Radar Tulungagung – Kepercayaan terhadap weton Jawa kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah sebuah narasi spiritual menyebut ada lima weton yang diyakini memiliki perlindungan gaib sejak lahir. Dalam tradisi kejawen, weton dianggap bukan sekadar hari lahir, melainkan kombinasi energi yang memengaruhi karakter, keberuntungan, hingga “aura spiritual” seseorang.
Dalam pembahasan yang beredar, weton Jawa ini bahkan disebut-sebut memiliki “tameng alami” yang membuat pemiliknya sulit tersentuh energi negatif, termasuk santet atau gangguan mistis. Meski demikian, para budayawan menegaskan bahwa pemaknaan ini lebih sebagai warisan kepercayaan budaya, bukan kebenaran ilmiah.
Weton dan Kepercayaan Energi dalam Budaya Jawa
Dalam tradisi Jawa, setiap hari dan pasaran memiliki neptu atau nilai tertentu yang diyakini membentuk karakter seseorang. Dari perhitungan inilah kemudian lahir berbagai interpretasi mengenai kekuatan energi seseorang, termasuk keyakinan bahwa ada weton yang “lebih kuat” dibanding lainnya.
Lima weton yang paling sering disebut memiliki perlindungan spiritual kuat adalah Rabu Pahing, Minggu Pon, Selasa Kliwon, Jumat Legi, dan Kamis Wage. Masing-masing weton ini diyakini memiliki karakter tegas, tenang, hingga intuitif yang membuat pemiliknya lebih stabil secara emosional maupun spiritual.
Rabu Pahing hingga Kamis Wage: Weton dengan Aura Kuat
Dalam narasi kejawen, Rabu Pahing disebut memiliki energi besar dan tajam seperti “petir dalam badai”, sehingga dianggap sulit ditembus energi negatif. Sementara itu, Minggu Pon digambarkan sebagai pribadi yang teguh, stabil, dan tidak mudah goyah meski menghadapi tekanan hidup.
Adapun Selasa Kliwon diyakini memiliki aura panas yang mampu “menolak” energi buruk secara alami, sedangkan Jumat Legi disebut membawa ketenangan dan energi kesejukan yang membuatnya disukai lingkungan sekitar. Sementara itu, Kamis Wage dipercaya sebagai weton dengan karakter cermin spiritual yang mampu memantulkan energi negatif kembali ke sumbernya.
Meski banyak kisah dan narasi spiritual yang menyertai, para pengamat budaya menilai cerita tersebut merupakan bagian dari folklore Jawa yang berkembang secara turun-temurun sebagai bentuk kearifan lokal dan refleksi kehidupan masyarakat masa lalu.
Perspektif Budaya, Bukan Kepastian Ilmiah
Budaya weton sendiri hingga kini masih digunakan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa, mulai dari penentuan hari baik hingga membaca karakter seseorang. Namun, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim adanya kekuatan gaib atau perlindungan mistis pada weton tertentu.
Para ahli budaya menilai, kepercayaan ini lebih tepat dipahami sebagai simbol nilai moral seperti kehati-hatian, kesabaran, dan keseimbangan hidup. Dalam konteks modern, weton bisa menjadi bagian dari identitas budaya, bukan patokan absolut dalam menentukan nasib seseorang.
Dengan demikian, narasi tentang lima weton kebal santet lebih mencerminkan kekayaan tradisi lisan Jawa daripada fakta spiritual yang dapat dibuktikan. Namun, kisah-kisah ini tetap hidup dan menarik perhatian publik karena kuatnya akar budaya dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Editor : Maylanni Diana Fitri