Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Viral! Petani Ungkap “Hitungan Jawa untuk Menanam” yang Masih Dipakai Hingga Kini, Ternyata Bisa Tentukan Jenis Tanaman dari Hari dan Pasaran

Maylanni Diana Fitri • Jumat, 12 Juni 2026 | 19:24 WIB
Hitungan Jawa untuk menanam viral di kalangan petani, metode tradisional tentukan jenis tanaman berdasarkan hari dan pasaran.(pinterest)
Hitungan Jawa untuk menanam viral di kalangan petani, metode tradisional tentukan jenis tanaman berdasarkan hari dan pasaran.(pinterest)

Radar Tulungagung - Hitungan Jawa untuk Menanam kembali mencuri perhatian warganet setelah sebuah penjelasan sederhana dari seorang pegiat pertanian tradisional viral di media sosial. Dalam penjelasannya, ia menguraikan bagaimana hitungan Jawa untuk menanam masih digunakan sebagian petani sebagai panduan menentukan waktu terbaik bercocok tanam, mulai dari padi, sayuran, hingga tanaman umbi.

Metode ini menggabungkan dua sistem penanggalan, yaitu kalender hari nasional (Ahad hingga Sabtu) dan kalender pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Dari kombinasi kedua sistem tersebut, kemudian dihasilkan angka tertentu yang dipercaya dapat menunjukkan jenis tanaman yang paling cocok untuk ditanam pada hari tersebut.

Asal Usul Hitungan Jawa untuk Menanam

Dalam penjelasan yang viral itu, hitungan Jawa untuk menanam disebut berasal dari kebiasaan leluhur dalam mengamati pola alam dan musim. Setiap hari dalam satu pekan memiliki nilai angka tertentu, begitu juga dengan hari pasaran Jawa.

Baca Juga: Review Infinix Hot 70 2026: Kamera Setara HP Rp3 Jutaan, Tapi Layarnya Disebut Masih Kelas HP Murah

Ahad bernilai 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sementara itu, pasaran Jawa terdiri dari Pon 7, Wage 4, Kliwon 8, Legi 5, dan Pahing 9. Kedua angka ini kemudian dijumlahkan untuk menentukan kategori tanaman.

Kategori Tanaman dari Perhitungan Jawa

Hasil penjumlahan dalam hitungan Jawa untuk menanam kemudian dibagi menjadi beberapa kategori utama, yaitu buah, oyot (akar), godong (daun), dan pohon.

Baca Juga: 5 HP Xiaomi Harga Rp2-3 Jutaan Paling Worth It Awal 2026, Baterai 7000 mAh dan Layar AMOLED Jadi Andalan

Jika hasilnya masuk kategori “buah”, maka cocok untuk tanaman seperti padi, cabai, tomat, hingga tanaman buah seperti durian dan rambutan.
Kategori “oyot” digunakan untuk tanaman umbi seperti singkong, ubi, dan kentang.
Kategori “godong” diperuntukkan bagi sayuran daun seperti bayam, sawi, dan kangkung.
Sedangkan kategori “pohon” digunakan untuk tanaman keras seperti sengon atau tanaman yang dipanen bagian batangnya.

Contoh Penerapan di Lapangan

Dalam contoh yang dijelaskan, saat hari tertentu seperti Selasa Kliwon, hasil penjumlahan angka menunjukkan kategori “godong”. Artinya, hari tersebut dianggap cocok untuk menanam sayuran daun.

Begitu juga ketika kombinasi hari dan pasaran menghasilkan angka kategori “buah”, maka petani akan memilih jenis tanaman yang menghasilkan buah atau biji sebagai hasil utama panen.

Kearifan Lokal yang Masih Bertahan

Meski teknologi pertanian modern semakin berkembang, hitungan Jawa untuk menanam masih dipraktikkan oleh sebagian petani tradisional. Mereka menganggap metode ini sebagai bagian dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun dan lahir dari pengamatan panjang terhadap alam.

Namun, penjelasan tersebut juga menegaskan bahwa sistem ini tidak bersifat mutlak. Banyak petani modern menggunakannya hanya sebagai referensi tambahan, bukan sebagai satu-satunya patokan dalam menentukan waktu tanam.

Nilai Budaya di Balik Hitungan Jawa

Selain sebagai panduan pertanian, hitungan Jawa untuk menanam juga mencerminkan cara pandang masyarakat Jawa dalam memahami keteraturan alam. Sistem ini menunjukkan bahwa leluhur telah lama mengamati pola musim, cuaca, dan siklus pertumbuhan tanaman secara sistematis.

Hal ini membuat hitungan Jawa tidak hanya dilihat sebagai tradisi, tetapi juga sebagai bentuk pengetahuan lokal yang kaya nilai budaya dan filosofi kehidupan.

Kesimpulan

Hitungan Jawa untuk menanam merupakan sistem tradisional yang menggabungkan kalender hari dan pasaran Jawa untuk menentukan jenis tanaman yang cocok ditanam. Meski tidak lagi menjadi acuan utama dalam pertanian modern, metode ini masih bertahan sebagai warisan budaya yang unik dan sarat makna.

Fenomena viral ini menunjukkan bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat di tengah perkembangan teknologi, sekaligus menjadi pengingat bahwa pengetahuan leluhur tidak selalu tertinggal, tetapi masih relevan dalam konteks tertentu.

Editor : Maylanni Diana Fitri
#kearifan lokal Jawa #hitungan Jawa untuk menanam #kalender Jawa pertanian #pasaran Jawa #tradisi petani Jawa