Radar Tulungagung – Dalam tradisi Primbon Jawa dan perhitungan weton, waktu diyakini bukan sekadar penanda hari, tetapi memiliki energi dan karakter yang dapat memengaruhi perjalanan hidup manusia, termasuk dalam urusan rezeki dan usaha.
Kepercayaan ini kembali ramai diperbincangkan setelah muncul penjelasan mengenai tiga hari terlarang untuk memulai usaha menurut Primbon Jawa, yang disebut memiliki energi kurang selaras untuk awal langkah penting. Meski sebagian masyarakat modern menganggapnya mitos, sebagian lain masih meyakini adanya pengaruh “getaran waktu” dalam setiap aktivitas manusia.
Energi Hari dalam Primbon Jawa
Dalam kitab-kitab kuno Jawa, setiap hari memiliki watak dan kombinasi energi tertentu. Sistem ini dikenal sebagai pertemuan hari pasaran Jawa seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon yang berpadu dengan hari biasa seperti Senin hingga Minggu.
Perpaduan ini dipercaya menciptakan pola energi yang berbeda-beda. Karena itu, leluhur Jawa dahulu sangat berhati-hati dalam menentukan waktu untuk memulai usaha, membangun rumah, hingga menggelar hajatan.
Tiga Hari yang Dianggap Kurang Baik untuk Memulai Usaha
Dalam penjelasan Primbon Jawa yang beredar di masyarakat, terdapat tiga kombinasi hari yang kerap dihindari untuk membuka usaha baru.
Pertama adalah Rebo Wage. Hari ini dipercaya memiliki energi yang tidak stabil akibat pertemuan unsur yang dianggap tidak seimbang. Dalam kepercayaan tradisional, usaha yang dimulai pada hari ini kerap menghadapi hambatan awal seperti sepi pelanggan atau kendala teknis.
Kedua adalah Jumat Kliwon. Hari ini dikenal memiliki nuansa spiritual yang kuat dalam budaya Jawa. Banyak yang meyakini adanya “pertemuan alam kasat mata dan tak kasat mata” sehingga dianggap kurang ideal untuk memulai kegiatan besar tanpa persiapan batin tertentu.
Ketiga adalah Selasa Pahing. Hari ini diyakini memiliki karakter energi yang panas dan kompetitif. Dalam kepercayaan Primbon, kondisi ini dapat memicu ketidakharmonisan dalam kerja sama atau membuat usaha sulit bertahan dalam jangka panjang jika tidak dikelola dengan baik.
Tidak Hanya Larangan, Tetapi Juga Petunjuk Waktu Baik
Meski terdapat hari yang dianggap kurang baik, Primbon Jawa juga mengenal hari-hari yang dipercaya membawa keberuntungan untuk memulai usaha. Beberapa di antaranya seperti Kamis Legi, Senin Wage, dan Sabtu Pon yang dianggap memiliki energi lebih stabil dan harmonis.
Hari-hari tersebut dipercaya membawa kelancaran rezeki, hubungan kerja yang lebih baik, serta peluang usaha yang lebih terbuka.
Antara Kepercayaan dan Realitas Modern
Dalam pandangan masyarakat modern, perhitungan waktu dalam Primbon Jawa sering dianggap sebagai tradisi budaya semata. Namun bagi sebagian masyarakat Jawa, nilai filosofis di baliknya tetap relevan, yaitu tentang kehati-hatian, membaca situasi, dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Leluhur Jawa menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada kerja keras, tetapi juga pada “ketepatan waktu” dan kesiapan batin seseorang dalam memulai sesuatu.
Editor : Maylanni Diana Fitri