Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dokter Mobil Bongkar Realita Mobil Hybrid: Lebih Irit tapi Perawatan Dua Kali Lipat, Masih Worth It untuk Dibeli Sekarang?

Cholifatun Nisak • Minggu, 14 Juni 2026 | 21:24 WIB
Pakar mekanik Dokter Mobil bongkar fakta mobil hybrid: Lebih irit bensin tapi perawatan mesin dan baterai dua kali lipat. Simak sebelum membeli!
Pakar mekanik Dokter Mobil bongkar fakta mobil hybrid: Lebih irit bensin tapi perawatan mesin dan baterai dua kali lipat. Simak sebelum membeli!

 

RADAR TULUNGAGUNG– Popularitas kendaraan berteknologi hibrida atau hybrid electric vehicle (HEV) tengah menanjak drastis di pasar otomotif Indonesia. Dengan janji efisiensi bahan bakar yang "badak" serta emisi lebih rendah, banyak konsumen menjadikannya pilihan utama untuk kendaraan keluarga maupun operasional kantor. Namun, di balik daya pikat tersebut, sejumlah pakar mekanik mengingatkan konsumen untuk tidak hanya sekadar mengikuti tren tanpa memahami konsekuensi perawatannya.

Ko Lung-Lung, pemilik jaringan bengkel spesialis Dokter Mobil, mengungkapkan fakta penting terkait kepemilikan mobil hybrid. Menurutnya, konsumen harus menyadari bahwa merawat mobil hybrid berarti melakukan dua kali pekerjaan dibandingkan mobil konvensional (Internal Combustion Engine/ICE). Pasalnya, pemilik harus memastikan kesehatan dua sektor utama secara beriringan, yakni mesin bakar konvensional serta sistem baterai beserta motor listriknya.

Realita Efisiensi di Balik Teknologi Hybrid

Dalam ulasannya mengenai berbagai model populer seperti Toyota Innova Zenix Hybrid, Honda CR-V Hybrid, hingga Suzuki XL7 Hybrid, Lung-Lung menyoroti bahwa efisiensi bahan bakar yang dijanjikan produsen sangat bergantung pada profil penggunaan. Sebagai contoh, sistem Mild Hybrid pada Suzuki XL7 baru akan terasa kontribusinya saat kendaraan melaju di jalan tol dengan kecepatan stabil di atas 70 km/jam.

"Penghematan BBM di Jakarta terkadang tidak segila klaim brosur karena penggunaan AC yang intensif. Kompresor AC membutuhkan daya besar dari baterai. Ketika baterai terkuras, mesin akan otomatis menyala kembali untuk melakukan pengisian, sehingga siklus konsumsi bahan bakar tetap terjadi," ujarnya.

Ia juga menyoroti perbedaan durabilitas sistem pendingin baterai antar merek. Teknologi baterai Toyota dinilai lebih ready available dan memiliki skema pendinginan yang efektif untuk jangka panjang. Sementara pada beberapa model Honda yang dipelajari di pasar luar negeri, sistem inverter membutuhkan perhatian ekstra agar tidak mengalami panas berlebih yang berisiko merusak komponen vital dalam jangka waktu pemakaian yang cukup lama.

Tantangan Perawatan dan Sisi Psikologis Kepemilikan

Selain performa, aspek maintenance menjadi poin krusial yang kerap luput dari perhatian pembeli yang terjebak tren (fomo). Pengguna mobil hybrid tetap harus rutin mengganti oli mesin, servis berkala transmisi, hingga melakukan perawatan kebersihan sistem pendingin baterai secara berkala setiap enam bulan sekali.

Lung-Lung juga mengingatkan pengguna untuk tidak melakukan modifikasi berlebihan pada sisi kelistrikan, seperti penambahan audio sistem yang terlalu berat atau pemasangan kulkas tambahan. Modifikasi yang tidak standar dapat memberikan beban arus berlebih pada baterai hybrid, yang jika terjadi kerusakan, memerlukan biaya penggantian yang tidak murah.

Rekomendasi Sebelum Memutuskan Membeli

Bagi calon pembeli, Lung-Lung menyarankan untuk menyesuaikan pemilihan kendaraan dengan peruntukan penggunaan. Jika kendaraan hanya digunakan untuk rute pendek rumah-kantor atau mengantar anak sekolah, mobil listrik murni (EV) atau hybrid memang sudah lebih dari cukup. Namun, bagi pengguna yang memiliki mobilitas tinggi ke luar kota atau sering melintasi medan sulit, mobil bermesin bakar konvensional (ICE) dinilai masih lebih praktis dan belum sepenuhnya bisa tergantikan.

"Jangan hanya karena ikut-ikutan orang, lalu membeli tanpa pertimbangan. Pastikan sesuai budget, sesuai peruntukan, dan Anda siap dengan konsekuensi perawatannya. Ingat, mobil listrik maupun hybrid pun tetap perlu servis rutin, bukan berarti bebas perawatan (maintenance-free) selamanya," tegasnya.

Pada akhirnya, keputusan untuk beralih ke teknologi hybrid tetap kembali pada kebutuhan mobilitas masing-masing individu. Sambil menunggu perkembangan infrastruktur pendukung, teknologi hybrid dinilai sebagai jalan tengah yang cukup moderat bagi masyarakat Indonesia yang masih membutuhkan kenyamanan mobilitas konvensional dengan sentuhan efisiensi elektrifikasi.

 

Editor : Cholifatun Nisak
#Dokter Mobil #Perawatan mobil hybrid #Efisiensi BBM #Tips beli mobil #mobil hybrid