Radar Tulungagung - Hitungan Jawa untuk Menanam kembali mencuri perhatian warganet setelah sebuah penjelasan sederhana dari seorang pegiat pertanian tradisional viral di media sosial. Dalam penjelasannya, ia menguraikan bagaimana hitungan Jawa untuk menanam masih digunakan sebagian petani sebagai panduan menentukan waktu terbaik bercocok tanam, mulai dari padi, sayuran, hingga tanaman umbi.
Metode ini menggabungkan dua sistem penanggalan, yaitu kalender hari nasional (Ahad hingga Sabtu) dan kalender pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Dari kombinasi kedua sistem tersebut, kemudian dihasilkan angka tertentu yang dipercaya dapat menunjukkan jenis tanaman yang paling cocok untuk ditanam pada hari tersebut.
Asal Usul Hitungan Jawa untuk Menanam
Dalam penjelasan yang viral itu, hitungan Jawa untuk menanam disebut berasal dari kebiasaan leluhur dalam mengamati pola alam dan musim. Setiap hari dalam satu pekan memiliki nilai angka tertentu, begitu juga dengan hari pasaran Jawa.
Baca Juga: Review Infinix Hot 70 2026: Kamera Setara HP Rp3 Jutaan, Tapi Layarnya Disebut Masih Kelas HP Murah
Ahad bernilai 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sementara itu, pasaran Jawa terdiri dari Pon 7, Wage 4, Kliwon 8, Legi 5, dan Pahing 9. Kedua angka ini kemudian dijumlahkan untuk menentukan kategori tanaman.
Kategori Tanaman dari Perhitungan Jawa
Hasil penjumlahan dalam hitungan Jawa untuk menanam kemudian dibagi menjadi beberapa kategori utama, yaitu buah, oyot (akar), godong (daun), dan pohon.
Jika hasilnya masuk kategori “buah”, maka cocok untuk tanaman seperti padi, cabai, tomat, hingga tanaman buah seperti durian dan rambutan.
Kategori “oyot” digunakan untuk tanaman umbi seperti singkong, ubi, dan kentang.
Kategori “godong” diperuntukkan bagi sayuran daun seperti bayam, sawi, dan kangkung.
Sedangkan kategori “pohon” digunakan untuk tanaman keras seperti sengon atau tanaman yang dipanen bagian batangnya.
Contoh Penerapan di Lapangan
Dalam contoh yang dijelaskan, saat hari tertentu seperti Selasa Kliwon, hasil penjumlahan angka menunjukkan kategori “godong”. Artinya, hari tersebut dianggap cocok untuk menanam sayuran daun.
Begitu juga ketika kombinasi hari dan pasaran menghasilkan angka kategori “buah”, maka petani akan memilih jenis tanaman yang menghasilkan buah atau biji sebagai hasil utama panen.
Kearifan Lokal yang Masih Bertahan
Meski teknologi pertanian modern semakin berkembang, hitungan Jawa untuk menanam masih dipraktikkan oleh sebagian petani tradisional. Mereka menganggap metode ini sebagai bagian dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun dan lahir dari pengamatan panjang terhadap alam.
Namun, penjelasan tersebut juga menegaskan bahwa sistem ini tidak bersifat mutlak. Banyak petani modern menggunakannya hanya sebagai referensi tambahan, bukan sebagai satu-satunya patokan dalam menentukan waktu tanam.
Nilai Budaya di Balik Hitungan Jawa
Selain sebagai panduan pertanian, hitungan Jawa untuk menanam juga mencerminkan cara pandang masyarakat Jawa dalam memahami keteraturan alam. Sistem ini menunjukkan bahwa leluhur telah lama mengamati pola musim, cuaca, dan siklus pertumbuhan tanaman secara sistematis.
Hal ini membuat hitungan Jawa tidak hanya dilihat sebagai tradisi, tetapi juga sebagai bentuk pengetahuan lokal yang kaya nilai budaya dan filosofi kehidupan.
Kesimpulan
Hitungan Jawa untuk menanam merupakan sistem tradisional yang menggabungkan kalender hari dan pasaran Jawa untuk menentukan jenis tanaman yang cocok ditanam. Meski tidak lagi menjadi acuan utama dalam pertanian modern, metode ini masih bertahan sebagai warisan budaya yang unik dan sarat makna.
Fenomena viral ini menunjukkan bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat di tengah perkembangan teknologi, sekaligus menjadi pengingat bahwa pengetahuan leluhur tidak selalu tertinggal, tetapi masih relevan dalam konteks tertentu.
Editor : Maylanni Diana Fitri