat di era modern, baik sebagai identitas budaya maupun sebagai pengetahuan tambahan dalam dunia pertanian.
Editor : Maylanni Diana Fitri